{"id":64721,"date":"2026-06-29T22:01:26","date_gmt":"2026-06-29T22:01:26","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/29\/jalan-mulus-argentina\/"},"modified":"2026-06-29T22:01:26","modified_gmt":"2026-06-29T22:01:26","slug":"jalan-mulus-argentina","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/29\/jalan-mulus-argentina\/","title":{"rendered":"Jalan Mulus Argentina"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/29\/1782741602_21449db77426cbc8a098.jpg\" alt=\"Jalan Mulus Argentina\"\/><figcaption>Andhika Prasetyo Wartawan Media Indonesia(MI\/Seno)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SEPAK bola tidak hanya berkutat di atas lapangan hijau. Ia juga hidup dalam ruang persepsi. Ketika publik melihat satu tim harus mele\u00adwati jalan yang begitu curam dan terjal, sementara tim lain tampak melaju di jalur yang le\u00adbih landai, pertanyaan tentang keadilan hampir pasti muncul. Itulah yang sedang terjadi pada <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/piala-dunia-2026\" title=\"Piala Dunia 2026\">Piala Dunia 2026<\/a>.<\/p>\n<p>Begitu fase grup berakhir dan babak gugur terbentuk, perhatian publik langsung tertuju pada komposisi bagan pertandingan. Argentina, sang juara bertahan, berada di bagan sebelah kanan, sisi yang relatif lebih ringan. Lionel Messi dkk, di atas kertas, akan sangat mudah melaju ke dela\u00adpan besar karena didampingi negara-negara seperti Tanjung Verde, Mesir, Australia, Swis, Aljazair, Kolombia, dan Gana. Secara peringkat <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/fifa\" title=\"FIFA\">FIFA<\/a> dan kualitas pemain, ketimpangan itu tampak begitu kentara.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Sebaliknya, sisi lain bagan dipenuhi nama-nama besar. Jerman, Belanda, Prancis, Por\u00adtugal, Belgia, hingga Spanyol berpotensi saling menghabisi bahkan sebelum mencapai semifinal. Tidak mengherankan jika banyak penggemar sepak bola mulai memper\u00adtanyakan mengapa distri\u00adbusi kekuatan bisa terlihat begitu timpang. Media sosial pun segera dipenuhi berbagai spekulasi. Ada yang menuding FIFA sengaja memberikan \u2018karpet merah\u2019 bagi Argentina untuk mempertahankan gelar. Ada pula yang mengaitkan\u00adnya dengan nilai komersial, popularitas tim, hingga ke\u00adpentingan bisnis turnamen.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/sepak-bola\/875440\/italia-tersingkir-dan-munculnya-tim-debutan-apa-yang-perlu-anda-ketahui-dari-piala-dunia-2026\" title=\"Italia Tersingkir dan Munculnya Tim Debutan, Apa yang Perlu Anda Ketahui dari Piala Dunia 2026?\" target=\"_blank\">Italia Tersingkir dan Munculnya Tim Debutan, Apa yang Perlu Anda Ketahui dari Piala Dunia 2026?<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kecurigaan seperti itu se\u00adbenarnya mudah dipahami. Dalam kompetisi sebesar Pi\u00adala Dunia, persepsi sering kali berkembang lebih cepat dari\u00adpada penjelasan resmi. Ketika melihat ketimpangan secara kasatmata, publik cenderung mencari aktor yang dianggap bertanggung jawab.<\/p>\n<p>Namun, benarkah FIFA mengatur jalur Argentina?<\/p>\n<p>Secara teknis, jawabannya tidak sesederhana itu. Bagan fase gugur Piala Dunia telah ditentukan jauh sebelum <em>kick-off\u00a0<\/em>turnamen pertama kali dilakukan. Sejak pengundian grup selesai, FIFA sudah me\u00adnetapkan bahwa juara Grup A akan bertemu salah satu peringkat ketiga terbaik, juara Grup B akan menghadapi <em>run\u00adner-up\u00a0<\/em>grup tertentu, dan se\u00adterusnya. Artinya, posisi setiap tim di fase gugur merupakan konsekuensi dari hasil yang mereka raih selama fase grup, bukan hasil penyusunan ulang setelah seluruh peserta lolos.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/sepak-bola\/784302\/ketika-kuantitas-tidak-diikuti-kualitas\" title=\"Ketika Kuantitas tidak Diikuti Kualitas\" target=\"_blank\">Ketika Kuantitas tidak Diikuti Kualitas<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Dengan sistem tersebut, sa\u00adngat mungkin terjadi satu sisi bagan dipenuhi negara-negara kuat, sementara sisi lainnya relatif lebih ringan. Fenomena seperti itu bukan hal baru dalam turnamen sepak bola. Bahkan dalam beberapa edisi Piala Du\u00adnia maupun Piala Eropa, distri\u00adbusi kekuatan serupa juga per\u00adnah terjadi. Namun, fakta bahwa sistemnya telah ditentukan se\u00adjak awal bukan berarti persoalan persepsi otomatis selesai.<\/p>\n<p>Di era media sosial, publik tidak hanya menilai apakah sebuah kompetisi berjalan se\u00adsuai aturan, tetapi juga apakah hasil akhirnya terasa adil. Dua hal tersebut sering kali berbeda.<\/p>\n<p>Ketika lima atau enam kan\u00addidat juara berkumpul di satu sisi bagan, sementara juara bertahan mendapatkan jalur yang secara teori lebih mudah, narasi tentang keberuntungan akan berkembang dengan sendirinya. Apalagi, Argen\u00adtina datang sebagai tim yang dikapteni salah satu <em>greatest of all time<\/em>, Lionel Messi, yang sering kali dilabeli masyarakat sebagai anak emas FIFA.<\/p>\n<p>Jalan yang tampak lebih lapang tentu semakin mem\u00adperkuat asumsi bahwa mereka memperoleh keuntungan. Pa\u00addahal, dalam sepak bola, jalur yang terlihat mudah belum tentu benar-benar mudah.<\/p>\n<p>Piala Dunia berulang kali membuktikan bahwa tim-tim yang tidak diunggulkan mam\u00adpu menggagalkan prediksi, begitu juga sebaliknya. Kroasia mencapai final pada 2018, dan Maroko menembus semifi\u00adnal pada 2022. Brasil bahkan pernah kalah dengan skor 1-7 saat menjadi tuan rumah di 2014. Kejutan-kejutan terse\u00adbut selalu menjadi bagian dari sejarah turnamen.<\/p>\n<p>Di fase gugur, satu pertan\u00addingan buruk sudah cukup men\u00adgakhiri perjalanan siapa pun, tanpa memandang nama besar atau kecil lawan. Karena itu, u\u00adkuran mudah atau sulit baru bisa dibuktikan setelah pertandingan benar-benar dimainkan, bukan hanya dari nama negara yang tertulis di bagan.<\/p>\n<p>Yang justru menjadi peker\u00adjaan rumah FIFA ialah menjaga kepercayaan publik terhadap integritas kompetisi. Di tengah derasnya arus informasi dan teori konspirasi, transparansi mengenai mekanisme penyu\u00adsunan bagan menjadi semakin penting. Bukan lantaran ada bukti manipulasi, melainkan karena persepsi publik dapat memengaruhi kredibilitas tur\u00adnamen sebesar apa pun.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, Argentina memang tampak memperoleh jalan yang lebih bersahabat menuju babak-babak akhir. Itu adalah fakta yang dapat dilihat siapa saja. Akan tetapi, menyimpulkan bahwa kondi\u00adsi tersebut merupakan hasil rekayasa FIFA membutuhkan bukti yang jauh lebih kuat dari\u00adpada sekadar komposisi bagan.<\/p>\n<p>Di luar itu, yang juga ha\u00adrus diingat ialah sepak bola bukan selalu soal taktik dan <em>skill\u00a0<\/em>pemain. Sepak bola juga kerap menyisakan ruang bagi keberuntungan.<\/p>\n<p>Denmark bahkan menjadi juara Piala Eropa 1992 sete\u00adlah awalnya gagal lolos dan baru masuk karena Yugoslavia didiskualifikasi dari kompetisi. Namun, sejarah tidak meng\u00adingat Denmark sebagai \u2018juara keberuntungan\u2019, tetapi sebagai tim yang mampu memanfaat\u00adkan kesempatan.<\/p>\n<p>Kualitas memang bisa mem\u00adbawa sebuah tim mengangkat piala. Namun, terkadang itu diawali oleh keberuntungan yang membuat pintu terbuka.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/piala-dunia-2026\/905574\/jalan-mulus-argentina\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Andhika Prasetyo Wartawan Media Indonesia(MI\/Seno) SEPAK bola tidak hanya berkutat di atas lapangan hijau. Ia juga hidup dalam ruang persepsi. Ketika publik melihat satu tim harus mele\u00adwati jalan yang begitu curam dan terjal, sementara tim lain tampak melaju di jalur yang le\u00adbih landai, pertanyaan tentang keadilan hampir pasti muncul. Itulah yang sedang terjadi pada Piala [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":64722,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-64721","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64721","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64721"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64721\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64722"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64721"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64721"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64721"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}