{"id":62281,"date":"2026-06-24T20:38:43","date_gmt":"2026-06-24T20:38:43","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/gangguan-kepribadian-antisosial-bisa-picu-kekerasan-berulang-tanpa-rasa-bersalah\/"},"modified":"2026-06-24T20:38:43","modified_gmt":"2026-06-24T20:38:43","slug":"gangguan-kepribadian-antisosial-bisa-picu-kekerasan-berulang-tanpa-rasa-bersalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/gangguan-kepribadian-antisosial-bisa-picu-kekerasan-berulang-tanpa-rasa-bersalah\/","title":{"rendered":"Gangguan Kepribadian Antisosial Bisa Picu Kekerasan Berulang tanpa Rasa Bersalah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/24\/1782311650_673be3b10f2108c30024.jpeg\" alt=\"Gangguan Kepribadian Antisosial Bisa Picu Kekerasan Berulang tanpa Rasa Bersalah\"\/><figcaption>Gangguan kepribadian tertentu dapat membuat seseorang bertindak kejam terhadap orang lain.(Dok. Polri)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PSIKOLOG Samanta Clara Elsener,\u00a0mengatakan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gangguan-kepribadian\" title=\"gangguan kepribadian\">gangguan kepribadian<\/a> tertentu dapat membuat seseorang bertindak kejam terhadap orang lain, termasuk melakukan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kekerasan-berulang\" title=\"kekerasan berulang\">kekerasan berulang<\/a> tanpa merasa bersalah.<\/p>\n<p>&#8220;Dalam psikologi, kita mengenal istilah gangguan kepribadian <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/antisosial\" title=\"antisosial\">antisosial<\/a> atau <em><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/antisocial-personality-disorder\" title=\"Antisocial Personality Disorder\">Antisocial Personality Disorder<\/a><\/em> (ASPD), yang di masyarakat awam sering disebut sebagai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/psikopat\" title=\"psikopat\">psikopat<\/a> atau <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sosiopat\" title=\"sosiopat\">sosiopat<\/a>,&#8221; kata pengurus Himpunan Psikologi Indonesia itu dilansir dari\u00a0<em>Antara,\u00a0<\/em>Rabu (24\/6).<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Samanta menegaskan kondisi tersebut tidak bisa disamakan dengan sifat galak atau mudah marah. Menurut dia, gangguan kepribadian antisosial merupakan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gangguan-mental\" title=\"gangguan mental\">gangguan mental<\/a> serius yang memengaruhi cara seseorang memproses emosi dan berhubungan dengan orang lain.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/871607\/mudik-bukan-sekadar-perjalanan-fisik-waspadai-risiko-gangguan-mental\" title=\"Mudik: Bukan Sekadar Perjalanan Fisik, Waspadai Risiko Gangguan Mental\" target=\"_blank\">Mudik: Bukan Sekadar Perjalanan Fisik, Waspadai Risiko Gangguan Mental<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Ini bukan sekadar karakter galak atau pemarah, melainkan gangguan mental yang serius. Orang dengan kondisi ini memiliki struktur otak yang berbeda dalam memproses emosi, sehingga tidak ada empatinya,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Menurut Samanta, orang dengan gangguan kepribadian antisosial biasanya menunjukkan perilaku manipulatif, sulit berempati, dan cenderung memandang orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan pribadinya.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, seseorang dengan kondisi tersebut dapat menyakiti orang lain tanpa merasakan penyesalan. Ketiadaan rasa bersalah itu membuat perilaku kekerasan bisa terjadi berulang.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/869511\/hampir-10-persen-anak-alami-gejala-gangguan-mental-perlu-penguatan-puskesmas-dan-posyandu\" title=\"Hampir 10 Persen Anak Alami Gejala Gangguan Mental, Perlu Penguatan Puskesmas dan Posyandu\" target=\"_blank\">Hampir 10 Persen Anak Alami Gejala Gangguan Mental, Perlu Penguatan Puskesmas dan Posyandu<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Mereka tidak memiliki rasa bersalah atau <em>lack of remorse<\/em>, tidak punya empati, pandai memanipulasi, dan melihat orang lain bukan sebagai sesama manusia, melainkan sebagai objek untuk memenuhi kepuasan atau kebutuhan mereka sendiri,&#8221; kata Samanta.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi, saat menyiksa mereka benar-benar tidak merasakan kompas moral yang berbunyi bahwa tindakan itu salah,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Penjelasan itu mengemuka di tengah perhatian terhadap kasus seorang perempuan berusia 29 tahun yang didapati menjadi korban penyekapan dan penganiayaan berat selama tiga tahun.<\/p>\n<p>Perempuan asal Kabupaten Bandung itu dilaporkan hilang kontak dengan keluarga sejak 2023. Ia kemudian ditemukan dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah disekap dan dianiaya oleh kekasihnya selama tiga tahun.<\/p>\n<p>Kepada ayahnya, korban mengaku mengalami penganiayaan luar biasa kejam dalam tiga tahun terakhir. Selama kurun tersebut, pelaku disebut kerap memindahkan korban dari satu tempat kos ke tempat kos lain di daerah Cileunyi, Kabupaten Bandung, untuk menghindari kecurigaan warga sekitar. (Z-10)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/904013\/gangguan-kepribadian-antisosial-bisa-picu-kekerasan-berulang-tanpa-rasa-bersalah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gangguan kepribadian tertentu dapat membuat seseorang bertindak kejam terhadap orang lain.(Dok. Polri) PSIKOLOG Samanta Clara Elsener,\u00a0mengatakan gangguan kepribadian tertentu dapat membuat seseorang bertindak kejam terhadap orang lain, termasuk melakukan kekerasan berulang tanpa merasa bersalah. &#8220;Dalam psikologi, kita mengenal istilah gangguan kepribadian antisosial atau Antisocial Personality Disorder (ASPD), yang di masyarakat awam sering disebut sebagai psikopat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":62282,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-62281","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62281"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62281\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/62282"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}