{"id":64337,"date":"2026-06-29T04:47:19","date_gmt":"2026-06-29T04:47:19","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/29\/kenapa-sering-buang-angin-penyebab-kentut-bisa-berbau-menyengat\/"},"modified":"2026-06-29T04:47:19","modified_gmt":"2026-06-29T04:47:19","slug":"kenapa-sering-buang-angin-penyebab-kentut-bisa-berbau-menyengat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/29\/kenapa-sering-buang-angin-penyebab-kentut-bisa-berbau-menyengat\/","title":{"rendered":"Kenapa Sering Buang Angin Penyebab Kentut Bisa Berbau Menyengat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/29\/1782708100_e0af69b01b79053adca6.jpg\" alt=\"Kenapa Sering Buang Angin? Penyebab Kentut Bisa Berbau Menyengat\"\/><figcaption>Ilustrasi seseorang buang angin(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/buang-angin\" title=\"buang angin\">BUANG angin<\/a> atau flatulensi sering kali dianggap memalukan. Padahal, kondisi ini merupakan bagian dari proses alami tubuh untuk mengeluarkan gas yang menumpuk di saluran pencernaan. Menurut Cleveland Clinic, hampir setiap orang mengalami buang angin setiap hari, bahkan rata-rata dapat terjadi hingga sekitar 25 kali dalam sehari.<\/p>\n<p>Gas di dalam saluran cerna terbentuk selama proses pencernaan makanan maupun dari udara yang tidak sengaja tertelan saat makan, minum, atau berbicara. Selama jumlahnya masih dalam batas normal dan tidak disertai keluhan lain, buang angin umumnya tidak perlu dikhawatirkan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h3>Penyebab Sering Buang Angin<\/h3>\n<p>Dilansir dari<em> Cleveland Clinic,<\/em> salah satu penyebab paling umum adalah terlalu banyak menelan udara atau aerofagia. Udara dapat masuk ke saluran pencernaan ketika seseorang makan terlalu cepat, berbicara saat mulut masih berisi makanan, minum menggunakan sedotan, mengunyah permen karet, mengisap permen keras, merokok, mengonsumsi minuman bersoda, mengalami stres atau kecemasan, maupun menggunakan gigi palsu yang kurang pas.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/853377\/jangan-malu-pola-buang-angin-ternyata-bisa-ungkap-kondisi-kesehatan-anda\" target=\"_blank\" title=\"Jangan Malu, Pola Buang Angin Ternyata Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Anda\">Jangan Malu, Pola Buang Angin Ternyata Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Anda<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Selain itu, proses pencernaan juga berperan besar dalam pembentukan gas. Setelah nutrisi diserap tubuh, sisa makanan akan masuk ke usus besar. Di sana, bakteri usus memecah sisa makanan tersebut dan menghasilkan gas. Semakin lama sisa makanan berada di usus besar, semakin banyak gas yang terbentuk sehingga tubuh akan mengeluarkannya melalui buang angin.<\/p>\n<h3>Makanan Jadi Pemicu<\/h3>\n<p>Beberapa jenis makanan diketahui lebih mudah menghasilkan gas selama proses pencernaan. Di antaranya adalah kacang-kacangan, biji-bijian utuh dan dedak, serta berbagai sayuran seperti brokoli, kubis, kembang kol, asparagus, bawang, wortel, seledri, paprika hijau, mentimun, lobak, artichoke, dan kubis brussel.<\/p>\n<p>Buah-buahan seperti apel, pir, pisang, persik, aprikot, kismis, dan jus prem juga dapat memicu pembentukan gas pada sebagian orang. Selain itu, makanan kemasan, roti, sereal, saus salad yang mengandung laktosa, serta produk bebas gula seperti permen dan permen karet juga berpotensi meningkatkan produksi gas di saluran pencernaan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/905283\/5-penyebab-kentut-terus-menerus-yang-perlu-diwaspadai\" target=\"_blank\" title=\"5 Penyebab Kentut Terus-Menerus yang Perlu Diwaspadai\">5 Penyebab Kentut Terus-Menerus yang Perlu Diwaspadai<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Namun, setiap orang memiliki respons pencernaan yang berbeda. Tidak semua makanan tersebut akan menimbulkan keluhan pada setiap individu.<\/p>\n<h3>Gangguan Kesehatan<\/h3>\n<p>Dalam beberapa kasus, flatulensi yang terjadi terus-menerus dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu. Misalnya intoleransi laktosa, penyakit celiac, sembelit, penyakit refluks asam lambung (GERD), gastroparesis, sindrom iritasi usus besar (IBS), penyakit radang usus (IBD), tukak lambung, hingga pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus atau small intestinal bacterial overgrowth (SIBO).<\/p>\n<p>Selain gangguan pencernaan, beberapa penyakit lain seperti sklerosis multipel (MS), penyakit Parkinson, maupun gangguan jaringan ikat, termasuk sindrom Ehlers-Danlos, skleroderma, dan sindrom Sj\u00f6gren, juga dapat menyebabkan produksi gas menjadi lebih banyak.<\/p>\n<p>Apabila flatulensi disertai nyeri hebat, penurunan berat badan tanpa sebab, diare berkepanjangan, atau terdapat darah pada feses, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebabnya.<\/p>\n<h3>Berbau Menyengat<\/h3>\n<p>Tidak semua buang angin memiliki bau yang sama. Bau menyengat biasanya muncul karena kandungan gas tertentu, terutama hidrogen sulfida, yang terbentuk saat bakteri di usus mencerna makanan.<\/p>\n<p>Beberapa makanan kaya serat dapat menghasilkan hidrogen sulfida selama proses pencernaan sehingga menimbulkan aroma menyerupai telur busuk. Makanan yang mengandung sulfit, seperti telur, bawang putih, daging, dan sayuran dari keluarga kubis, juga dapat membuat bau <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kentut\" title=\"kentut\">kentut<\/a> menjadi lebih tajam.<\/p>\n<p>Selain dipengaruhi makanan, intoleransi laktosa juga dapat menyebabkan gas berbau menyengat setelah mengonsumsi susu atau produk olahannya. Kondisi bakteri di dalam usus <em>(gut microbiome<\/em>) setiap orang yang berbeda-beda turut memengaruhi aroma gas yang dihasilkan. Penggunaan antibiotik yang mengganggu keseimbangan bakteri usus pun dapat membuat bau kentut menjadi lebih menyengat.<\/p>\n<p>Penanganan flatulensi bergantung pada penyebabnya. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, menanyakan riwayat kesehatan, pola makan, serta obat-obatan yang dikonsumsi. Bila diperlukan, pemeriksaan lanjutan seperti tes darah, pemeriksaan feses, colok dubur, atau foto rontgen dapat dilakukan untuk mencari penyebab yang mendasarinya.<\/p>\n<p>Dokter juga dapat meminta pasien mencatat makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari agar lebih mudah mengidentifikasi pemicu pembentukan gas.<\/p>\n<p>Untuk membantu mengurangi keluhan, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, seperti makan secara perlahan agar tidak terlalu banyak menelan udara, menghindari makanan yang diketahui memicu gas berlebih, terutama yang tinggi gula, serta rutin berolahraga guna menjaga sistem pencernaan tetap sehat. (H-4)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/905401\/kenapa-sering-buang-angin-penyebab-kentut-bisa-berbau-menyengat\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi seseorang buang angin(Magnific) BUANG angin atau flatulensi sering kali dianggap memalukan. Padahal, kondisi ini merupakan bagian dari proses alami tubuh untuk mengeluarkan gas yang menumpuk di saluran pencernaan. Menurut Cleveland Clinic, hampir setiap orang mengalami buang angin setiap hari, bahkan rata-rata dapat terjadi hingga sekitar 25 kali dalam sehari. Gas di dalam saluran cerna [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":64338,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-64337","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64337","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64337"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64337\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64338"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64337"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64337"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64337"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}