{"id":63157,"date":"2026-06-26T14:08:45","date_gmt":"2026-06-26T14:08:45","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/26\/manusia-dan-kera-besar-tertawa-dengan-cara-sama-sejak-15-juta-tahun-lalu\/"},"modified":"2026-06-26T14:08:45","modified_gmt":"2026-06-26T14:08:45","slug":"manusia-dan-kera-besar-tertawa-dengan-cara-sama-sejak-15-juta-tahun-lalu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/26\/manusia-dan-kera-besar-tertawa-dengan-cara-sama-sejak-15-juta-tahun-lalu\/","title":{"rendered":"Manusia dan Kera Besar Tertawa dengan Cara Sama Sejak 15 Juta Tahun Lalu"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/26\/1782482694_d378424fdd5c197da8ee.jpeg\" alt=\"Manusia dan Kera Besar Tertawa dengan Cara Sama Sejak 15 Juta Tahun Lalu\"\/><figcaption>Manusia dan kera besar berbagi pola tawa ritmis yang sama.(Dok. WWF\/Megan Smith)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SEBUAH studi baru yang diterbitkan dalam jurnal <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/communications-biology\" title=\"Communications Biology\">Communications Biology<\/a> mengungkap fakta mengejutkan tentang asal-usul tawa. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa manusia dan kerabat <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/primata\" title=\"primata\">primata<\/a> terdekatnya, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kera-besar\" title=\"kera besar\">kera besar<\/a>, berbagi cara <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tertawa\" title=\"Tertawa\">tertawa<\/a> yang sangat mirip, sebuah warisan evolusi yang diperkirakan telah ada sejak 15 juta tahun yang lalu.<\/p>\n<p>Tim peneliti internasional menganalisis rekaman video dari 13 kera besar, termasuk gorila, orangutan, simpanse, dan bonobo, saat mereka digelitik. Data ini kemudian dibandingkan dengan rekaman tawa dari empat anak kecil berusia 6 bulan hingga 7 tahun yang juga digelitik atau sedang bermain.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Hasil analisis dari 140 urutan tawa menemukan bahwa saat digelitik, baik kera maupun manusia menghasilkan tawa dengan pola ritmis yang konsisten, layaknya detak jam. Kemiripan ini menjadi bukti kuat adanya hubungan evolusioner dengan nenek moyang yang sama.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/893974\/mengapa-mayoritas-manusia-gunakan-tangan-kanan-ini-penjelasan-sains-terbaru\" title=\"Mengapa Mayoritas Manusia Gunakan Tangan Kanan? Ini Penjelasan Sains Terbaru\" target=\"_blank\">Mengapa Mayoritas Manusia Gunakan Tangan Kanan? Ini Penjelasan Sains Terbaru<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cDalam satu hal, kita sangat mirip dengan kera besar lainnya karena kita telah tertawa dengan cara yang sama selama 15 juta tahun,\u201d kata <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/chiara-de-gregorio\" title=\"Chiara De Gregorio\">Chiara De Gregorio<\/a>, penulis utama studi dan seorang primatolog dari University of Warwick, berdasarkan laporan National Geographic.<\/p>\n<p>Meskipun memiliki ritme dasar yang sama, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tawa-manusia\" title=\"tawa manusia\">tawa manusia<\/a> berevolusi menjadi lebih cepat dibandingkan spesies lain. Studi ini juga menemukan bahwa spesies yang secara evolusioner lebih dekat dengan manusia, seperti bonobo dan simpanse, dapat tertawa lebih cepat daripada gorila atau orangutan.<\/p>\n<p>Perbedaan ini menunjukkan bahwa manusia mengembangkan fleksibilitas vokal yang lebih besar selama evolusi. Kemampuan ini tidak hanya memungkinkan tawa yang lebih bervariasi, tetapi juga diduga kuat menjadi pendorong evolusi kemampuan berbicara dan berbahasa pada manusia.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa manusia adalah satu-satunya spesies yang mampu menyesuaikan jenis tawanya berdasarkan konteks sosial. Tawa manusia saat digelitik terdengar berbeda dari tawa saat bermain biasa, sebuah kemampuan adaptasi sosial yang tidak ditemukan pada kera muda. \u201cKita mampu tertawa dengan cara yang sopan di depan ratu, tetapi kemudian ketika kita bersama teman-teman kita di pub, kita bisa tertawa dengan cara yang sama sekali berbeda,\u201d jelas De Gregorio.<\/p>\n<p>Studi ini membuka jalan bagi pertanyaan baru. Langkah berikutnya bagi para peneliti adalah menyelidiki apakah kera besar dewasa dapat belajar mengendalikan tawa mereka seiring bertambahnya usia, sebuah kemampuan yang sangat lekat dengan interaksi sosial manusia. (<em>National Geographic\/Independent\/Z-10)<\/em><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/904808\/manusia-dan-kera-besar-tertawa-dengan-cara-sama-sejak-15-juta-tahun-lalu\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manusia dan kera besar berbagi pola tawa ritmis yang sama.(Dok. WWF\/Megan Smith) SEBUAH studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Communications Biology mengungkap fakta mengejutkan tentang asal-usul tawa. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa manusia dan kerabat primata terdekatnya, kera besar, berbagi cara tertawa yang sangat mirip, sebuah warisan evolusi yang diperkirakan telah ada sejak 15 juta tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":63158,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-63157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63157"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63157\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63158"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}