{"id":62817,"date":"2026-06-25T22:10:54","date_gmt":"2026-06-25T22:10:54","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/25\/rumi-dan-kecemasan-relasional-perempuan-modern\/"},"modified":"2026-06-25T22:10:54","modified_gmt":"2026-06-25T22:10:54","slug":"rumi-dan-kecemasan-relasional-perempuan-modern","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/25\/rumi-dan-kecemasan-relasional-perempuan-modern\/","title":{"rendered":"Rumi dan Kecemasan Relasional Perempuan Modern"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<div class=\"owl-carousel dt-foto-slider\">\n<div class=\"item\">\n<figure class=\"main-img\">\n                                            <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/26\/1782414391_02232ce884a77c36b2b3.jpg\" style=\"width:100%\" alt=\"MI\/Seno\"\/><figcaption>MI\/Seno(Dok. Pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DI tengah hiruk-pikuk <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/media-sosial\" title=\"Media Sosial\">media sosial<\/a> saat ini, muncul fenomena <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kecemasan-relasional\" title=\"Kecemasan Relasional\">kecemasan relasional<\/a> yang menimpa banyak perempuan. Saya menemukan fenomena itu di kelas, di pengajian, atau dalam pesan-pesan yang berseliweran di ponsel.<\/p>\n<p>Tekanan menikah pada usia tertentu, standar kecantikan yang dipantulkan algoritma media sosial, beban ganda antara karier dan rumah tangga, hingga budaya kencan digital menimbulkan pertanyaan tentang apakah dirinya layak dicintai atau tidak. Akumulasinya menjadi satu jenis luka yang sama: rasa tidak aman dalam relasi.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Dampaknya acap kali lebih serius daripada yang sering kita sadari. Banyak perempuan hidup dengan kekhawatiran relasional yang melelahkan. Mereka takut ditinggalkan, takut tidak dipilih, dan takut sendirian. Identitasnya perlahan bergantung pada validasi dari luar. Ketika relasi itu hilang atau berubah, yang runtuh bukan hanya hubungan, melainkan juga rasa berharga dalam diri.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/806282\/yuk-jaga-kesehatan-mental-dengan-cara-hindari-kabar-tak-berfaedah\" target=\"_blank\" title=\"Yuk Jaga Kesehatan Mental dengan Cara Hindari Kabar tak Berfaedah\">Yuk Jaga Kesehatan Mental dengan Cara Hindari Kabar tak Berfaedah<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Psikologi modern telah menjelaskan berbagai faktor pemicunya, mulai &lt;<em>I&gt;insecure attachment<\/em><\/p>\n<p>hingga kebutuhan akan validasi sosial. Namun, di luar penjelasan psikologis itu, tradisi spiritual menawarkan cara lain untuk memahami akar persoalannya. Di sinilah saya menemukan bahwa tasawuf, khususnya melalui pembacaan Jalaluddin <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/rumi\" title=\"Rumi\">Rumi<\/a>, menghadirkan jawaban yang mengejutkan. Faktor pertama yang perlu dipulihkan bukan hubungan kita dengan orang lain, melainkan cara kita memandang relasinya.<\/p>\n<p>Pemahaman itu justru saya peroleh ketika mengisi kelas khusus tasawuf tentang figur-figur perempuan dalam tafsir Rumi. Semula saya mengira Maryam, Zulaikha, dan ibu Nabi Musa hanya hadir sebagai bagian dari kisah para nabi. Namun, di tangan Rumi, mereka tampil sebagai subjek yang menjalani perjalanan spiritual sendiri.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/hiburan\/801282\/bersama-menjaga-privasi-data-di-ruang-digital\" target=\"_blank\" title=\"Bersama Menjaga Privasi Data di Ruang Digital\">Bersama Menjaga Privasi Data di Ruang Digital<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Para peserta kelas ternyata tidak sekadar ingin mendengar kisah-kisah itu. Mereka ingin menemukan diri masing-masing di dalamnya. Nama-nama tersebut berubah menjadi cermin batin. Dari situlah saya melihat satu benang merah yang sebelumnya tidak saya sadari. Ketiga perempuan itu mengajarkan cara berelasi yang lahir dari kesadaran, bukan dari rasa takut.<\/p>\n<p>Belakangan saya menemukan bahwa pandangan Rumi itu memiliki gema yang menarik dalam pemikiran filsuf Martin Buber melalui konsep <em>I-Thou<\/em>. Meskipun keduanya dipisahkan tujuh abad dan dua tradisi keagamaan yang berbeda, mereka sama-sama melihat bahwa kualitas hidup manusia ditentukan kualitas relasinya. Bedanya, Buber berhenti pada relasi sebagai puncak pengalaman eksistensial. Rumi melihat relasi sebagai jalan menuju transformasi batin yang lebih dalam.<\/p>\n<p>Saya menyebut jalan itu sebagai relasi sadar: relasi yang lahir dari kehadiran batin, bukan dari rasa takut kehilangan, dorongan untuk menguasai, atau kebutuhan terus-menerus akan validasi.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>KETIKA YANG LAIN BERUBAH MENJADI OBJEK<\/strong><\/p>\n<p>Buber membedakan dua cara manusia berelasi. Pertama, <em>I-It<\/em>, ketika orang lain diperlakukan sebagai objek yang dinilai, digunakan, atau diukur berdasarkan manfaatnya. Kedua,<em>\u00a0I-Thou<\/em>, ketika seseorang dijumpai sebagai pribadi yang utuh, bukan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kita.<\/p>\n<p>Relasi I<em>-It<\/em> bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Dalam kehidupan sehari-hari kita memang memerlukannya ketika bekerja, mengatur, atau mengambil keputusan praktis. Masalah muncul ketika pola itu meluas ke seluruh kehidupan. Bahkan, orang-orang yang kita cintai pun diperlakukan sebagai sarana untuk mengisi kekosongan batin sendiri.<\/p>\n<p>Dalam konteks perempuan, masalahnya pola demikian dominan dalam kehidupan kini. Perempuan dinilai dari status pernikahannya, usianya, produktivitasnya, atau keberhasilannya menjalankan berbagai peran sosial. Bahkan, perempuan di ranah domestik pun menjadi sarana bagi pasangan demi kepuasannya, bukan lagi pribadi yang dijumpai apa adanya. Di titik itulah luka biasanya bermula. Relasi berhenti menjadi perjumpaan dan berubah menjadi transaksi.<\/p>\n<p>Menariknya, Rumi membaca kisah-kisah perempuan dalam Al-Qur&#8217;an dengan cara yang sangat berbeda. Maryam, Zulaikha, dan ibu Musa tidak hadir sebagai pelengkap kisah para nabi, tetapi sebagai subjek yang mengalami perjalanan spiritual mereka sendiri. Relasi mereka dengan Tuhan menjadi ruang transformasi, bukan sekadar latar sebuah peristiwa.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>TIGA WAJAH RELASI SADAR<\/strong><\/p>\n<p>Figur pertama ialah Maryam. Dalam tafsir Rumi, Maryam bukan sekadar ibu Nabi Isa, melainkan juga lambang hati yang jernih dan reseptif. Ketika menerima kabar bahwa ia akan mengandung, Maryam memang bertanya, &#8220;Bagaimana mungkin aku mempunyai anak?&#8221; Pertanyaan itu bukan lahir dari penolakan, melainkan dari keinginan memahami kehendak Ilahi.<\/p>\n<p>Di sinilah letak kedalaman spiritualnya. Maryam tidak meniadakan akalnya, tetapi juga tidak menjadikan akalnya sebagai benteng untuk menolak panggilan Ilahi. Ia hadir sepenuhnya dalam dialog dengan Tuhannya. Rumi menggambarkan hati semacam ini sebagai &#8216;rahim spiritual&#8217;, sebuah metafora bagi jiwa yang bersedia menerima cahaya Ilahi tanpa lebih dahulu menuntut jaminan bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan harapan.<\/p>\n<p>Sikap Maryam terasa sangat relevan bagi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/perempuan-modern\" title=\"Perempuan Modern\">perempuan modern<\/a>. Banyak dari kita terbiasa buru-buru menghitung kemungkinan, menebak-nebak hasil, dan berusaha mengamankan diri sebelum berani membuka hati. Kebiasaan itu sering lahir dari pengalaman pernah terluka. Maryam menunjukkan kemungkinan lain: keterbukaan bukanlah kepolosan, melainkan keberanian untuk hadir tanpa harus mengendalikan segala sesuatu.<\/p>\n<p>Figur kedua Zulaikha. Rumi tidak pernah menggambarkan jalan spiritual sebagai jalan yang bebas dari luka. Luka justru sering kali menjadi pintu. Pada mulanya, cinta Zulaikha kepada Nabi Yusuf ialah cinta yang ingin memiliki. Yusuf menjadi objek hasratnya. Namun, penolakan dan kehancuran yang ia alami perlahan memurnikan arah cintanya. Ia tidak berhenti mencintai. Namun, orientasi cintanya berubah, dari sosok yang dicintai menuju sumber dari segala cinta.<\/p>\n<p>Di sinilah pembacaan Rumi terasa menarik. Jika Buber menunjukkan pentingnya relasi yang membebaskan manusia dari hubungan yang saling memanfaatkan, Rumi memperlihatkan bahwa relasi itu masih dapat bergerak lebih jauh. Luka tidak hanya disembuhkan, tetapi juga mentransformasikan jiwa. Karena itu, bagi perempuan yang pernah patah hati, kisah Zulaikha membawa kabar yang membebaskan: patah hati bukan kegagalan spiritual, melainkan kesempatan agar cinta dibersihkan dari keinginan memiliki.<\/p>\n<p>Figur ketiga ibu Musa. Tidak ada keputusan yang lebih membelah jiwa seorang ibu daripada menghanyutkan bayinya sendiri ke sungai. Namun, dalam tafsir Rumi, tindakan itu bukan lahir dari kepasrahan pasif, melainkan dari keberanian meyakini Tuhan secara personal.<\/p>\n<p>Dalam bahasa Buber, Tuhan tidak lagi dialami sebagai &#8216;Dia&#8217; yang dibicarakan dari kejauhan, melainkan sebagai &#8216;Engkau&#8217; yang benar-benar dihadapi. Banyak perempuan kesulitan melepaskan hubungan, identitas lama, atau luka yang telah lama dipeluk. Kisah ibu Musa memperlihatkan bahwa melepaskan bukan berarti kehilangan cinta, melainkan memercayakan cinta kepada sumber yang lebih besar daripada diri kita sendiri.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>DARI RELASI MENUJU INTEGRASI<\/strong><\/p>\n<p>Pengalaman spiritual Rumi menunjukkan semakin dalam relasi seseorang dengan Tuhan, semakin berubah pula cara ia mengalami kehadiran-Nya. Pengalaman spiritual yang mendalam tidak membuat seseorang meninggalkan dunia. Justru setelah mengalami transformasi batin, ia kembali kepada sesama dengan cara mencintai yang berbeda: tidak lagi bergantung, tetapi juga tidak menjauh. Relasi tidak ditinggalkan, tetapi dimurnikan.<\/p>\n<p>Pengalaman Rumi bersama Syams dari Tabriz memperlihatkan hal itu. Pada awalnya, Syams ialah sosok yang mengguncang seluruh kehidupannya. Namun, ketika Syams menghilang, Rumi tidak kehilangan pusat dirinya. Kehadiran Syams telah bertransformasi menjadi cahaya batin yang terus hidup dalam dirinya. Ia tetap mengajar, tetap menulis puisi, tetap mencintai murid-muridnya. Kesatuan tidak mengakhiri relasi, tetapi memperhalus kualitas relasi itu sendiri.<\/p>\n<p>Bagi kesehatan mental perempuan, sintesis itu membawa makna yang sangat penting. Selama identitas seseorang sepenuhnya bergantung pada relasi di luar dirinya, kehilangan akan selalu terasa sebagai kehancuran diri. Sebaliknya, ketika seseorang memiliki pusat batin yang kukuh, ia tidak lagi mencintai untuk mengisi kekosongan atau memohon agar dipilih demi merasa cukup. Ia mencintai dari kelimpahan batin, bukan dari kekurangan.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>PESAN YANG MELAMPAUI PEREMPUAN<\/strong><\/p>\n<p>Figur-figur perempuan dalam Al-Qur&#8217;an, melalui pembacaan Rumi, memperlihatkan bahwa luka, kesendirian, dan pengorbanan dapat menjadi ambang menuju kedalaman spiritual, bukan akhir dari kehidupan. Pesan itu tidak hanya ditujukan kepada perempuan. Rumi sendiri belajar tentang keintiman dengan Tuhan melalui kisah-kisah mereka. Dengan demikian, spiritualitas feminin bukan monopoli perempuan, melainkan kualitas batin yang dapat tumbuh pada siapa saja: keberanian untuk menerima, kesediaan untuk percaya, dan kemampuan mencintai tanpa harus memiliki.<\/p>\n<p>Kembali kepada kecemasan relasional yang membuka tulisan ini, mungkin yang sebenarnya dibutuhkan perempuan modern bukanlah semakin banyak kontrol atas relasinya. Mereka membutuhkan keberanian untuk membangun relasi yang lebih sadar.<\/p>\n<p>Maryam mengajarkan keberanian untuk hadir. Zulaikha mengajarkan bahwa luka dapat dimurnikan menjadi cinta yang lebih bebas. Ibu Musa mengajarkan bahwa melepaskan bukanlah kekalahan. Ketiganya tidak berakhir pada kehilangan diri, melainkan pada diri yang lebih utuh.<\/p>\n<p>Di situlah Rumi, melalui pembacaannya atas figur-figur perempuan Al-Qur&#8217;an, menawarkan jawaban yang masih terasa sangat relevan hingga kini. Cinta yang matang bukan lahir dari rasa takut kehilangan, melainkan dari keberanian untuk hadir sepenuhnya.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/904512\/rumi-dan-kecemasan-relasional-perempuan-modern\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MI\/Seno(Dok. Pribadi) DI tengah hiruk-pikuk media sosial saat ini, muncul fenomena kecemasan relasional yang menimpa banyak perempuan. Saya menemukan fenomena itu di kelas, di pengajian, atau dalam pesan-pesan yang berseliweran di ponsel. Tekanan menikah pada usia tertentu, standar kecantikan yang dipantulkan algoritma media sosial, beban ganda antara karier dan rumah tangga, hingga budaya kencan digital [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-62817","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62817","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62817"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62817\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62817"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62817"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62817"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}