{"id":66252,"date":"2026-07-02T17:49:51","date_gmt":"2026-07-02T17:49:51","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/02\/riset-temukan-inflamasi-jadi-ancaman-baru-di-balik-penyakit-jantung-dan-stroke\/"},"modified":"2026-07-02T17:49:51","modified_gmt":"2026-07-02T17:49:51","slug":"riset-temukan-inflamasi-jadi-ancaman-baru-di-balik-penyakit-jantung-dan-stroke","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/02\/riset-temukan-inflamasi-jadi-ancaman-baru-di-balik-penyakit-jantung-dan-stroke\/","title":{"rendered":"Riset Temukan Inflamasi Jadi Ancaman Baru di Balik Penyakit Jantung dan Stroke"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/02\/1783005116_da7d242285a42e87637f.jpeg\" alt=\"Riset Temukan Inflamasi Jadi Ancaman Baru di Balik Penyakit Jantung dan Stroke\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/penyakit-kardiovaskular\" title=\"Penyakit kardiovaskular\">Penyakit kardiovaskular<\/a> masih menjadi penyebab kematian terbesar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di balik pengendalian kolesterol, tekanan darah, dan gula darah, para peneliti kini menyoroti satu faktor yang kerap luput dari perhatian, yakni inflamasi kardiovaskular yang tetap dapat meningkatkan risiko serangan jantung, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/stroke\" title=\"stroke\">stroke<\/a>, hingga gagal jantung.<\/p>\n<p>Temuan itu terungkap dalam hasil terbaru studi Poseidon, penelitian real-world evidence berskala global yang dipresentasikan oleh Novo Nordisk pada Kongres ke-94 European Atherosclerosis Society (EAS) di Athena, Yunani.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Studi itu menunjukkan sekitar dua dari lima pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik (PKVA) dan penyakit ginjal kronis (CKD) masih mengalami inflamasi kardiovaskular meski menjalani terapi sesuai standar pengobatan saat ini. Analisis lain juga menemukan proporsi serupa pada pasien gagal jantung.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/719628\/kaum-mageran-hati-hati-kelamaan-duduk-tingkatkan-risiko-mati-muda\" title=\"Kaum Mageran Hati-Hati, Kelamaan Duduk Tingkatkan Risiko Mati Muda\" target=\"_blank\">Kaum Mageran Hati-Hati, Kelamaan Duduk Tingkatkan Risiko Mati Muda<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Inflamasi kardiovaskular merupakan peradangan yang terjadi pada pembuluh darah. Berbeda dengan peradangan akibat infeksi, kondisi ini umumnya tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular serius apabila berlangsung dalam waktu lama.\u00a0<\/p>\n<p>Temuan tersebut jadi perhatian mengingat <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/penyakit-jantung\" title=\"penyakit jantung\">penyakit jantung<\/a> dan stroke masih menjadi tantangan kesehatan utama di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, penyakit kardiovaskular berkontribusi terhadap sekitar 30% angka kematian nasional.<\/p>\n<p>Senior Vice President dan Chief Medical Officer Novo Nordisk Filip Knop mengatakan hasil studi tersebut memperlihatkan bahwa inflamasi merupakan faktor risiko yang tetap bertahan meski pasien mendapatkan terapi sesuai pedoman klinis.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/661255\/kematian-jantung-mendadak-teknologi-permudah-pengobatan-sindrom-braduga-atau-masalah-aritmia\" title=\"Kematian Jantung Mendadak: Teknologi Permudah Pengobatan Sindrom Braduga atau Masalah Aritmia\" target=\"_blank\">Kematian Jantung Mendadak: Teknologi Permudah Pengobatan Sindrom Braduga atau Masalah Aritmia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Studi Poseidon menyajikan bukti penting, inflamasi kardiovaskular merupakan sumber risiko signifikan dan tetap berlanjut pada pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik serta penyakit ginjal kronis atau gagal jantung, meski telah menerima terapi sesuai standar perawatan saat ini,&#8221; ujar Filip Knop, Rabu (1\/7\/2026).<\/p>\n<p>Menurutnya, pemahaman terhadap inflamasi kardiovaskular jadi landasan penting dalam pengembangan inovasi terapi untuk menjawab kebutuhan medis yang hingga kini masih belum terpenuhi.<\/p>\n<p>&#8220;Memahami cakupan risiko inflamasi kardiovaskular amat penting seiring berlanjutnya riset berbasis inovasi untuk mengembangkan terapi yang berpotensi menjawab kebutuhan medis yang belum terpenuhi,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Studi Poseidon melibatkan 18.904 pasien di 18 negara yang mencakup kawasan Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Asia Pasifik selama periode 2023 hingga 2025.<\/p>\n<p>Dalam penelitian itu, sebanyak 13.475 pasien didiagnosis menderita penyakit kardiovaskular aterosklerotik, dengan lebih dari 42% di antaranya juga mengalami penyakit ginjal kronis. Penelitian melibatkan lebih dari 11.800 pasien gagal jantung dari berbagai kategori berdasarkan fraksi ejeksi.<\/p>\n<p>Inflamasi diukur menggunakan pemeriksaan high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP), yaitu tes darah yang saat ini banyak digunakan untuk mendeteksi tingkat peradangan pada pembuluh darah.<\/p>\n<p>Senior Consultant Department of Cardiology National Heart Centre Singapore sekaligus Profesor pada Duke-NUS Medical School Carolyn S P Lam menilai hasil penelitian tersebut mengubah cara pandang terhadap pengelolaan risiko penyakit kardiovaskular.<\/p>\n<p>Menurutnya, inflamasi bukan lagi sekadar faktor pendukung, melainkan komponen utama yang memengaruhi risiko komplikasi pada jutaan pasien di seluruh dunia.<\/p>\n<p>&#8220;Temuan ini menunjukkan adanya peluang untuk mengidentifikasi pasien yang paling berpotensi memperoleh manfaat dari terapi yang secara langsung menargetkan inflamasi. Ini juga mengubah cara kita memandang risiko kardiovaskular residual dan menegaskan potensi terapi antiinflamasi yang sedang dikembangkan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Meningkatnya perhatian terhadap inflamasi juga tercermin dalam berbagai pedoman klinis internasional. Organisasi seperti European Society of Cardiology (ESC), American Heart Association (AHA), dan American College of Cardiology (ACC) kini memasukkan peningkatan kadar hsCRP sebagai salah satu biomarker untuk membantu menilai risiko kardiovaskular dan menentukan strategi pencegahan yang lebih optimal.<\/p>\n<p>Melalui hasil studi tersebut, Novo Nordisk menegaskan komitmennya untuk terus mendorong riset dan inovasi dalam penanganan penyakit kronis, termasuk penyakit kardiometabolik seperti diabetes, obesitas, dan penyakit kardiovaskular. Upaya ini diharapkan dapat menghasilkan pendekatan terapi lebih komprehensif sehingga semakin banyak pasien memperoleh penanganan yang tepat dan mampu menekan risiko komplikasi di masa depan. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/906926\/riset-temukan-inflamasi-jadi-ancaman-baru-di-balik-penyakit-jantung-dan-stroke\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Istimewa) Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di balik pengendalian kolesterol, tekanan darah, dan gula darah, para peneliti kini menyoroti satu faktor yang kerap luput dari perhatian, yakni inflamasi kardiovaskular yang tetap dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, hingga gagal jantung. Temuan itu terungkap dalam hasil terbaru studi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":66253,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-66252","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66252","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66252"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66252\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66253"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66252"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66252"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66252"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}