{"id":64148,"date":"2026-06-28T19:28:39","date_gmt":"2026-06-28T19:28:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/28\/mengenang-seabad-gempa-dahsyat-padang-panjang-wartawan-media-indonesia-luncurkan-buku\/"},"modified":"2026-06-28T19:28:39","modified_gmt":"2026-06-28T19:28:39","slug":"mengenang-seabad-gempa-dahsyat-padang-panjang-wartawan-media-indonesia-luncurkan-buku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/28\/mengenang-seabad-gempa-dahsyat-padang-panjang-wartawan-media-indonesia-luncurkan-buku\/","title":{"rendered":"Mengenang Seabad Gempa Dahsyat Padang Panjang, Wartawan Media Indonesia Luncurkan Buku"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/28\/1782652813_03023498adba772377ab.jpg\" alt=\"Mengenang Seabad Gempa Dahsyat Padang Panjang, Wartawan Media Indonesia Luncurkan Buku\"\/><figcaption>Ilustrasi.(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>TEPAT\u00a0seabad yang lalu, pada 28 Juni 1926, Dataran Tinggi Padang (<em>Padangsche Bovenlanden<\/em>) di <em>Sumatra&#8217;s Westkust<\/em> diguncang gempa dahsyat yang menghancurkan wilayah tersebut. Menandai seratus tahun peristiwa bersejarah itu, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/yose-hendra\" title=\"Yose Hendra\">Yose Hendra<\/a>, seorang jurnalis Media Indonesia sekaligus peminat sejarah, resmi meluncurkan buku berjudul <strong>Gempa Tujuh Hari<\/strong>.<\/p>\n<p>Peluncuran buku dilakukan di kompleks Pusat Dokumentasi Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Kota Padang Panjang, Sabtu (27\/6). Buku setebal lebih dari 300 halaman ini merupakan buah dari riset independen yang dilakukan Yose selama 14 tahun terakhir.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Minggu, 28 Juni 2026 adalah hari bersejarah karena bertepatan dengan seabad peristiwa gempa 1926. Buku ini sengaja diluncurkan untuk berkontribusi dalam menarasikan kembali salah satu bencana terbesar di Sumatra Barat pada masa kolonial Belanda,&#8221; ujar Yose, yang juga aktif di Patahan Sumatra Institute.<\/p>\n<h2>Fenomena Gempa Kembar dan Sesar Sumatra<\/h2>\n<p>Riset Yose mengungkap bahwa peristiwa 1926 adalah dokumentasi paling lengkap mengenai gempa darat yang bersumber dari Sesar Sumatra. Buku ini menyoroti fenomena <em>doublet earthquake<\/em> atau gempa kembar, yaitu dua segmen patahan aktif melepaskan energi dalam waktu berdekatan.<\/p>\n<p>Gempa pertama terjadi pukul 10.04 WIB pada segmen Sumani dengan magnitudo di atas 6.6. Hanya berselang kurang dari tiga jam, tepatnya pukul 12.56, gempa kedua yang lebih kuat mengguncang segmen Sianok dengan skala intensitas IX MMI.<\/p>\n<p>&#8220;Catatan seismograf Observatorium Batavia menangkap guncangan kedua lebih keras. Ini menguatkan karakteristik Patahan Sumatra yang bekerja secara terfragmentasi; satu segmen bergerak sementara bagian lain tetap terkunci hingga akhirnya melepaskan energi secara berurutan,&#8221; jelas alumnus Ilmu Sejarah Universitas Andalas tersebut.<\/p>\n<h2>Dampak Dahsyat dan Perubahan Bentang Alam<\/h2>\n<p>Buku ini merekonstruksi skala kerusakan berdasarkan arsip primer kolonial. Di wilayah Padang Panjang dan sekitarnya, tercatat sedikitnya 2.383 rumah roboh atau rusak berat, dengan korban jiwa mencapai 247 orang. Kantor berita <em>Aneta<\/em> saat itu memperkirakan kerugian mencapai 10 juta gulden.<\/p>\n<p>Dahsyatnya gempa juga mengubah bentang alam. Longsor raksasa di Lembah Anai menimbun Jalan Raya Pos dan memutus jalur kereta api. Fenomena langka berupa gelombang besar (<em>seiche<\/em>) juga dilaporkan terjadi di Danau Singkarak\u00a0yang menghantam tepian danau dan menyeret rumah-rumah warga.<\/p>\n<div style=\"background-color: #f9f9f9; padding: 15px; border-left: 5px solid #ccc; margin: 20px 0;\"><strong>Kearifan Lokal dan Ketahanan Bangunan<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu temuan penting dalam buku ini adalah perbandingan ketahanan bangunan. Bangunan tembok bergaya kolonial yang kaku banyak yang runtuh, sementara rumah kayu dan Rumah Gadang tradisional Minangkabau terbukti lebih lentur dan mampu bertahan dari guncangan hebat.<\/p>\n<\/div>\n<h2>Apresiasi Pakar dan Pemerintah<\/h2>\n<p>Pakar geologi BRIN, Danny Hilman Natawidjaja, mengapresiasi karya ini sebagai media edukasi kebencanaan yang humanis. &#8220;Buku ini mengingatkan bahwa hidup di atas tanah aktif menuntut pemahaman dan kesiapsiagaan. Pengetahuan lokal yang dipadukan dengan sains adalah kunci masyarakat tangguh,&#8221; ungkapnya dalam kata pengantar buku tersebut.<\/p>\n<p>Senada, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi, menilai temuan rekaman seismogram 1926 dalam buku ini menjadi kontribusi ilmiah penting untuk menghitung kembali energi gempa masa lalu sebagai referensi mitigasi masa depan.<\/p>\n<p>Peluncuran buku ini merupakan bagian dari rangkaian Refleksi Satu Abad Gempa 1926\u00a0yang digelar Pemerintah Kota Padang Panjang. Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, I Putu Venda, menyatakan bahwa peringatan ini adalah momentum memperkuat solidaritas dan budaya sadar bencana.<\/p>\n<p>&#8220;Masyarakat Padang Panjang membuktikan mampu bangkit dari tragedi terbesar. Refleksi ini harus menjadi fondasi untuk membangun kota yang lebih tangguh di masa depan,&#8221; pungkasnya. (I-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/905251\/mengenang-seabad-gempa-dahsyat-padang-panjang-wartawan-media-indonesia-luncurkan-buku\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(Magnific) TEPAT\u00a0seabad yang lalu, pada 28 Juni 1926, Dataran Tinggi Padang (Padangsche Bovenlanden) di Sumatra&#8217;s Westkust diguncang gempa dahsyat yang menghancurkan wilayah tersebut. Menandai seratus tahun peristiwa bersejarah itu, Yose Hendra, seorang jurnalis Media Indonesia sekaligus peminat sejarah, resmi meluncurkan buku berjudul Gempa Tujuh Hari. Peluncuran buku dilakukan di kompleks Pusat Dokumentasi Informasi Kebudayaan Minangkabau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":64149,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-64148","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64148","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64148"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64148\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64149"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64148"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64148"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64148"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}