{"id":61900,"date":"2026-06-24T03:49:03","date_gmt":"2026-06-24T03:49:03","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/ngeri-spesies-laba-laba-baru-di-australia-punya-jaring-ketapel-secepat-jet-tempur\/"},"modified":"2026-06-24T03:49:03","modified_gmt":"2026-06-24T03:49:03","slug":"ngeri-spesies-laba-laba-baru-di-australia-punya-jaring-ketapel-secepat-jet-tempur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/ngeri-spesies-laba-laba-baru-di-australia-punya-jaring-ketapel-secepat-jet-tempur\/","title":{"rendered":"Ngeri Spesies Laba-laba Baru di Australia Punya Jaring Ketapel Secepat Jet Tempur"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/24\/1782257156_cf5eb9c1159e35c2dd32.jpg\" alt=\"Ngeri! Spesies Laba-laba Baru di Australia Punya Jaring Ketapel Secepat Jet Tempur\"\/><figcaption>Laba-laba ini dijuluki &#8220;ballista&#8221; karena kecepatan dan kekuatan yang digunakannya untuk melemparkan mangsa ke dalam jaringnya.(Macquarie University)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SEBUAH spesies laba-laba baru yang unik ditemukan di pedalaman hutan hujan tropis Queensland utara, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/australia\" title=\"Australia\">Australia<\/a>. Predator nokturnal ini memiliki metode berburu yang tidak biasa: merajut perangkap sutra berbentuk ketapel untuk menjebak satu jenis semut agresif yang terkenal berbahaya bagi arachnida.<\/p>\n<p>Meski belum diberi nama ilmiah secara resmi, para ilmuwan menjuluki laba-laba kecil ini dengan sebutan &#8220;Ballista&#8221;. Nama ini diambil dari senjata kuno yang digunakan untuk melempar batu dalam pertempuran.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Tim peneliti dari Macquarie University, Australia, menghabiskan waktu selama 10 malam di hutan untuk merekam perilaku laba-laba ini menggunakan kamera inframerah berkecepatan tinggi. Berdasarkan temuan yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/laba-laba-ballista\" title=\"Laba-laba Ballista\">laba-laba Ballista<\/a> hidup di pepohonan yang dikuasai oleh semut pohon hijau (Oecophylla smaragdina) yang sangat teritorial.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/254498\/australia-bergabung-dengan-koalisi-as-di-perairan-teluk\" title=\"Australia Bergabung dengan Koalisi AS di Perairan Teluk\" target=\"_blank\">Australia Bergabung dengan Koalisi AS di Perairan Teluk<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Laba-laba yang masuk dalam genus Propostira ini pertama kali diamati oleh Greg Anderson, seorang peneliti biomedis sekaligus fotografer laba-laba. Pada siang hari, laba-laba ini bersembunyi di balik dedaunan. Namun saat malam tiba, ia akan turun sekitar 50 cm ke daun, ranting, atau lantai hutan untuk mulai membangun perangkapnya.<\/p>\n<p>Proses pembuatan jebakan ini memakan waktu berjam-jam. Laba-laba Ballista akan membuat titik jangkar menggunakan garis sutra, lalu menyusun puluhan garis tegangan berbentuk kerucut yang dilapisi jaring tipis.<\/p>\n<p>Begitu semut pohon hijau mendekat dan menggigit jebakan tersebut, mekanisme ketapel akan langsung terpicu. Kekuatan jaring ini melontarkan semut ke arah jaring laba-laba yang lebih besar di atasnya dengan akselerasi yang sangat luar biasa.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/252528\/wn-australia-viral-mengamuk-di-kuta-ditetapkan-jadi-tersangka\" title=\"WN Australia Viral Mengamuk di Kuta Ditetapkan Jadi Tersangka\" target=\"_blank\">WN Australia Viral Mengamuk di Kuta Ditetapkan Jadi Tersangka<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Kekuatan perangkap yang luar biasa tinggi ini melontarkan semut ke jaring yang lebih besar pada kecepatan 15 kali gaya g-force paling ekstrem yang dialami oleh pilot jet,&#8221; ujar pemimpin penelitian, Prof. Ajay Narendra.<\/p>\n<p>Uniknya, semut pohon hijau menjadi satu-satunya mangsa yang ditangkap oleh laba-laba ini. Peneliti menduga laba-laba Ballista menambahkan feromon pada jaringnya untuk memikat dan memancing amarah semut tersebut. Dr. Jonas Wolff, salah satu peneliti, menjelaskan alasan di balik adaptasi ekstrem ini.<\/p>\n<p>&#8220;Mekanisme perangkap ini tampaknya berevolusi sebagai cara yang sangat khusus untuk memungkinkan laba-laba &#8216;memilih&#8217; mangsa yang berpotensi berbahaya satu demi satu, lalu membawanya ke jarak yang aman dari jalur dan sarang semut,&#8221; kata Dr. Jonas Wolff.<\/p>\n<p>Semut diketahui memiliki pertahanan kimia, kemampuan menyengat, serta dapat memanggil koloninya dengan cepat untuk melawan predator. Oleh karena itu, spesialisasi jebakan ini menjadi penemuan yang sangat langka di dunia satwa.<\/p>\n<p>&#8220;Ini tampaknya menjadi satu-satunya kasus di mana jaring laba-laba dirancang untuk menangkap satu spesies mangsa saja, dan di mana mekanismenya dipicu oleh mangsa itu sendiri, bukan oleh predatornya,&#8221; pungkas Narendra. (BBC\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/903707\/ngeri-spesies-laba-laba-baru-di-australia-punya-jaring-ketapel-secepat-jet-tempur\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Laba-laba ini dijuluki &#8220;ballista&#8221; karena kecepatan dan kekuatan yang digunakannya untuk melemparkan mangsa ke dalam jaringnya.(Macquarie University) SEBUAH spesies laba-laba baru yang unik ditemukan di pedalaman hutan hujan tropis Queensland utara, Australia. Predator nokturnal ini memiliki metode berburu yang tidak biasa: merajut perangkap sutra berbentuk ketapel untuk menjebak satu jenis semut agresif yang terkenal berbahaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61901,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-61900","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61900","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61900"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61900\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61901"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61900"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61900"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61900"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}