{"id":64968,"date":"2026-06-30T08:47:37","date_gmt":"2026-06-30T08:47:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/30\/upj-dan-university-of-greenwich-kembangkan-model-pendidikan-masa-depan-berbasis-sustainable-urban-living\/"},"modified":"2026-06-30T08:47:37","modified_gmt":"2026-06-30T08:47:37","slug":"upj-dan-university-of-greenwich-kembangkan-model-pendidikan-masa-depan-berbasis-sustainable-urban-living","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/30\/upj-dan-university-of-greenwich-kembangkan-model-pendidikan-masa-depan-berbasis-sustainable-urban-living\/","title":{"rendered":"UPJ dan University of Greenwich Kembangkan Model Pendidikan Masa Depan Berbasis Sustainable Urban Living"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/30\/1782807132_31bc869e23e421ca3cd8.jpeg\" alt=\"UPJ dan University of Greenwich Kembangkan Model Pendidikan Masa Depan Berbasis Sustainable Urban Living \"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok UPJ)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>BAGAIMANA perguruan tinggi mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang dipengaruhi oleh kecerdasan buatan <em>(Artificial Intelligenc<\/em>e\/AI),\u00a0perubahan iklim, urbanisasi, dan kebutuhan industri yang terus berkembang? Pertanyaan tersebut menjadi perhatian banyak universitas di dunia, termasuk <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/university-of-greenwich\" title=\"University of Greenwich\">University of Greenwich<\/a> di Inggris dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/universitas-pembangunan-jaya\" title=\"Universitas Pembangunan Jaya\">Universitas Pembangunan Jaya<\/a> (UPJ) di Indonesia. Untuk membahas isu tersebut, UPJ\u00a0mewawancarai Dr. Nnedinma Umeokafor mengenai tantangan dan arah pengembangan pendidikan tinggi di masa depan.\u00a0<\/p>\n<p>Melalui dukungan British Council dalam program Going Global Partnerships Transnational Education (TNE) Exploratory Grant, UPJ dan University of Greenwich mengembangkan program APSTONE-Hub: Co-Creating a Capstone Partnership for Sustainable Built Environments.\u00a0Program ini menjadi upaya bersama untuk merancang model pembelajaran internasional yang lebih kolaboratif, berbasis proyek, dan berorientasi pada penyelesaian berbagai tantangan nyata di\u00a0kawasan perkotaan.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Curriculum Co-Design and Online Capacity Development Hub yang berlangsung pada 24 hingga 26 Juni 2026 di Universitas Pembangunan Jaya. Kegiatan ini mempertemukan akademisi dari University of Greenwich dan UPJ, tim British Council, perwakilan industri dari ekosistem Pembangunan Jaya Group, serta berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengembangkan kurikulum, memperkuat kapasitas\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\ndosen, dan membangun model pendidikan transnasional yang adaptif terhadap kebutuhan masa depan.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/902251\/gandeng-industri-kampus-ini-perkuat-model-pembelajaran-living-laboratory\" title=\"Gandeng Industri, Kampus Ini Perkuat Model Pembelajaran Living Laboratory\" target=\"_blank\">Gandeng Industri, Kampus Ini Perkuat Model Pembelajaran Living Laboratory<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Dr. Nnedinma Umeokafor, Associate Professor bidang Project and Safety Innovations di University of Greenwich, menjelaskan bahwa pendidikan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade lalu. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya menguasai teori.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Di banyak negara, tantangan yang kami hadapi adalah lulusan memahami teori, tetapi belum siap memenuhi kebutuhan industri. Mereka harus mampu bekerja lintas disiplin, menyelesaikan persoalan nyata, dan beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat,&#8221;\u00a0ujarnya.\u00a0<\/p>\n<p>Menurut Nnedinma, perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, dan urbanisasi menuntut perguruan tinggi mengubah pendekatan pembelajarannya. Mahasiswa perlu memperoleh pengalaman belajar yang memungkinkan mereka menerapkan ilmu secara langsung melalui proyek nyata bersama industri, pemerintah, maupun masyarakat.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/899540\/perkuat-literasi-dan-kompetensi-keamanan-siber-generasi-muda-lewat-program-internasional\" title=\"Perkuat Literasi dan Kompetensi Keamanan Siber Generasi Muda Lewat Program Internasional\" target=\"_blank\">Perkuat Literasi dan Kompetensi Keamanan Siber Generasi Muda Lewat Program Internasional<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Karena itu, pembelajaran berbasis proyek atau <em>project-based learning<\/em> menjadi salah satu pendekatan yang semakin banyak diterapkan oleh perguruan tinggi di berbagai negara. Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan teori dengan praktik\u00a0sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan pemecahan masalah.\u00a0<\/p>\n<p>Program CAPSTONE-Hub mengadopsi pendekatan tersebut melalui pengembangan mata kuliah Capstone bertema Sustainable Urban Living. Mata kuliah ini dirancang agar mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu bekerja sama menyelesaikan berbagai persoalan perkotaan dengan\u00a0melibatkan mitra industri dan masyarakat sebagai bagian dari proses pembelajaran.\u00a0<\/p>\n<p>Bagi Nnedinma, arah pengembangan yang dilakukan UPJ sangat sejalan dengan tren pendidikan tinggi global. &#8220;Perguruan tinggi di berbagai negara mulai beralih menuju pembelajaran berbasis tantangan,\u00a0mengintegrasikan Sustainable Development Goals (SDGs) ke dalam kurikulum, serta memperkuat kolaborasi dengan industri. UPJ telah menerapkan ketiga aspek tersebut. Menurut saya, UPJ tidak\u00a0hanya mengikuti tren global, tetapi memiliki posisi yang sangat kuat untuk menjadi pemimpin di tingkat regional dalam bidang ini,&#8221; katanya.\u00a0<\/p>\n<p>Salah satu kekuatan yang mendapat perhatian adalah identitas UPJ sebagai kampus urban yang berfokus pada Sustainable Urban Living. Fokus tersebut diperkuat melalui kolaborasi yang erat dengan Pembangunan Jaya Group sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman belajar melalui berbagai proyek nyata yang terhubung dengan dunia industri.\u00a0<\/p>\n<p>Menurut Nnedinma, keunggulan tersebut menjadi modal penting dalam mengembangkan konsep <em><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/living-laboratory\" title=\"living laboratory\">living laboratory<\/a>,<\/em> yaitu pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai laboratorium hidup.\u00a0&#8220;Universitas seperti UPJ memiliki keunggulan karena berada di kawasan perkotaan yang berkembang sangat pesat. Kota dapat menjadi ruang belajar tempat mahasiswa bekerja bersama masyarakat, industri, dan pemerintah untuk menyelesaikan tantangan yang benar-benar terjadi,&#8221;\u00a0jelasnya.\u00a0<\/p>\n<p>Pendekatan living laboratory memungkinkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat berjalan secara terintegrasi. Mahasiswa tidak lagi belajar melalui studi kasus hipotetik, tetapi berkontribusi secara langsung dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.\u00a0<\/p>\n<p>Workshop CAPSTONE-Hub menjadi ruang kolaborasi untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kurikulum. Selama tiga hari, peserta bersama-sama menyusun rancangan mata kuliah Capstone yang mencakup capaian pembelajaran, model supervisi lintas negara, strategi penilaian,\u00a0proyek berbasis industri, hingga mekanisme penjaminan mutu pendidikan transnasional.\u00a0<\/p>\n<p>Selain itu, tim juga mengembangkan konsep Online Capacity Development Hub, yang akan menjadi pusat pengembangan kompetensi dosen melalui materi digital, sesi pendampingan, panduan pembelajaran kolaboratif, serta berbagai sumber belajar terkait pendidikan transnasional.\u00a0Menurut Nnedinma, pendekatan co-creation yang diterapkan dalam CAPSTONE-Hub menjadi pembeda utama dibandingkan kolaborasi akademik konvensional.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Co-creation melibatkan akademisi, mahasiswa, industri, dan pembuat kebijakan sejak tahap perancangan. Ketika semua pihak ikut mengembangkan solusi sejak awal, hasilnya menjadi lebih\u00a0relevan, lebih mudah diterapkan, dan menciptakan rasa memiliki bersama,&#8221; ujarnya.\u00a0<\/p>\n<p>Ia meyakini pendekatan tersebut mampu menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan kebutuhan industri, tantangan yang selama ini dihadapi oleh banyak negara.\u00a0<\/p>\n<p>Selama bekerja sama dengan UPJ, Nnedinma juga melihat sejumlah kekuatan yang menjadi fondasi penting bagi pengembangan pendidikan bertaraf internasional. Ia menyoroti identitas institusi yang jelas dalam bidang Sustainable Urban Living, integrasi yang kuat dengan industri melalui Pembangunan Jaya Group, tingginya komitmen sivitas akademika, budaya kolaborasi yang terbuka terhadap inovasi, serta semakin berkembangnya pembelajaran lintas disiplin.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Saya telah bekerja sama dengan banyak universitas di berbagai negara. Di UPJ saya melihat semangat kolaborasi yang terus terjaga, keterbukaan terhadap ide-ide baru, dan komitmen yang kuat dari para dosen. Menurut saya, budaya seperti ini merupakan modal yang sangat berharga,&#8221; ungkapnya.\u00a0<\/p>\n<p>Rektor Universitas Pembangunan Jaya sekaligus Ketua Program CAPSTONE-Hub di UPJ, Prof. Elisabeth Rukmini, Ph.D., mengatakan bahwa kolaborasi bersama University of Greenwich dan dukungan dari British Council merupakan langkah strategis dalam memperkuat kualitas\u00a0pendidikan internasasional di UPJ.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Program ini membuka peluang bagi dosen dan mahasiswa untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kolaboratif, berbasis proyek, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Kami berharap hasil dari CAPSTONE-Hub dapat memperkuat internasionalisasi kurikulum sekaligus\u00a0menghasilkan lulusan yang mampu memberikan solusi atas berbagai tantangan pembangunan perkotaan,&#8221; ujarnya.\u00a0<\/p>\n<p>Ke depan, CAPSTONE-Hub diharapkan menghasilkan modul pembelajaran internasional, peta jalan pengembangan pendidikan transnasional, program peningkatan kapasitas dosen, serta berbagai proyek kolaboratif yang melibatkan perguruan tinggi, industri, dan masyarakat.\u00a0<\/p>\n<p>Ketika diminta menggambarkan kesannya terhadap Universitas Pembangunan Jaya setelah mengikuti rangkaian kegiatan tersebut, Nnedinma memberikan tiga kata yang menurutnya paling tepat.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Inovatif. Kolaboratif. Berorientasi pada masa depan.&#8221;\u00a0<\/p>\n<p>Tiga kata tersebut mencerminkan arah yang sedang dibangun UPJ melalui kolaborasi bersama University of Greenwich dan British Council, yaitu menghadirkan pendidikan tinggi yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan, kebutuhan industri, dan solusi nyata bagi pembangunan kota\u00a0yang lebih berkelanjutan. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/905821\/upj-dan-university-of-greenwich-kembangkan-model-pendidikan-masa-depan-berbasis-sustainable-urban-living-\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok UPJ) BAGAIMANA perguruan tinggi mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence\/AI),\u00a0perubahan iklim, urbanisasi, dan kebutuhan industri yang terus berkembang? Pertanyaan tersebut menjadi perhatian banyak universitas di dunia, termasuk University of Greenwich di Inggris dan Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) di Indonesia. Untuk membahas isu tersebut, UPJ\u00a0mewawancarai Dr. Nnedinma Umeokafor mengenai tantangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":64969,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-64968","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64968","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64968"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64968\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64969"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64968"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64968"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64968"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}