{"id":64420,"date":"2026-06-29T08:25:01","date_gmt":"2026-06-29T08:25:01","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/29\/investasi-terbaik-bagi-anak-dimulai-dari-keluarga\/"},"modified":"2026-06-29T08:25:01","modified_gmt":"2026-06-29T08:25:01","slug":"investasi-terbaik-bagi-anak-dimulai-dari-keluarga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/29\/investasi-terbaik-bagi-anak-dimulai-dari-keluarga\/","title":{"rendered":"Investasi Terbaik bagi Anak Dimulai dari Keluarga"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/29\/1782719795_3150dc8f9c092b865263.jpg\" alt=\"Investasi Terbaik bagi Anak Dimulai dari Keluarga\"\/><figcaption>H. Heriansyah, S.E., M.Si., CGCAE., CPSp.\u00a0 Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara.(Dokpri)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KETIKA berbicara tentang masa depan Indonesia, perhatian kita sering tertuju pada sekolah, kurikulum, teknologi pendidikan, atau pembangunan infrastruktur. Padahal, fondasi utama kualitas sumber daya manusia sesungguhnya dibangun jauh lebih awal, bahkan sebelum seorang anak memasuki ruang kelas.\u00a0<\/p>\n<p>Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 90 persen perkembangan otak terjadi sebelum anak berusia lima tahun. Pada periode inilah kemampuan berpikir, berbahasa, mengelola emosi, membangun kepercayaan diri, dan membentuk karakter berkembang sangat pesat.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Ekonom peraih Nobel James Heckman bahkan menyebut investasi pada masa usia dini sebagai investasi dengan tingkat pengembalian sosial dan ekonomi tertinggi. Semakin awal investasi dilakukan, semakin besar manfaat yang akan dirasakan oleh individu, keluarga, dan masyarakat di masa depan.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/897423\/11-alumni-santriwati-di-kukar-diduga-jadi-korban-pelecehan-pimpinan-ponpes\" title=\"11 Alumni Santriwati di Kukar Diduga Jadi Korban Pelecehan Pimpinan Ponpes\" target=\"_blank\">11 Alumni Santriwati di Kukar Diduga Jadi Korban Pelecehan Pimpinan Ponpes<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Pertanyaannya, di mana investasi itu dimulai? Jawabannya bukan di sekolah, tetapi dimulai dari keluarga.\u00a0<\/p>\n<h2><strong>Keluarga sebagai Ruang Kelas Pertama<\/strong>\u00a0<\/h2>\n<p>Sebelum mengenal guru, buku pelajaran, atau ruang kelas, seorang anak terlebih dahulu belajar dari orangtuanya. Dari keluarga, anak mengenal bahasa, belajar berinteraksi, memahami kasih sayang, membangun rasa aman, dan menyerap nilai-nilai kehidupan yang akan membentuk karakter mereka hingga dewasa.\u00a0<\/p>\n<p>Karena itu, pendidikan tidak boleh dipahami semata-mata sebagai urusan sekolah. Pendidikan adalah ekosistem yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, media, dunia usaha, dan pemerintah.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/888759\/bawa-kabur-motor-teman-perempuan-di-kukar-ditangkap-polisi\" title=\"Bawa Kabur Motor Teman, Perempuan di Kukar Ditangkap Polisi\" target=\"_blank\">Bawa Kabur Motor Teman, Perempuan di Kukar Ditangkap Polisi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Semangat inilah yang juga sejalan dengan pesan Hari Pendidikan Nasional 2026 tentang partisipasi semesta dalam pendidikan. Sekolah memiliki peran penting dalam membangun kompetensi akademik, tetapi keluarga tetap menjadi fondasi utama pembentukan karakter dan kebiasaan belajar.\u00a0<\/p>\n<p>Ketika sekolah dan keluarga berjalan beriringan, peluang anak untuk tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan adaptif akan jauh lebih besar.\u00a0<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" alt=\"\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/content\/2026\/06\/29\/1782719722_0943916895e5ef99a8c4.jpg\"\/><\/p>\n<h2><strong>Krisis Parenting yang Sering tidak Terlihat\u00a0<\/strong><\/h2>\n<p>Sayangnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terkait akses sekolah atau kualitas pembelajaran. Ada persoalan lain yang sering luput dari perhatian, yakni masih terbatas pemahaman sebagian orangtua mengenai pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.\u00a0<\/p>\n<p>Pada tahun 2023, studi yang dilakukan Tanoto Foundation bersama School of Parenting terhadap 1.200 orangtua di Indonesia menunjukkan ada kebutuhan untuk memperkuat keterampilan pengasuhan orangtua, terutama dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini.\u00a0<\/p>\n<p>Studi ini menemukan bahwa praktik pengasuhan responsif dan pemberian stimulasi belajar di rumah masih perlu ditingkatkan. Sebagian orangtua masih membutuhkan pemahaman lebih mengenai pentingnya stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, termasuk membangun kebiasaan membaca buku bersama anak dan melakukan aktivitas belajar sederhana yang bermakna di rumah.<\/p>\n<p>Tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan hanya memastikan anak bersekolah, tetapi memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang mendukung proses belajar sepanjang hayat. Di era digital, ketika anak-anak dapat mengakses informasi hanya melalui layar di genggaman mereka, peran keluarga justru menjadi semakin penting. \u00a0<\/p>\n<p>Teknologi dapat menyediakan informasi, tetapi tidak dapat menggantikan kehadiran orangtua dalam membangun karakter, menanamkan nilai-nilai kehidupan, dan membimbing anak menghadapi berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks.\u00a0Karena itu, penguatan kapasitas orangtua dalam pengasuhan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.\u00a0<\/p>\n<h2>Membangun Gerakan Bersama untuk Pengasuhan Berkualitas\u00a0<\/h2>\n<p>Kabar baiknya, kesadaran tentang pentingnya peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang dan pendidikan anak usia dini terus meningkat. Pemerintah juga menempatkan penguatan pengasuhan dan stimulasi dini sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia awal kehidupan.<\/p>\n<p>Di tingkat daerah, komitmen terhadap penguatan pengasuhan anak terus didorong melalui berbagai upaya yang melibatkan layanan pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Di Kabupaten <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kutai-kartanegara\" title=\"Kutai Kartanegara\">Kutai Kartanegara<\/a> (Kukar), pendekatan kolaboratif menjadi salah satu strategi penting untuk memastikan keluarga mendapatkan akses terhadap pengetahuan dan pendampingan yang dibutuhkan dalam mendukung perkembangan anak.<\/p>\n<p>Namun membangun generasi unggul tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga atau satu sektor saja. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan dunia usaha, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, media, komunitas, dan para orangtua untuk menciptakan gerakan bersama yang menjadikan keluarga sebagai pusat pembangunan manusia.\u00a0<\/p>\n<p>Salah satu inisiatif yang berkontribusi dalam penguatan pengasuhan keluarga adalah Program Rumah Anak SIGAP yang dikembangkan oleh Tanoto Foundation. Melalui program ini, orangtua mendapatkan pengetahuan dan keterampilan praktis mengenai pengasuhan, stimulasi perkembangan anak, kesehatan, gizi, serta pembentukan karakter sejak usia dini.<\/p>\n<p>Di Kukar, kolaborasi tersebut diwujudkan melalui dukungan terhadap keberlanjutan layanan Rumah Anak SIGAP. Salah satunya melalui penyediaan kelas khusus di Kelompok Bermain Nusantara Gold sebagai ruang transisi bagi anak-anak peserta Rumah Anak SIGAP usia 0-3 tahun menuju pembelajaran kelompok usia 3-4 tahun. Selain itu, keberlanjutan operasional Rumah Anak SIGAP juga didukung melalui pemanfaatan dana desa, sehingga layanan pengasuhan dan stimulasi dini dapat terus berjalan bersama masyarakat.<\/p>\n<p>Upaya membangun sumber daya manusia unggul harus dimulai dari rumah-rumah kita sendiri. Kita perlu memastikan semakin banyak orangtua memperoleh akses terhadap edukasi parenting yang berkualitas. Kita juga perlu memperluas kolaborasi agar program-program penguatan keluarga dapat menjangkau hingga tingkat desa dan komunitas.\u00a0<\/p>\n<p>Jika kita ingin mewujudkan Generasi Emas 2045, investasi terbaik yang dapat kita lakukan hari ini bukan hanya membangun gedung sekolah yang megah, tetapi juga membangun keluarga yang kuat. Karena keluarga yang kuat akan melahirkan anak-anak yang percaya diri, sehat, cerdas, dan berkarakter. Anak-anak yang tangguh akan tumbuh menjadi sumber daya manusia yang unggul, serta sumber daya manusia yang unggul adalah fondasi bagi daerah dan bangsa yang maju.\u00a0<\/p>\n<p>Karena itu, inilah saatnya menjadikan pengasuhan anak usia dini sebagai gerakan bersama, di Kutai Kartanegara, di Kalimantan Timur, di Indonesia. Sebab masa depan tidak ditentukan oleh apa yang terjadi di ruang rapat atau ruang kelas semata, tetapi oleh apa yang terjadi setiap hari di ruang keluarga. Dan dari sanalah, masa depan bangsa sesungguhnya dimulai.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/905428\/investasi-terbaik-bagi-anak-dimulai-dari-keluarga\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>H. Heriansyah, S.E., M.Si., CGCAE., CPSp.\u00a0 Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara.(Dokpri) KETIKA berbicara tentang masa depan Indonesia, perhatian kita sering tertuju pada sekolah, kurikulum, teknologi pendidikan, atau pembangunan infrastruktur. Padahal, fondasi utama kualitas sumber daya manusia sesungguhnya dibangun jauh lebih awal, bahkan sebelum seorang anak memasuki ruang kelas.\u00a0 Berbagai penelitian menunjukkan bahwa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":64421,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-64420","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64420","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64420"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64420\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64421"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64420"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64420"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64420"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}