{"id":64529,"date":"2026-06-29T13:43:06","date_gmt":"2026-06-29T13:43:06","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/29\/anak-anak-palestina-di-tepi-barat-jadi-sasaran-israel-tanpa-akuntabilitas\/"},"modified":"2026-06-29T13:43:06","modified_gmt":"2026-06-29T13:43:06","slug":"anak-anak-palestina-di-tepi-barat-jadi-sasaran-israel-tanpa-akuntabilitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/29\/anak-anak-palestina-di-tepi-barat-jadi-sasaran-israel-tanpa-akuntabilitas\/","title":{"rendered":"Anak-Anak Palestina di Tepi Barat Jadi Sasaran Israel tanpa Akuntabilitas"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/29\/1782739733_b165b1701dd32a8b2547.jpg\" alt=\"Anak-Anak Palestina di Tepi Barat Jadi Sasaran Israel tanpa Akuntabilitas\"\/><figcaption>Aliyah al-Halaq di samping foto mendiang putranya, Mohammad, yang berusia sembilan tahun, yang tewas dibunuh oleh IDF Oktober lalu.(The Guardian\/Quique Kierszenbaum)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PADA\u00a0hari kematiannya, Mohammad al-Halaq, bocah berusia sembilan tahun, merasa sangat gembira. Ia baru saja menerima tas sekolah baru bergambar logo Unicef di kelasnya.<\/p>\n<p>Ibunya, Aliyah, mengenang betapa Mohammad sangat bangga dengan tas tersebut. Soalnya,\u00a0benda tersebut dianggap luar biasa bagi anak-anak di wilayah konflik seperti ar-Rihiya, Hebron, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tepi-barat\" title=\"Tepi Barat\">Tepi Barat<\/a>, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/palestina\" title=\"Palestina\">Palestina<\/a>.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Namun, kegembiraan itu berakhir tragis pada 16 Oktober tahun lalu. Mohammad ditembak di bagian panggul oleh tentara Israel saat sedang bermain sepak bola di halaman sekolah.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/851951\/kelompok-ham-perkuat-bukti-penjara-israel-mirip-kamp-penyiksaan\" title=\"Kelompok HAM Perkuat Bukti Penjara Israel Mirip Kamp Penyiksaan\" target=\"_blank\">Kelompok HAM Perkuat Bukti Penjara Israel Mirip Kamp Penyiksaan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Suatu rekaman video menunjukkan seorang tentara keluar dari jip militer dan membidikkan senapan ke arah bukit tempat anak-anak berkumpul. Mohammad tewas di rumah sakit, menambah daftar panjang anak-<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anak-palestina\" title=\"anak Palestina\">anak Palestina<\/a> yang menjadi korban di Tepi Barat.<\/p>\n<h2>Laporan B&#8217;Tselem: Masa Kecil tanpa Perlindungan<\/h2>\n<p>Organisasi hak asasi manusia Israel, B&#8217;Tselem, baru saja merilis laporan berjudul <em>Unshielded Childhood<\/em>\u00a0(Masa Kecil tanpa Perlindungan). Laporan ini menyoroti kematian 54 anak dan remaja Palestina oleh pasukan Israel sepanjang tahun 2025 saja. Secara total, sejak 7 Oktober 2023, sebanyak 235 anak Palestina telah tewas di Tepi Barat akibat tindakan pasukan keamanan Israel\u00a0ditambah lima\u00a0lainnya oleh pemukim ilegal.<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif B&#8217;Tselem, Yuli Novak, menyatakan bahwa pembunuhan massal ini adalah hasil dari kebijakan luas Israel yang mengizinkan pembunuhan warga Palestina tanpa akuntabilitas. &#8220;Sistem ini tidak hanya mendukung para penembak, tetapi secara efektif memberi mereka lisensi untuk membunuh,&#8221; tegas Novak.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/742681\/hampir-setengah-anak-tepi-barat-dibunuh-israel-dalam-dua-tahun\" title=\"Hampir Setengah Anak Tepi Barat Dibunuh Israel dalam Dua Tahun\" target=\"_blank\">Hampir Setengah Anak Tepi Barat Dibunuh Israel dalam Dua Tahun<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Novak juga menyoroti pernyataan Mayjen Avi Bluth, kepala komando pusat tentara Israel, yang mengeklaim bahwa 96% dari mereka yang tewas terlibat dalam terorisme. B&#8217;Tselem membantah keras klaim tersebut dan menyebutnya sebagai kebohongan terang-terangan. Analisis mereka terhadap korban di bawah umur pada tahun 2025 tidak menemukan bukti bahwa para korban merupakan ancaman atau anggota kelompok militan.<\/p>\n<h2>Pola Penargetan yang Disengaja<\/h2>\n<p>Komisi penyelidikan internasional independen PBB juga menemukan bukti serupa. Srinivasan Muralidhar, ketua komisi tersebut, menyatakan bahwa otoritas dan pasukan keamanan Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina. Tindakan ini dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.<\/p>\n<p>Data dari organisasi Yesh Din memperkuat indikasi impunitas ini: tidak ada satu pun warga Israel yang didakwa atas pembunuhan warga Palestina sejak Oktober 2023.<\/p>\n<div style=\"background-color: #f9f9f9; padding: 15px; border-left: 5px solid #ccc; margin: 20px 0;\"><strong>Kisah Tragis Lain:<\/strong><\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Rimas Amuri (13 tahun):<\/strong> Ditembak dari belakang saat bermain di luar rumahnya di kamp pengungsi Jenin. IDF mengeklaim ia sosok mencurigakan.\u00a0Namun penyelidikan B&#8217;Tselem menunjukkan tentara seharusnya bisa melihat dengan jelas bahwa ia hanyalah seorang gadis kecil dari jarak 40 meter.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Layla al-Khatib (2 tahun):<\/strong> Tewas tertembak di kepala saat duduk di pangkuan ibunya di dalam rumah. Tentara Israel melakukan penggerebekan di lingkungan tersebut menggunakan kendaraan sipil sebelum melepaskan tembakan yang menembus dinding rumah keluarga al-Khatib.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<\/div>\n<h2>Respons Pasukan Pertahanan Israel (IDF)<\/h2>\n<p>Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara IDF menyatakan bahwa militer tidak secara sengaja menargetkan warga sipil yang tidak terlibat. Mereka mengeklaim bahwa setiap tuduhan kerugian terhadap individu yang tidak terlibat akan diperiksa dan diselidiki.<\/p>\n<p>Terkait kasus Mohammad al-Halaq, Rimas Amuri, dan Layla al-Khatib, IDF menyatakan bahwa kasus-kasus tersebut saat ini sedang dalam penyelidikan oleh Divisi Investigasi Kriminal Polisi Militer. Namun, bagi keluarga korban, janji investigasi ini sering kali berakhir tanpa kejelasan hukum, memperkuat persepsi tentang normalisasi impunitas di wilayah pendudukan.<\/p>\n<p>Hingga saat ini, operasi militer Israel di Tepi Barat terus meningkat dengan dalih membongkar sel teror, namun dampak kemanusiaan terhadap warga sipil, terutama anak-anak, terus memicu kecaman internasional. (The Guardian\/I-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/905563\/anak-anak-palestina-di-tepi-barat-jadi-sasaran-israel-tanpa-akuntabilitas\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aliyah al-Halaq di samping foto mendiang putranya, Mohammad, yang berusia sembilan tahun, yang tewas dibunuh oleh IDF Oktober lalu.(The Guardian\/Quique Kierszenbaum) PADA\u00a0hari kematiannya, Mohammad al-Halaq, bocah berusia sembilan tahun, merasa sangat gembira. Ia baru saja menerima tas sekolah baru bergambar logo Unicef di kelasnya. Ibunya, Aliyah, mengenang betapa Mohammad sangat bangga dengan tas tersebut. Soalnya,\u00a0benda [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":64530,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-64529","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64529","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64529"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64529\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64530"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64529"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64529"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64529"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}