{"id":65920,"date":"2026-07-02T03:34:38","date_gmt":"2026-07-02T03:34:38","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/02\/dampak-buruk-victim-blaming-bagi-korban-kekerasan-menurut-psikolog\/"},"modified":"2026-07-02T03:34:38","modified_gmt":"2026-07-02T03:34:38","slug":"dampak-buruk-victim-blaming-bagi-korban-kekerasan-menurut-psikolog","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/02\/dampak-buruk-victim-blaming-bagi-korban-kekerasan-menurut-psikolog\/","title":{"rendered":"Dampak Buruk Victim Blaming bagi Korban Kekerasan Menurut Psikolog"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/02\/1782962971_c6a880eaaadb1cc258b1.jpg\" alt=\"Dampak Buruk Victim Blaming bagi Korban Kekerasan Menurut Psikolog\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PERILAKU menyalahkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/korban\" title=\"korban\">korban<\/a> atau <i><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/victim-blaming\" title=\"victim blaming\">victim blaming<\/a><\/i> dalam kasus <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kekerasan\" title=\"kekerasan\">kekerasan<\/a> menjadi sorotan serius bagi para praktisi kesehatan mental. Psikolog Samanta Clara Elsener, S.Psi, M.Psi, menegaskan bahwa sikap tersebut tidak hanya menyakitkan, tetapi secara nyata dapat memperpanjang <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/trauma\" title=\"trauma\">trauma<\/a> yang dialami korban.<\/p>\n<p>Menurut Samanta, dalam praktik <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/psikologi\" title=\"psikologi\">psikologi<\/a>, respons lingkungan yang suportif merupakan salah satu faktor kunci dalam proses pemulihan trauma. Sebaliknya, penghakiman dari masyarakat justru menjadi penghambat utama penyembuhan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201c<i>Victim blaming<\/i> justru dapat memperpanjang trauma dan menghambat proses penyembuhan,\u201d ujar Samanta yang juga merupakan pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Rabu (2\/7).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/906360\/ini-faktor-faktor-pemicu-perilaku-menyalahkan-korban-kekerasan-menurut-psikolog\" title=\"Ini Faktor-Faktor Pemicu Perilaku Menyalahkan Korban Kekerasan Menurut Psikolog\" target=\"_blank\">Ini Faktor-Faktor Pemicu Perilaku Menyalahkan Korban Kekerasan Menurut Psikolog<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Mengapa Masyarakat Cenderung Menyalahkan Korban?<\/h3>\n<p>Samanta menjelaskan ada beberapa alasan psikologis mengapa fenomena ini kerap terjadi di masyarakat. Salah satunya adalah keyakinan bahwa dunia itu adil (<i>just-world hypothesis<\/i>), dengan orang cenderung mencari kesalahan korban agar mereka merasa dirinya aman dan percaya hal serupa tidak akan menimpa mereka.<\/p>\n<p>Selain itu, rendahnya literasi mengenai dampak psikologis kekerasan serta kecenderungan melihat peristiwa dari sudut pandang informasi yang terbatas turut memperparah keadaan. Padahal, di balik sebuah kasus, korban sering kali menghadapi ancaman, manipulasi, dan kontrol ketat setiap harinya.<\/p>\n<div style=\"background-color: #f9f9f9; padding: 15px; border-left: 5px solid #ccc; margin: 20px 0;\"><strong>Faktor Penyebab Sulitnya Korban Keluar dari Lingkaran Kekerasan:<\/strong><\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin-top: 10px;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #eee;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Metode Kontrol Pelaku<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Dampak pada Korban<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Intimidasi &amp; Ancaman<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Ketakutan ekstrem dan kelumpuhan keputusan.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Isolasi Sosial<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Kehilangan sistem pendukung (support system).<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Manipulasi Emosional<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Merasa bersalah dan bergantung sepenuhnya pada pelaku.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Kontrol Psikologis<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Kemampuan berpikir jernih dan menilai risiko terganggu.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<\/div>\n<h3>Luka di Atas Luka<\/h3>\n<p>Komentar seperti \u201ckalau saya jadi korban pasti sudah kabur\u201d dinilai sangat menyakitkan. Samanta menyebutkan bahwa penyintas tidak hanya membawa luka fisik atau mental akibat kekerasan, tetapi juga beban rasa bersalah karena dianggap bertanggung jawab atas nasibnya sendiri.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/867054\/mekanisme-otak-saat-emosi-jadi-kekerasan-penjelasan-psikolog-ugm\" title=\"Mekanisme Otak saat Emosi jadi Kekerasan: Penjelasan Psikolog UGM\" target=\"_blank\">Mekanisme Otak saat Emosi jadi Kekerasan: Penjelasan Psikolog UGM<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cAkibatnya, penyintas dapat semakin malu, kehilangan kepercayaan diri, enggan mencari bantuan, bahkan memilih diam karena takut kembali dihakimi,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Ia menekankan bahwa sulitnya korban melarikan diri adalah bentuk mekanisme bertahan hidup (<i>survival system<\/i>) dalam kondisi trauma ekstrem, bukan karena mereka tidak ingin selamat.<\/p>\n<h3>Pentingnya Empati dan Ruang Aman<\/h3>\n<p>Samanta mengajak masyarakat untuk lebih berempati. Berempati bukan berarti mengabaikan proses hukum atau asas praduga tak bersalah, melainkan mengakui bahwa setiap orang yang diduga menjadi korban berhak diperlakukan dengan hormat dan didengar tanpa dihakimi.<\/p>\n<p>Sebelum berkomentar, terutama di media sosial, masyarakat diminta mempertimbangkan apakah opini yang disampaikan akan membantu atau justru memperburuk luka korban. Penilaian sebaiknya tidak didasarkan pada asumsi pribadi atau informasi yang sepotong-sepotong.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang paling cepat menghakimi, melainkan masyarakat yang mampu menghadirkan rasa aman bagi korban untuk berbicara dan mendapatkan pertolongan,\u201d pungkasnya. (Ant\/Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/906601\/dampak-buruk-victim-blaming-bagi-korban-kekerasan-menurut-psikolog\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) PERILAKU menyalahkan korban atau victim blaming dalam kasus kekerasan menjadi sorotan serius bagi para praktisi kesehatan mental. Psikolog Samanta Clara Elsener, S.Psi, M.Psi, menegaskan bahwa sikap tersebut tidak hanya menyakitkan, tetapi secara nyata dapat memperpanjang trauma yang dialami korban. Menurut Samanta, dalam praktik psikologi, respons lingkungan yang suportif merupakan salah satu faktor kunci dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":65921,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-65920","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65920","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65920"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65920\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/65921"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65920"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65920"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65920"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}