{"id":63201,"date":"2026-06-26T16:03:37","date_gmt":"2026-06-26T16:03:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/26\/perbedaan-wudhu-dalam-empat-mazhab-hanafi-maliki-syafii-hanbali\/"},"modified":"2026-06-26T16:03:37","modified_gmt":"2026-06-26T16:03:37","slug":"perbedaan-wudhu-dalam-empat-mazhab-hanafi-maliki-syafii-hanbali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/26\/perbedaan-wudhu-dalam-empat-mazhab-hanafi-maliki-syafii-hanbali\/","title":{"rendered":"Perbedaan Wudhu dalam Empat Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/26\/1782489553_3d791bd35c2cf08c09f2.jpg\" alt=\"Perbedaan Wudhu dalam Empat Mazhab: Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali\"\/><figcaption>Ilustrasi.(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/wudhu\" title=\"wudhu\">WUDHU<\/a> merupakan salah satu syarat sahnya salat dan berbagai ibadah lainnya dalam Islam. Secara harfiah, wudhu berarti kebersihan dan keindahan. Secara syariat, wudhu adalah tindakan menyucikan diri dari hadas kecil dengan menggunakan air pada anggota tubuh tertentu dengan cara-cara yang telah ditetapkan. Dasar utama pelaksanaan wudhu terdapat dalam Al-Qur&#8217;an, Surah Al-Ma&#8217;idah ayat 6.<\/p>\n<p>Meskipun rukun-rukun utamanya disepakati, terdapat beberapa perbedaan dalam detail pelaksanaannya di antara empat mazhab besar dalam fikih Sunni: Hanafi, Maliki, Syafi&#8217;i, dan Hanbali. Perbedaan ini bukanlah sebuah perpecahan, melainkan cerminan dari kekayaan dan fleksibilitas khazanah intelektual Islam (<em>ikhtilaf<\/em>) yang bersumber dari perbedaan dalam menafsirkan dalil-dalil syar&#8217;i.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Artikel ini akan menguraikan secara lengkap perbedaan-perbedaan utama dalam tata cara wudhu menurut keempat mazhab tersebut, mulai dari rukun, sunnah, hingga hal-hal yang membatalkannya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/904440\/enam-rukun-wudhu-menurut-mazhab-syafii-dan-penjelasannya-lengkap\" title=\"Enam Rukun Wudhu Menurut Mazhab Syafii dan Penjelasannya Lengkap\" target=\"_blank\">Enam Rukun Wudhu Menurut Mazhab Syafii dan Penjelasannya Lengkap<\/a><\/strong><\/p>\n<h2><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/rukun-wudhu\" title=\"rukun wudhu\">Rukun Wudhu<\/a>: Poin Kesepakatan dan Perbedaan Awal<\/h2>\n<p>Rukun atau fardu wudhu adalah bagian-bagian inti yang jika salah satunya ditinggalkan, maka wudhu dianggap tidak sah. Mayoritas ulama dari keempat mazhab sepakat pada empat rukun utama yang disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur&#8217;an:<\/p>\n<ol>&#13;<\/p>\n<li>Membasuh seluruh wajah.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Membasuh kedua tangan hingga siku.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Mengusap sebagian atau seluruh kepala.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Membasuh kedua kaki hingga mata kaki.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ol>\n<p>Namun, terdapat perbedaan pandangan mengenai dua hal lainnya, yaitu niat dan tertib (urutan).<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Niat (\u0646\u0650\u064a\u0651\u064e\u0629\u064c):<\/strong> Mazhab Syafi&#8217;i, Maliki, dan Hanbali memasukkan niat sebagai rukun wudhu. Tanpa niat di awal, wudhu tidak sah. Sementara itu, mazhab Hanafi menganggap niat sebagai syarat sah, bukan rukun, yang artinya harus ada namun posisinya sedikit berbeda secara teoretis. Secara praktik, semua mazhab mewajibkan adanya niat.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Tertib (\u0627\u0644\u062a\u064e\u0631\u0652\u062a\u0650\u064a\u0652\u0628\u064f):<\/strong> Melakukan rukun secara berurutan. Mazhab Syafi&#8217;i dan Hanbali mewajibkannya sebagai rukun. Jika tidak berurutan, wudhu harus diulang. Sebaliknya, mazhab Hanafi dan Maliki menganggap tertib sebagai sunnah mu&#8217;akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), sehingga wudhu tetap sah jika dilakukan tidak berurutan, meskipun makruh (dibenci).<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h2>Detail Perbedaan Wudhu di Antara Empat Mazhab<\/h2>\n<p>Berikut adalah rincian perbedaan dalam beberapa aspek penting pelaksanaan wudhu:<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/851121\/pengertian-wudhu-syarat-rukun-dan-tata-cara-sesuai-syariat\" title=\"Pengertian Wudhu: Syarat, Rukun, dan Tata Cara Sesuai Syariat\" target=\"_blank\">Pengertian Wudhu: Syarat, Rukun, dan Tata Cara Sesuai Syariat<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>1. Membaca Basmalah<\/h3>\n<p>Mengucapkan Bismillah\u00a0sebelum memulai wudhu memiliki hukum yang berbeda:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanbali:<\/strong> Wajib. Jika sengaja ditinggalkan, wudhu tidak sah. Namun, jika lupa, maka dimaafkan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi&#8217;i:<\/strong> Sunnah Mu&#8217;akkadah. Wudhu tetap sah jika tidak dibaca, namun kehilangan keutamaan.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h3>2. Mengusap Kepala<\/h3>\n<p>Perbedaan paling signifikan terletak pada batasan minimal bagian kepala yang harus diusap air.<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Syafi&#8217;i:<\/strong> Paling minimalis. Mengusap sebagian kecil kepala, bahkan tiga helai rambut yang masih berada dalam batas area kepala, sudah dianggap sah.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanafi:<\/strong> Wajib mengusap seperempat (1\/4) bagian kepala.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Maliki dan Hanbali:<\/strong> Wajib mengusap seluruh bagian kepala. Bagi wanita, cukup mengusap hingga bagian depan rambutnya.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h3>3. Muwalah (Berkesinambungan)<\/h3>\n<p><em>Muwalah<\/em> berarti melakukan rangkaian wudhu secara bersambung tanpa jeda yang lama hingga anggota wudhu sebelumnya kering.<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Maliki dan Hanbali:<\/strong> Menganggap <em>muwalah<\/em> sebagai rukun (wajib). Jika ada jeda panjang hingga anggota tubuh sebelumnya kering dalam cuaca normal, maka wudhu harus diulang dari awal.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanafi dan Syafi&#8217;i:<\/strong> Menganggapnya sebagai sunnah. Wudhu tetap sah meskipun ada jeda, selama niat masih terjaga.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h3>4. Hal-hal yang Membatalkan Wudhu<\/h3>\n<p>Ini adalah area dengan perbedaan yang paling sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<h4>a. Bersentuhan Kulit dengan Lawan Jenis (Bukan Mahram)<\/h4>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Syafi&#8217;i:<\/strong> Batal secara mutlak. Setiap sentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dan sudah baligh, tanpa penghalang, akan membatalkan wudhu kedua belah pihak.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanafi:<\/strong> Tidak batal sama sekali, kecuali jika sentuhan tersebut disertai syahwat yang menyebabkan keluarnya madzi.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Maliki dan Hanbali:<\/strong> Batal jika sentuhan tersebut disertai dengan syahwat (nafsu). Jika tidak ada syahwat, maka wudhu tidak batal.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h4>b. Menyentuh Kemaluan (Qubul\/Dubur)<\/h4>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Syafi&#8217;i, Maliki, dan Hanbali:<\/strong> Menyentuh kemaluan (milik sendiri atau orang lain) secara langsung dengan telapak tangan bagian dalam atau jari-jari bagian dalam akan membatalkan wudhu.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanafi:<\/strong> Tidak membatalkan wudhu, namun dianggap makruh (perbuatan yang sebaiknya dihindari).<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h4>c. Keluarnya Sesuatu Selain dari Dua Jalan (Qubul\/Dubur)<\/h4>\n<p>Ini mencakup darah, nanah, atau muntah.<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanafi:<\/strong> Batal jika darah atau nanah keluar dan mengalir dari lukanya. Muntah yang memenuhi mulut juga membatalkan wudhu.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Syafi&#8217;i dan Maliki:<\/strong> Tidak membatalkan wudhu. Yang membatalkan hanyalah apa yang keluar dari dua jalan (depan dan belakang).<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanbali:<\/strong> Batal jika darah, nanah, atau muntah yang keluar dianggap banyak menurut kebiasaan umum.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h4>d. Tidur<\/h4>\n<p>Semua mazhab sepakat bahwa tidur dapat membatalkan wudhu, namun berbeda dalam detailnya.<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Syafi&#8217;i:<\/strong> Tidur yang tidak dalam posisi duduk dengan pantat menempel rapat di lantai (<em>ghairu mutamakkin<\/em>) membatalkan wudhu. Tidur pulas dalam posisi apapun membatalkan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanafi:<\/strong> Batal jika tidur dalam posisi berbaring, bersandar, atau posisi lain yang memungkinkan keluarnya angin tanpa disadari. Tidur sambil duduk dengan pantat rapat di lantai tidak membatalkan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Maliki:<\/strong> Tidur pulas yang lama membatalkan, terlepas dari posisinya. Tidur ringan dan sebentar tidak membatalkan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanbali:<\/strong> Tidur pulas membatalkan, kecuali tidur ringan dalam posisi duduk atau berdiri.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h4>e. Makan Daging Unta<\/h4>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanbali:<\/strong> Memakan daging unta, baik mentah maupun matang, secara sengaja atau tidak, membatalkan wudhu. Ini didasarkan pada hadis sahih yang secara eksplisit memerintahkannya.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi&#8217;i:<\/strong> Tidak membatalkan wudhu. Mereka berpendapat bahwa perintah tersebut telah dihapus (<em>mansukh<\/em>) atau hanya bersifat anjuran (sunnah).<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Untuk memudahkan pemahaman, berikut tabel perbandingan poin-poin utama perbedaan wudhu di antara empat mazhab:<\/p>\n<table style=\"width:100%; border-collapse: collapse;\">&#13;<\/p>\n<thead style=\"background-color:#f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Aspek<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Mazhab Hanafi<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Mazhab Maliki<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Mazhab Syafi&#8217;i<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px; text-align: left;\">Mazhab Hanbali<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Niat<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Syarat Sah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Rukun<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Rukun<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Rukun<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Basmalah<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Sunnah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Sunnah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Sunnah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Wajib<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Tertib (Urutan)<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Sunnah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Sunnah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Rukun<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Rukun<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Muwalah (Bersambung)<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Sunnah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Rukun<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Sunnah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Rukun<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Mengusap Kepala<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Wajib 1\/4 kepala<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Wajib seluruh kepala<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Sah walau sebagian kecil<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Wajib seluruh kepala<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Sentuhan Lawan Jenis<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Tidak batal (kecuali dengan syahwat hingga keluar madzi)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Batal jika dengan syahwat<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Batal secara mutlak<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Batal jika dengan syahwat<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\"><strong>Makan Daging Unta<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Tidak batal<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Tidak batal<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Tidak batal<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 8px;\">Batal<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h2>Sikap Bijak Menghadapi Perbedaan<\/h2>\n<p>Perbedaan pendapat (<em>ikhtilaf<\/em>) dalam masalah fikih, termasuk wudhu, merupakan rahmat dan bukti keluasan syariat Islam. Para imam mazhab adalah ulama-ulama besar yang mendedikasikan hidupnya untuk menggali hukum dari Al-Qur&#8217;an dan Sunnah dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan. Perbedaan yang muncul bukanlah karena hawa nafsu, melainkan hasil ijtihad yang didasari oleh perbedaan dalam memahami dalil.<\/p>\n<p>Bagi seorang Muslim, sikap yang paling bijak adalah mengikuti mazhab yang diyakini atau yang umum dianut di lingkungannya, sambil tetap menghormati dan tidak menyalahkan praktik penganut mazhab lain. Memahami perbedaan ini justru akan menambah wawasan dan menumbuhkan sikap toleransi dalam beragama.<\/p>\n<hr\/>\n<h3>Frequently Asked Questions (FAQ)<\/h3>\n<p>Berikut beberapa pertanyaan yang sering diajukan terkait perbedaan wudhu antar mazhab:<\/p>\n<p><strong>1. Mazhab apa yang paling banyak dianut di Indonesia?<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nMayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti mazhab Syafi&#8217;i. Oleh karena itu, praktik wudhu yang umum diajarkan di sekolah dan masyarakat adalah berdasarkan pandangan mazhab Syafi&#8217;i, seperti batalnya wudhu karena bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram.<\/p>\n<p><strong>2. Apakah saya harus mengulang wudhu jika ragu-ragu batal atau tidak?<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nDalam kaidah fikih, &#8220;Keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keraguan&#8221; (<em>Al-yaq\u012bnu l\u0101 yuz\u0101lu bisy-syakk<\/em>). Jika Anda yakin sudah berwudhu dan hanya ragu-ragu apakah wudhu Anda batal atau tidak, Anda dianggap masih dalam keadaan suci dan tidak perlu mengulang wudhu.<\/p>\n<p><strong>3. Apakah tertawa terbahak-bahak membatalkan wudhu?<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nMenurut mazhab Hanafi, tertawa terbahak-bahak hingga terdengar oleh orang di sebelahnya saat sedang salat dapat membatalkan wudhu dan salatnya sekaligus. Namun, di luar salat, tertawa tidak membatalkan wudhu. Sementara itu, menurut mazhab Syafi&#8217;i, Maliki, dan Hanbali, tertawa tidak membatalkan wudhu sama sekali, baik di dalam maupun di luar salat.<\/p>\n<p><strong>4. Mengapa ada perbedaan pendapat di antara para ulama mazhab?<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nPerbedaan pendapat muncul karena beberapa faktor, antara lain: perbedaan dalam menilai status sebuah hadis (sahih, dhaif), perbedaan dalam menafsirkan teks Al-Qur&#8217;an dan hadis yang memiliki kemungkinan banyak makna (<em>lafazh musytarak<\/em>), serta perbedaan dalam menggunakan metode penggalian hukum (<em>istinbath al-ahkam<\/em>) seperti qiyas, istihsan, atau &#8216;urf.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/904859\/perbedaan-wudhu-dalam-empat-mazhab-hanafi-maliki-syafii-hanbali\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(Magnific) WUDHU merupakan salah satu syarat sahnya salat dan berbagai ibadah lainnya dalam Islam. Secara harfiah, wudhu berarti kebersihan dan keindahan. Secara syariat, wudhu adalah tindakan menyucikan diri dari hadas kecil dengan menggunakan air pada anggota tubuh tertentu dengan cara-cara yang telah ditetapkan. Dasar utama pelaksanaan wudhu terdapat dalam Al-Qur&#8217;an, Surah Al-Ma&#8217;idah ayat 6. Meskipun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":63202,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-63201","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63201","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63201"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63201\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}