{"id":65821,"date":"2026-07-01T22:09:06","date_gmt":"2026-07-01T22:09:06","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/01\/pendidikan-ramah-lingkungan\/"},"modified":"2026-07-01T22:09:06","modified_gmt":"2026-07-01T22:09:06","slug":"pendidikan-ramah-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/01\/pendidikan-ramah-lingkungan\/","title":{"rendered":"Pendidikan Ramah Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/02\/1782937789_35e042fc8fe599385478.jpg\" alt=\"Pendidikan Ramah Lingkungan\"\/><figcaption>(MI\/Seno)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DALAM beberapa kesempatan mendampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu\u2019ti tatkala menerima tamu dari instansi pemerintah dan swasta, saya menangkap ada begitu banyak harapan terhadap dunia pendidikan. Mereka yang datang mengharapkan lembaga pendidikan, khususnya tingkat dasar dan menengah, mampu melahirkan lulusan tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, mencintai tanah air, pejuang antikorupsi, tertib berlalu lintas, bebas dari narkoba, serta berbudaya hidup bersih dan sehat.<\/p>\n<p>Mereka tidak hanya datang dengan harapan, tetapi juga membawa buku suplemen atau modul pembelajaran berisikan aneka materi. Di antara buku suplemen yang menarik ialah buku tentang mewujudkan lingkungan hidup bersih dan sehat di sekolah. Materi itu sejalan dengan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mewujudkan sekolah sebagai &#8216;rumah kedua&#8217; yang aman dan nyaman. Bahkan, untuk mendukung program itu telah ditetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/883334\/kolaborasi-lintas-sektor-jadi-kunci-percepat-transisi-ekonomi-hijau-di-asean\" title=\"Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Percepat Transisi Ekonomi Hijau di ASEAN\" target=\"_blank\">Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Percepat Transisi Ekonomi Hijau di ASEAN<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>CLEAN, GREEN, AND HYGIENE<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai bagian dari ekosistem sekolah berbudaya aman dan nyaman, satuan pendidikan di setiap level penting mengembangkan materi <em>clean, green, and hygiene<\/em> (CGH). Materi CGH relevan untuk menanamkan kesadaran warga sekolah mengenai pentingnya merawat lingkungan. Dengan menjadikan lingkungan bersih, hijau, dan sehat, berarti lembaga pendidikan turut mengatasi problem pemanasan global (<em>global warming<\/em>). Pemanasan global terjadi karena peningkatan suhu rata-rata atmosfer, bumi, dan lautan akibat aktivitas manusia yang memicu efek rumah kaca. Dampaknya, terjadi perubahan iklim dan terganggunya ekosistem global sehingga mengancam kesehatan manusia.<\/p>\n<p>Persoalannya, sekolah umumnya tidak memiliki lahan yang cukup. Anak-anak pun sulit menemukan ruang terbuka untuk bercengkerama dan bermain. Akibatnya, mereka merasa jenuh jika berlama-lama di sekolah. Apalagi jika kondisi lingkungan sekolah tidak bersih dan sehat. Karena itulah, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pendidikan-cgh\" title=\"Pendidikan CGH\">pendidikan CGH<\/a> mutlak diperlukan. Menjadikan sekolah berwawasan lingkungan dapat ditempuh dengan cara mudah. Salah satunya melalui pengadaan tanaman yang ditempatkan di teras depan kelas. Meski terkesan sederhana, banyak sekolah belum melakukan. Padahal cara itu dapat menyebabkan udara terasa segar dan lingkungan menjadi hijau.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/882924\/membaca-20-prohibitions-tiongkok-dalam-cermin-konstitusi-indonesia\" title=\"Membaca 20 Prohibitions Tiongkok dalam Cermin Konstitusi Indonesia\" target=\"_blank\">Membaca 20 Prohibitions Tiongkok dalam Cermin Konstitusi Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Pendidikan CGH tidak harus dipahami sebagai mata pelajaran mandiri. Hal itu disebabkan struktur materi dalam kurikulum nasional sudah gemuk. Alternatifnya, materi CGH dapat disisipkan (<em>inserting<\/em>) pada mata pelajaran relevan. Yang dibutuhkan ialah buku suplemen atau modul pembelajaran CGH. Materi CGH juga dapat diajarkan secara autentik seperti guru membawa masuk tempat sampah yang sudah ditulisi sampah kering dan sampah basah atau sampah organik dan sampah anorganik. Guru cukup menjelaskan secara singkat jenis sampah. Selanjutnya, anak-anak diajak untuk berburu sampah dan memasukkannya di tempat sampah sesuai dengan jenisnya.<\/p>\n<p>Melalui pembelajaran autentik, materi pendidikan berwawasan lingkungan tidak mesti diajarkan di kelas. Anak-anak dapat diajak berkeliling untuk mengamati problem lingkungan yang terjadi di sekolah dan sekitarnya. Menurut Jean Piaget dan Lev Vygotsky, model pembelajaran itu dinamakan berparadigma konstruktivisme. Melalui metode itu anak-anak memperoleh pengalaman nyata, yakni mengamati lingkungan, menemukan problem yang dihadapi, dan terlibat aktif merumuskan solusi. Anak-anak akan menemukan alternatif jawaban dari hasil kerja sama dengan temannya.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>PEMBELAJARAN MENGGEMBIRAKAN<\/strong><\/p>\n<p>Di antara pilar penting pendekatan pembelajaran mendalam (<em>deep learning<\/em>) adalah <em>joyful learning<\/em> (pembelajaran yang menggembirakan). Pembelajaran materi CGH dengan mengajak anak-anak berburu sampah merupakan salah satu praktik <em>joyful learning<\/em>. Pasti banyak kejadian menarik yang ditemukan selama proses pembelajaran materi CGH. Jika ditemukan puntung rokok, misalnya, warga sekolah saling menanya mengapa masih ada budaya merokok di area pendidikan.<\/p>\n<p>Padahal sekolah termasuk zona yang harus terbebas dari rokok. Demikian juga ketika ditemukan sampah berserakan, warga sekolah dapat saling mengingatkan. Jika pembelajaran materi CGH dilakukan dengan benar dan menggembirakan, pasti dapat membangun budaya hidup bersih, hijau, dan sehat. Pembelajaran materi CGH juga dapat dilakukan melalui kegiatan ekstra, seperti keterampilan memanfaatkan sampah sebagai bahan dasar. Sebagai fasilitator, guru dapat menjelaskan bahwa jenis sampah kering berupa plastik dan kertas termasuk yang sulit dihancurkan.<\/p>\n<p>Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah memanfaatkan plastik dan kertas sebagai bahan berbagai jenis keterampilan. Untuk sampah basah anak dapat belajar membuat kompos yang bermanfaat bagi tanaman. Mendikdasmen Abdul Mu\u2019ti menyatakan bahwa melalui pendekatan pembelajaran mendalam, misalnya tentang pemanfaatan sampah, setiap guru dapat mengajari murid untuk mengatasi problem sampah dengan <em>reduce<\/em> (mengurangi), <em>reuse<\/em> (menggunakan kembali), <em>recycle<\/em> (mendaur ulang), dan <em>reproduce<\/em> (memproduksi kembali).<\/p>\n<p>Kegiatan ekstra di bidang kesehatan juga dapat dijadikan media pembelajaran materi CGH melalui gerakan cuci tangan pakai sabun (CTPS). Budaya CTPS penting ditanamkan sejak dini. Anak-anak perlu diyakinkan bahwa mencuci tangan saja tidak cukup. Karena itu, mencuci tangan harus menggunakan sabun agar lebih bersih. Melalui pembelajaran itu anak memperoleh pengalaman cara yang benar dan waktu yang penting untuk CTPS. Waktu yang penting untuk CTPS ialah sebelum makan, setelah buang air besar, sebelum memegang bayi, sebelum menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan.<\/p>\n<p>Budaya CPTS memang tampak sepele, padahal banyak manfaat yang diperoleh. Salah satunya ialah dapat menghindarkan diri dari ancaman penyakit diare. Menurut data lembaga kesehatan dunia WHO, diare merupakan penyebab nomor satu kematian balita. Diare juga menjadi penyebab kematian balita nomor dua di Indonesia setelah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Bahkan, lembaga dunia yang mengurusi pendidikan anak, Unicef, memperkirakan bahwa setiap 30 detik ada anak yang meninggal dunia karena diare. Kementerian Kesehatan RI juga memberitakan bahwa setiap tahun ada 100 ribu anak meninggal karena diare.<\/p>\n<p>Beberapa data tersebut merupakan peringatan keras mengenai pentingnya budaya hidup bersih dan sehat. Karena itulah pendidikan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ramah-lingkungan\" title=\"Ramah Lingkungan\">ramah lingkungan<\/a> perlu ditanamkan sejak dini melalui pembiasaan hidup yang bersih dan sehat pada anak-anak. Dari mereka itulah kita berharap muncul kader-kader lingkungan hidup pada masa mendatang. Bukankah agama juga mengajarkan bahwa kebersihan merupakan bagian dari keimanan? Ironinya, banyak sekolah berbasis keagamaan justru kurang mampu menjaga kebersihan sekaligus merawat lingkungan.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/906544\/pendidikan-ramah-lingkungan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(MI\/Seno) DALAM beberapa kesempatan mendampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu\u2019ti tatkala menerima tamu dari instansi pemerintah dan swasta, saya menangkap ada begitu banyak harapan terhadap dunia pendidikan. Mereka yang datang mengharapkan lembaga pendidikan, khususnya tingkat dasar dan menengah, mampu melahirkan lulusan tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, mencintai tanah air, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":65822,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-65821","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65821","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65821"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65821\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/65822"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65821"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65821"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65821"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}