{"id":62265,"date":"2026-06-24T19:54:01","date_gmt":"2026-06-24T19:54:01","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/garnet-pertama-dari-mars-ditemukan-di-meteorit-nwa-8171\/"},"modified":"2026-06-24T19:54:01","modified_gmt":"2026-06-24T19:54:01","slug":"garnet-pertama-dari-mars-ditemukan-di-meteorit-nwa-8171","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/garnet-pertama-dari-mars-ditemukan-di-meteorit-nwa-8171\/","title":{"rendered":"Garnet Pertama dari Mars Ditemukan di Meteorit NWA 8171"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/24\/1782312789_154308b8d86a2e21c58f.jpeg\" alt=\"Garnet Pertama dari Mars Ditemukan di Meteorit NWA 8171\"\/><figcaption>Garnet dalam fragmen meteorit Mars NWA 8171 yang jatuh ke Bumi.(Dok. Robert M. Lavinsky)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SEKELOMPOL ilmuwan menemukan beberapa butiran <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/garnet\" title=\"Garnet\">garnet<\/a> dalam fragmen <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/meteorit-mars-nwa-8171\" title=\"meteorit Mars NWA 8171\">meteorit Mars NWA 8171<\/a> yang jatuh ke Bumi. Temuan itu disebut sebagai identifikasi pertama mineral garnet dalam sampel dari Planet Merah dan membuka teka-teki baru tentang proses geologi Mars.<\/p>\n<p>Mineral tersebut ditemukan pada batu meteorit yang kini tersimpan dalam koleksi Royal Ontario Museum. Keberadaannya memicu pertanyaan karena di Bumi, garnet biasanya terbentuk dalam kondisi ekstrem, seperti panas tinggi, tekanan besar, atau perubahan kimiawi tertentu.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Planetolog Tanya Kizovski dari Brock University, Kanada, mengatakan penemuan itu dapat memperluas pemahaman ilmuwan tentang perubahan yang pernah terjadi di Mars.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/892641\/logam-tanah-jarang-peta-kekuatan-global-dan-ambisi-non-tiongkok\" title=\"Logam Tanah Jarang: Peta Kekuatan Global dan Ambisi Non-Tiongkok\" target=\"_blank\">Logam Tanah Jarang: Peta Kekuatan Global dan Ambisi Non-Tiongkok<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cJenis batuan baru yang mengandung garnet ini dapat memberi kita petunjuk tentang bagaimana Mars telah berubah sepanjang sejarahnya dan wawasan baru tentang lingkungan kuno yang bisa membentuk garnet dan mineral terkait,&#8221; ungkap Kizovski sebagaimana dilansir dari ScienceAlert.<\/p>\n<h2>Sempat Dikira Piroksen<\/h2>\n<p>Garnet kerap diasosiasikan dengan warna merah darah yang pekat. Namun, garnet yang ditemukan dalam meteorit Mars ini merupakan jenis andradite yang kaya zat besi dan berwarna hijau kekuningan.<\/p>\n<p>Warna tersebut membuatnya sangat mirip dengan mineral meteorit lain sehingga sempat tidak terlihat menonjol. Para peneliti awalnya bahkan mengira mineral itu adalah piroksen, mineral yang umum ditemukan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/881642\/mengenal-logam-tanah-jarang-manfaat-dan-lokasi-cadangan\" title=\"Mengenal Logam Tanah Jarang: Manfaat dan Lokasi Cadangan\" target=\"_blank\">Mengenal Logam Tanah Jarang: Manfaat dan Lokasi Cadangan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cPada awalnya, kami mengira itu adalah mineral yang disebut piroksen, yang sangat umum, tetapi kemudian kami memutuskan untuk melihatnya kembali untuk kedua kalinya,\u201d kata Kizovski.<\/p>\n<p>Analisis lanjutan kemudian mengonfirmasi mineral tersebut sebagai andradite. Jumlahnya sangat sedikit, hanya beberapa butir dalam fragmen batuan kecil berukuran sekitar 0,8 kali 0,5 milimeter atau lebih kecil daripada sebutir biji sesawi.<\/p>\n<h2>Petunjuk Sejarah Magma Purba<\/h2>\n<p>Meteorit NWA 8171 selama ini menjadi objek penting bagi ilmuwan keplanetan. Batu tersebut terdiri atas breksi basaltik, yaitu batuan yang terbentuk saat magma mendingin dan mengeras di sekitar gumpalan mineral lain.<\/p>\n<p>Penemuan garnet di dalamnya dinilai penting karena mineral ini dapat merekam kondisi geologi tempat ia terbentuk. Garnet mampu menyimpan informasi tentang suhu, tekanan, lini masa pembentukan, hingga kandungan kimia lingkungan sekitarnya.<\/p>\n<p>Meski demikian, para peneliti belum mengetahui secara pasti bagaimana garnet itu terbentuk di Mars. Kemungkinannya masih terbuka, mulai dari magma yang tidak biasa, proses metamorfosis, hingga dugaan bahwa mineral tersebut berasal dari luar angkasa sebelum menyatu dalam batuan breksi. (<em>Jurnal\u00a0<\/em><em>Geochemical Perspectives Letters\/<\/em>Z-10)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/904018\/garnet-pertama-dari-mars-ditemukan-di-meteorit-nwa-8171\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Garnet dalam fragmen meteorit Mars NWA 8171 yang jatuh ke Bumi.(Dok. Robert M. Lavinsky) SEKELOMPOL ilmuwan menemukan beberapa butiran garnet dalam fragmen meteorit Mars NWA 8171 yang jatuh ke Bumi. Temuan itu disebut sebagai identifikasi pertama mineral garnet dalam sampel dari Planet Merah dan membuka teka-teki baru tentang proses geologi Mars. Mineral tersebut ditemukan pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":62266,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-62265","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62265","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62265"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62265\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/62266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62265"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62265"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62265"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}