{"id":66116,"date":"2026-07-02T11:55:49","date_gmt":"2026-07-02T11:55:49","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/02\/kemiskinan-yang-dipelihara-mengapa-orang-miskin-sulit-keluar-dari-garis-kemiskinan\/"},"modified":"2026-07-02T11:55:49","modified_gmt":"2026-07-02T11:55:49","slug":"kemiskinan-yang-dipelihara-mengapa-orang-miskin-sulit-keluar-dari-garis-kemiskinan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/02\/kemiskinan-yang-dipelihara-mengapa-orang-miskin-sulit-keluar-dari-garis-kemiskinan\/","title":{"rendered":"Kemiskinan yang Dipelihara Mengapa Orang Miskin Sulit Keluar dari Garis Kemiskinan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/02\/1782992986_6e8daf67b2786fc63fcf.png\" alt=\"Kemiskinan yang Dipelihara: Mengapa Orang Miskin Sulit Keluar dari Garis Kemiskinan?\"\/><figcaption>Febriyanti Simamora(DOK PRIBADI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p dir=\"ltr\" id=\"docs-internal-guid-67b88f6e-7fff-b073-1d80-522430ec1209\">SETIAP kali angka <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kemiskinan\" title=\"kemiskinan\">kemiskinan<\/a> nasional diumumkan mengalami penurunan, publik seolah diajak percaya bahwa keadaan sedang membaik. Grafik bergerak turun, persentase terlihat lebih kecil, dan berbagai capaian pembangunan dipamerkan sebagai bukti keberhasilan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Namun, ketika berjalan menyusuri lorong-lorong permukiman padat, melihat pedagang yang berjualan sejak subuh hingga malam, atau berbincang dengan buruh harian yang hidup dari upah hari ini untuk makan esok hari, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: jika ekonomi terus tumbuh, mengapa begitu banyak orang tetap miskin?<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Fenomena ini bukan cerita baru. Ia hadir di hampir setiap daerah, dari kota besar hingga pelosok desa. Banyak keluarga yang hidup dalam kondisi ekonomi terbatas selama puluhan tahun tanpa mengalami perubahan berarti. Orangtua mereka miskin, mereka tumbuh dalam kemiskinan, lalu anak-anak mereka berisiko menjalani kehidupan yang sama.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/904790\/integrasi-filantropi-islam-kunci-entaskan-masyarakat-dari-kemiskinan\" title=\"Integrasi Filantropi Islam Kunci Entaskan Masyarakat dari Kemiskinan\" target=\"_blank\">Integrasi Filantropi Islam Kunci Entaskan Masyarakat dari Kemiskinan<\/a><\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kemiskinan tidak lagi sekadar menjadi kondisi sementara, melainkan berubah menjadi warisan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pandangan yang menyebut kemiskinan terjadi karena malas bekerja sebenarnya terlalu sederhana dan sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Kelompok masyarakat miskin justru termasuk yang paling keras bekerja.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pedagang kaki lima harus bangun ketika sebagian besar orang masih terlelap. Buruh angkut mengandalkan tenaga fisik sepanjang hari. Pekerja informal harus terus mencari pelanggan agar dapat membawa uang pulang.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/903540\/prabowo-kritik-anomali-ekonomi-tumbuh-5-persen-tapi-kemiskinan-bertambah\" title=\"Prabowo Kritik Anomali Ekonomi: Tumbuh 5 Persen, tapi Kemiskinan Bertambah\" target=\"_blank\">Prabowo Kritik Anomali Ekonomi: Tumbuh 5 Persen, tapi Kemiskinan Bertambah<\/a><\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Mereka bekerja lebih lama, lebih berat, dan sering kali tanpa jaminan apa pun. Ironisnya, kerja keras tersebut tidak otomatis membawa mereka keluar dari kesulitan ekonomi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Masalah utamanya terletak pada kenyataan bahwa kemiskinan bukan sekadar kekurangan uang, melainkan kekurangan kesempatan. Banyak orang miskin bekerja untuk bertahan hidup, bukan untuk berkembang. Seluruh pendapatan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar seperti makan, transportasi, listrik, dan biaya sekolah anak.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Tidak ada sisa yang cukup untuk ditabung, apalagi diinvestasikan. Ketika seseorang hidup dalam kondisi seperti itu selama bertahun-tahun, peluang memperbaiki nasib menjadi semakin sempit.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Fenomena ini terlihat jelas pada banyak <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/keluarga-berpenghasilan-rendah\" title=\"keluarga berpenghasilan rendah\">keluarga berpenghasilan rendah<\/a>. Saat penghasilan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, satu kejadian kecil saja dapat menghancurkan kestabilan ekonomi keluarga. Anak sakit, motor rusak, harga sembako naik, atau pekerjaan berkurang selama beberapa hari dapat langsung menciptakan krisis.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Mereka tidak memiliki dana darurat, tidak memiliki aset yang bisa diandalkan, dan sering kali terpaksa berutang demi bertahan hidup. Akibatnya, sebagian besar energi mereka habis untuk menyelesaikan masalah hari ini, bukan mempersiapkan masa depan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Persoalan lain yang memperkuat lingkaran kemiskinan adalah kualitas pendidikan yang belum merata. Banyak anak dari keluarga miskin memang dapat bersekolah, tetapi tidak semua memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ada yang harus membantu orang tua bekerja sepulang sekolah. Ada yang kesulitan membeli buku, mengikuti les tambahan, atau mengakses teknologi yang kini menjadi kebutuhan belajar.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ketika memasuki dunia kerja, mereka akhirnya bersaing dengan keterampilan yang terbatas dan hanya mampu mengisi sektor pekerjaan berupah rendah. Siklus yang sama kemudian terulang kembali.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Yang lebih menyedihkan, pendidikan yang seharusnya menjadi tangga mobilitas sosial sering kali berubah menjadi cermin ketimpangan. Anak dari keluarga berada memperoleh akses terhadap sekolah terbaik, kursus, pelatihan, dan jaringan sosial yang luas. Sementara itu, anak dari keluarga miskin harus berjuang lebih keras hanya untuk mencapai garis <em>start<\/em> yang sama.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kompetisi yang tampak adil di atas kertas sesungguhnya berlangsung dalam arena yang tidak seimbang sejak awal. Belum selesai dengan pendidikan, masyarakat miskin juga menghadapi tantangan besar di sektor pekerjaan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti terciptanya pekerjaan yang layak. Banyak lapangan kerja yang tersedia justru berada di sektor informal dengan pendapatan rendah, tanpa kontrak yang jelas, tanpa jaminan kesehatan, dan tanpa perlindungan ketika terjadi pemutusan hubungan kerja. Mereka bekerja setiap hari, tetapi tetap hidup dalam ketidakpastian.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Fenomena ini menciptakan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/paradoks-bekerja-tapi-miskin\" title=\"paradoks bekerja tapi miskin\">paradoks bekerja tapi miskin<\/a> yang sering luput dari perhatian. Seseorang bisa bekerja penuh waktu, bahkan melebihi delapan jam sehari, tetapi tetap berada dalam kategori miskin.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dengan kata lain, masalah yang dihadapi bukan lagi sekadar kurangnya pekerjaan, melainkan rendahnya kualitas pekerjaan yang tersedia. Selama upah tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup, selama produktivitas tidak dibarengi peningkatan kesejahteraan, maka kemiskinan akan terus bertahan meskipun roda ekonomi terus berputar.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kesehatan juga menjadi faktor yang sering menghancurkan harapan keluarga miskin. Bagi kelompok ekonomi atas, sakit mungkin hanya berarti beristirahat beberapa hari. Bagi keluarga miskin, sakit dapat menjadi awal dari kemunduran ekonomi yang panjang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ketika pencari nafkah utama tidak mampu bekerja, pendapatan berhenti mengalir. Pada saat yang sama, biaya pengobatan justru meningkat. Tidak sedikit keluarga yang terpaksa menjual aset, meminjam uang, atau menunggak berbagai kebutuhan demi membiayai pengobatan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Akar persoalan lainnya terletak pada ketimpangan kepemilikan aset dan modal. Kelompok masyarakat yang memiliki modal dapat terus mengembangkan kekayaannya melalui investasi, usaha, atau kepemilikan properti.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sementara itu, kelompok miskin sering kali tidak memiliki apa pun selain tenaga kerja yang mereka jual setiap hari. Ketika ekonomi tumbuh, keuntungan terbesar cenderung dinikmati oleh mereka yang telah memiliki aset sejak awal. Akibatnya, kesenjangan semakin melebar dan mobilitas sosial menjadi semakin sulit.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Fenomena itu menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi tidak selalu dirasakan secara merata. Kue pembangunan memang bertambah besar, tetapi pembagiannya belum tentu lebih adil. Sebagian masyarakat menikmati peningkatan pendapatan yang signifikan, sementara sebagian lainnya hanya menyaksikan kenaikan harga kebutuhan pokok tanpa merasakan peningkatan kesejahteraan yang setara.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Realitas tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan bukanlah kegagalan individu semata. Kemiskinan adalah hasil dari berbagai hambatan yang saling terhubung dan saling memperkuat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pendidikan yang terbatas menghasilkan pekerjaan berupah rendah. Pekerjaan berupah rendah membatasi akses terhadap kesehatan dan modal. Keterbatasan modal menghambat peningkatan pendapatan. Pada akhirnya, lingkaran itu kembali menghasilkan kemiskinan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Karena itu, pertanyaan mengapa masyarakat miskin tetap miskin seharusnya tidak dijawab dengan tuduhan bahwa mereka kurang bekerja keras. Pertanyaan yang lebih tepat adalah mengapa begitu banyak orang harus bekerja sangat keras hanya untuk bertahan hidup.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Selama akses terhadap pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi masih timpang, kemiskinan akan terus menemukan cara untuk bertahan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kemiskinan bukan sekadar angka dalam laporan statistik. Ia adalah cerita tentang keluarga yang terus menghitung pengeluaran sebelum membeli kebutuhan pokok, tentang anak yang terpaksa mengubur cita-cita karena keadaan ekonomi, dan tentang pekerja yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja tanpa pernah benar-benar merasakan hasil pembangunan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jika kondisi ini terus dibiarkan, kemiskinan tidak akan hilang. Ia hanya berganti wajah, berpindah generasi, dan terus hidup dalam sistem yang belum sepenuhnya memberi kesempatan yang sama bagi semua orang.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/forum-mahasiswa\/906810\/kemiskinan-yang-dipelihara-mengapa-orang-miskin-sulit-keluar-dari-garis-kemiskinan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Febriyanti Simamora(DOK PRIBADI) SETIAP kali angka kemiskinan nasional diumumkan mengalami penurunan, publik seolah diajak percaya bahwa keadaan sedang membaik. Grafik bergerak turun, persentase terlihat lebih kecil, dan berbagai capaian pembangunan dipamerkan sebagai bukti keberhasilan. Namun, ketika berjalan menyusuri lorong-lorong permukiman padat, melihat pedagang yang berjualan sejak subuh hingga malam, atau berbincang dengan buruh harian yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":66117,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-66116","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66116","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66116"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66116\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66117"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}