{"id":62217,"date":"2026-06-24T17:47:40","date_gmt":"2026-06-24T17:47:40","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/latihan-beban-90-120-menit-per-minggu-dikaitkan-dengan-umur-lebih-panjang\/"},"modified":"2026-06-24T17:47:40","modified_gmt":"2026-06-24T17:47:40","slug":"latihan-beban-90-120-menit-per-minggu-dikaitkan-dengan-umur-lebih-panjang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/latihan-beban-90-120-menit-per-minggu-dikaitkan-dengan-umur-lebih-panjang\/","title":{"rendered":"Latihan Beban 90-120 Menit per Minggu Dikaitkan dengan Umur Lebih Panjang"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/24\/1782319420_e4a25e28b203fd02c2fb.jpg\" alt=\"Latihan Beban 90-120 Menit per Minggu Dikaitkan dengan Umur Lebih Panjang\"\/><figcaption>Ilustrasi.(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>TREN kebugaran di media sosial kerap memberi kesan bahwa <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/umur-panjang\" title=\"Umur panjang\">umur panjang<\/a> membutuhkan rutinitas ekstrem: berendam air dingin saat fajar, suplemen mahal, hingga volume latihan seperti atlet elite. Namun, studi yang dipublikasikan dalam <em>British Journal of Sports Medicine<\/em> memberi pesan yang lebih sederhana: <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/latihan-beban\" title=\"Latihan beban\">latihan beban<\/a> dalam porsi sedang sudah dapat memberi manfaat besar bagi kesehatan jangka panjang.<\/p>\n<p>Studi tersebut menghimpun data dari tiga kohort yang melibatkan hampir 150 ribu orang dewasa, sebagian besar berusia paruh baya, selama rentang 30 tahun. Dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan latihan beban sama sekali, mereka yang berlatih selama 90 hingga 120 menit per minggu tercatat memperoleh manfaat umur panjang paling besar.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Dalam kelompok tersebut, risiko kematian dari semua penyebab turun 13%, risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular turun 19%, dan risiko kematian akibat penyakit neurologis turun 27%. Jumlah itu setara dengan tiga sampai empat sesi latihan berdurasi 30 menit, atau dua sesi latihan sekitar 45 menit dalam sepekan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/896672\/angkat-beban-2-jam-per-minggu-turunkan-risiko-kematian-dini\" title=\"Angkat Beban 2 Jam per Minggu Turunkan Risiko Kematian Dini\" target=\"_blank\">Angkat Beban 2 Jam per Minggu Turunkan Risiko Kematian Dini<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menariknya, manfaat tersebut tampak mencapai titik datar setelah sekitar dua jam latihan beban per minggu. Dengan kata lain, lebih banyak latihan tidak selalu berarti manfaat umur panjang yang lebih besar.<\/p>\n<h2>Mengapa latihan beban penting untuk umur panjang?<\/h2>\n<p>Latihan beban tidak hanya berguna untuk membentuk otot atau meningkatkan performa angkat beban. Otot berperan aktif dalam metabolisme tubuh dan kesehatan sistemik.<\/p>\n<p>Vonda Wright, MD, ahli bedah ortopedi dan kreator Skeletal Longevity, menjelaskan bahwa otot bukan sekadar jaringan struktural, melainkan organ endokrin terbesar tubuh. Saat otot berkontraksi melawan beban, tubuh melepaskan molekul pensinyalan yang disebut miokin. Molekul ini bergerak melalui aliran darah dan membantu menurunkan peradangan sistemik, salah satu faktor yang berkaitan dengan berbagai penyakit kronis terkait penuaan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/889620\/massa-otot-tinggi-dan-lemak-perut-rendah-bikin-otak-awet-muda\" title=\"Massa Otot Tinggi dan Lemak Perut Rendah Bikin Otak Awet Muda\" target=\"_blank\">Massa Otot Tinggi dan Lemak Perut Rendah Bikin Otak Awet Muda<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Latihan resistensi juga dikaitkan dengan kontrol gula darah yang lebih baik, tulang yang lebih kuat, serta peningkatan kesehatan metabolik. Selain itu, latihan ini membantu mempertahankan kekuatan dan kemandirian fungsional yang cenderung menurun seiring bertambahnya usia.<\/p>\n<p>Alex Rothstein, EdD, MS, CSCS, fisiolog olahraga dan koordinator program ilmu olahraga di New York Institute of Technology, mengatakan latihan beban membantu seseorang berinteraksi dengan lingkungan secara lebih konsisten, nyaman, dan mampu.<\/p>\n<h2>Manfaat untuk jantung dan otak<\/h2>\n<p>Selama ini, kesehatan jantung lebih sering dikaitkan dengan olahraga aerobik seperti lari, bersepeda, atau berenang. Namun, latihan beban juga dapat memberi manfaat kardiovaskular.<\/p>\n<p>Menurut Wright, latihan resistensi jangka panjang dapat membantu merombak sistem pembuluh darah sehingga arteri menjadi lebih elastis dan responsif. Efek ini dapat mendukung pengelolaan tekanan darah dan menurunkan risiko serangan jantung. Latihan beban juga membantu mengurangi lemak visceral, yaitu lemak berbahaya yang mengelilingi organ dan berhubungan dengan penyakit kardiovaskular.<\/p>\n<p>Dari sisi kesehatan otak, kontraksi otot saat latihan resistensi dapat merangsang produksi <em>brain-derived neurotrophic factor<\/em> atau BDNF. Protein ini berperan dalam pertumbuhan dan komunikasi neuron, sehingga sering dikaitkan dengan fungsi otak yang lebih baik.<\/p>\n<h2>90-120 menit bukan angka mutlak<\/h2>\n<p>Meski temuan 90 hingga 120 menit per minggu terdengar praktis, para peneliti mengingatkan agar angka tersebut tidak dipahami sebagai aturan kaku.<\/p>\n<p>Yiwen Zhang, PhD, peneliti pascadoktoral, dan Edward Giovannucci, MD, profesor nutrisi dan epidemiologi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, menyebut angka 90 hingga 120 menit sebaiknya dipandang sebagai patokan umum, bukan ambang wajib. Alasannya, studi tersebut tidak memiliki data rinci mengenai jenis latihan resistensi, intensitas, jumlah set, atau variasi program latihan.<\/p>\n<p>Dengan demikian, kualitas latihan, konsistensi, dan kemampuan tubuh masing-masing tetap perlu diperhatikan. Bagi sebagian orang, dua sesi latihan per minggu sudah realistis. Bagi yang lain, tiga hingga empat sesi singkat mungkin lebih mudah dipertahankan.<\/p>\n<h2>Latihan apa yang bisa dilakukan?<\/h2>\n<p>Dalam studi tersebut, latihan yang diamati terutama mencakup penggunaan beban bebas dan mesin resistensi. Namun, latihan dengan berat badan sendiri juga tetap relevan, terutama karena gerakannya dekat dengan aktivitas sehari-hari.<\/p>\n<p>Contohnya meliputi <em>squat<\/em>, <em>push-up<\/em>, <em>lunges<\/em>, <em>plank<\/em>, atau variasi gerakan fungsional lain. Kuncinya adalah memberikan stimulus yang cukup agar tubuh beradaptasi, sekaligus menjaga teknik agar latihan tetap aman.<\/p>\n<p>Wright juga mengingatkan agar tidak menyamakan ukuran otot dengan kekuatan yang benar-benar berguna untuk penuaan sehat. Dalam konteks umur panjang, kekuatan fungsional jauh lebih penting. Ini mencakup kemampuan membawa belanjaan, bangkit dari lantai, menaiki tangga, atau menjaga keseimbangan agar tidak mudah jatuh.<\/p>\n<p>Latihan beban penting, tetapi bukan berarti olahraga kardio dapat diabaikan. Studi tersebut mencatat peserta yang menggabungkan latihan aerobik dan latihan beban memperoleh manfaat terbesar, dengan risiko kematian 45% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak melakukan keduanya.<\/p>\n<p>Pesan utamanya adalah menggabungkan aktivitas aerobik dan latihan resistensi dalam rutinitas jangka panjang. Rothstein menyarankan target 90 hingga 120 menit latihan beban per minggu dapat dibagi sesuai jadwal masing-masing, sambil tetap mengupayakan sekitar 150 menit olahraga aerobik intensitas sedang.<\/p>\n<p>Kombinasi keduanya memberi manfaat yang saling melengkapi: latihan beban membantu menjaga kekuatan, metabolisme, dan fungsi tubuh, sedangkan olahraga aerobik mendukung daya tahan jantung dan paru. Bersama-sama, keduanya dapat memengaruhi bukan hanya panjang usia, tetapi juga kualitas hidup.<\/p>\n<h2>Intinya: tidak perlu ekstrem untuk mulai<\/h2>\n<p>Bagi banyak orang, temuan ini memberi kabar baik. Rutinitas sederhana seperti latihan beban 30 menit pada Senin, Rabu, dan Jumat sudah berada dalam rentang yang dikaitkan dengan manfaat umur panjang.<\/p>\n<p>Alih-alih mengejar program ekstrem yang sulit dipertahankan, fokus yang lebih realistis adalah membangun kebiasaan yang konsisten. Latihan beban 90 hingga 120 menit per minggu dapat menjadi acuan praktis, sementara jenis latihan, intensitas, dan frekuensinya disesuaikan dengan kondisi tubuh, tujuan, dan kemampuan masing-masing.<\/p>\n<p>Bagi pemula, mulai dari gerakan dasar, beban ringan, dan peningkatan bertahap dapat menjadi langkah aman. Jika memiliki kondisi medis tertentu atau belum pernah berolahraga secara rutin, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau pelatih profesional dapat membantu memastikan program latihan sesuai kebutuhan. (GQ\/I-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/904060\/latihan-beban-90-120-menit-per-minggu-dikaitkan-dengan-umur-lebih-panjang\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(Magnific) TREN kebugaran di media sosial kerap memberi kesan bahwa umur panjang membutuhkan rutinitas ekstrem: berendam air dingin saat fajar, suplemen mahal, hingga volume latihan seperti atlet elite. Namun, studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine memberi pesan yang lebih sederhana: latihan beban dalam porsi sedang sudah dapat memberi manfaat besar bagi kesehatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":62218,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-62217","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62217","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62217"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62217\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/62218"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62217"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62217"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62217"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}