{"id":64591,"date":"2026-06-29T16:22:52","date_gmt":"2026-06-29T16:22:52","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/29\/gelombang-panas-di-eropa-tewaskan-1-300-orang-ahli-desak-perubahan-strategi-hadapi-krisis-iklim\/"},"modified":"2026-06-29T16:22:52","modified_gmt":"2026-06-29T16:22:52","slug":"gelombang-panas-di-eropa-tewaskan-1-300-orang-ahli-desak-perubahan-strategi-hadapi-krisis-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/29\/gelombang-panas-di-eropa-tewaskan-1-300-orang-ahli-desak-perubahan-strategi-hadapi-krisis-iklim\/","title":{"rendered":"Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 1.300 Orang, Ahli Desak Perubahan Strategi Hadapi Krisis Iklim"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/29\/1782749337_976c48cea284624f7492.jpeg\" alt=\"Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 1.300 Orang, Ahli Desak Perubahan Strategi Hadapi Krisis Iklim\"\/><figcaption>Orang-orang menyegarkan diri di air mancur sambil menunggu Doa Angelus yang dipimpin oleh Paus Leo XIV di Lapangan Santo Petrus di Vatikan.(AFP\/Alberto Pizzoli)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>GELOMBANG panas yang melanda Eropa sejak 21 Juni telah berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/who\" title=\"WHO\">WHO<\/a>) melaporkan lebih dari 1.300 kematian berlebih (<\/span><em><span>excess deaths<\/span><\/em><span>) terjadi di berbagai negara, sementara suhu yang menembus 40 derajat celsius mengganggu transportasi, membebani sistem kesehatan, dan menguji kesiapan infrastruktur yang selama ini dirancang untuk iklim yang lebih sejuk.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Pada Minggu (28\/6) waktu setempat, suhu mencapai 40 derajat celsius di sejumlah wilayah Jerman, Republik Ceko, dan Polandia. Di Prancis, suhu rata-rata harian mencapai 29,8 derajat celsius, bahkan menyentuh 44 derajat celsius di salah satu kota sebelum badai melanda beberapa wilayah.<\/span><\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Prancis menjadi negara dengan dampak paling besar. Badan kesehatan masyarakat setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih sejak gelombang panas dimulai pada 20 Juni. Sebelum periode tersebut, rata-rata angka kematian harian di negara itu sekitar 900 orang. Sebagian besar korban berusia 65 tahun ke atas, meski dampak suhu ekstrem dirasakan seluruh lapisan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/905602\/ribuan-kematian-di-eropa-saat-gelombang-panas-apa-yang-dapat-dilakukan-negara-negara\" title=\"Ribuan Kematian di Eropa saat Gelombang Panas, Apa yang Dapat Dilakukan Negara-Negara?\" target=\"_blank\">Ribuan Kematian di Eropa saat Gelombang Panas, Apa yang Dapat Dilakukan Negara-Negara?<\/a><\/strong><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan Eropa kini menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, yakni dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>&#8220;Didorong oleh <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/perubahan-iklim\" title=\"perubahan iklim\">perubahan iklim<\/a> dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang dahulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun,&#8221; kata Tedros.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Ia juga mengingatkan bahwa infrastruktur di banyak negara Eropa belum dibangun untuk menghadapi suhu setinggi yang terjadi saat ini.<\/span><\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/905418\/who-desak-eropa-perkuat-mitigasi-hadapi-gelombang-panas-ekstrem\" title=\"WHO Desak Eropa Perkuat Mitigasi Hadapi Gelombang Panas Ekstrem\" target=\"_blank\">WHO Desak Eropa Perkuat Mitigasi Hadapi Gelombang Panas Ekstrem<\/a><\/strong><\/p>\n<h2><strong><span>Mengapa Gelombang Panas Mematikan?<\/span><\/strong><\/h2>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Para ahli menjelaskan bahwa korban jiwa akibat gelombang panas umumnya bukan karena paparan suhu tinggi secara langsung, melainkan karena tubuh gagal mengendalikan suhu internal.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Pengajar Grantham Institute\u2013Climate Change and the Environment, Garyfallos Konstantinoudis, mengatakan kondisi tersebut dikenal sebagai <\/span><em><span>heat stress<\/span><\/em><span>.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>&#8220;Gelombang panas menimbulkan bahaya kesehatan yang serius, terutama karena menyebabkan stres panas. Kondisi ini dapat berujung pada dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga <em>heatstroke<\/em> yang merupakan keadaan darurat medis,&#8221; ujarnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Menurut dia, <\/span><em><span>heatstroke<\/span><\/em><span> terjadi ketika suhu inti tubuh melebihi 40 derajat celsius sehingga memicu kebingungan, hilang kesadaran, denyut jantung cepat, gangguan pernapasan, hingga kegagalan organ apabila tidak segera ditangani.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Karena itu, kelompok lanjut usia menjadi yang paling rentan. Selain faktor usia, penderita penyakit kronis juga memiliki risiko kematian lebih tinggi saat gelombang panas berlangsung.<\/span><\/p>\n<h2><strong><span>Respons Negara Dinilai belum Cukup<\/span><\/strong><\/h2>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Gelombang panas yang kini semakin sering terjadi memaksa pemerintah Eropa mengubah strategi penanganan.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Paris dan sejumlah wilayah di Denmark meningkatkan pemantauan terhadap warga lanjut usia. Barcelona membuka lebih dari 500 <\/span><em><span>climate shelter<\/span><\/em><span> atau tempat perlindungan dari suhu ekstrem bagi masyarakat.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Konfederasi Serikat Pekerja Eropa juga mendesak Komisi Eropa menetapkan batas maksimum suhu di tempat kerja.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>&#8220;Perubahan iklim sudah terjadi dan sangat memengaruhi dunia kerja. Kita tidak bisa menerima musim panas berikutnya ketika pembuat kebijakan kembali bertindak terlambat. Uni Eropa membutuhkan aturan yang mengikat untuk melindungi pekerja dari panas ekstrem,&#8221; kata Sekretaris Jenderal European Federation of Food, Agriculture and Tourism Trade Union, Enrico Somaglia.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Namun, para ilmuwan menilai langkah-langkah darurat saja tidak cukup.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Direktur Riset Grantham Institute, Joeri Rogelj, mengatakan pemerintah harus menangani penyebab sekaligus dampak perubahan iklim.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>&#8220;Gelombang panas yang kita alami didorong oleh pemanasan global yang terus meningkat akibat emisi gas rumah kaca. Respons yang diberikan harus mengatasi gejala sekaligus akar penyebabnya,&#8221; ujarnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>Menurut Rogelj, negara-negara perlu membangun kota yang lebih sejuk melalui penambahan ruang hijau dan pepohonan, menciptakan rumah yang lebih tahan panas, serta memberikan perlindungan lebih baik kepada kelompok rentan.<\/span><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><span>&#8220;Tetapi tanpa mengatasi tren pemanasan global yang mendasarinya, langkah-langkah tersebut akan semakin tidak memadai. Prioritas utama tetap harus mengurangi polusi iklim hingga seminimal mungkin,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p><span>Sejalan dengan itu, Program Lingkungan PBB (UNEP) merekomendasikan strategi <\/span><em><span>passive cooling<\/span><\/em><span> seperti memperbanyak vegetasi, memperbaiki desain perkotaan agar tidak memerangkap panas, membangun sistem peringatan dini gelombang panas, memperkuat layanan kesehatan, melindungi pekerja luar ruangan, memperkuat infrastruktur penting, serta mempercepat pengurangan penggunaan bahan bakar fosil dan refrigeran yang mempercepat pemanasan global. (Al-Jazeera\/B-3)<\/span><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/905635\/gelombang-panas-di-eropa-tewaskan-1300-orang-ahli-desak-perubahan-strategi-hadapi-krisis-iklim\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang-orang menyegarkan diri di air mancur sambil menunggu Doa Angelus yang dipimpin oleh Paus Leo XIV di Lapangan Santo Petrus di Vatikan.(AFP\/Alberto Pizzoli) GELOMBANG panas yang melanda Eropa sejak 21 Juni telah berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths) terjadi di berbagai negara, sementara suhu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":64592,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-64591","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64591","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64591"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64591\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64592"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64591"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64591"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64591"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}