{"id":61878,"date":"2026-06-24T02:55:45","date_gmt":"2026-06-24T02:55:45","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/protein-tubulin-berpotensi-hentikan-alzheimer-dan-parkinson\/"},"modified":"2026-06-24T02:55:45","modified_gmt":"2026-06-24T02:55:45","slug":"protein-tubulin-berpotensi-hentikan-alzheimer-dan-parkinson","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/protein-tubulin-berpotensi-hentikan-alzheimer-dan-parkinson\/","title":{"rendered":"Protein Tubulin Berpotensi Hentikan Alzheimer dan Parkinson"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div id=\"\">&#13;<\/p>\n<p>PARA\u00a0ilmuwan mengidentifikasi satu <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/protein\" title=\"protein\">protein<\/a> yang berpotensi menghentikan perubahan otak yang terkait dengan penyakit <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/alzheimer\" title=\"alzheimer\">Alzheimer<\/a> dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/parkinson\" title=\"Parkinson\">Parkinson<\/a>. Penemuan ini menawarkan paradigma baru dalam upaya pengobatan penyakit neurodegeneratif yang selama ini sulit disembuhkan.<\/p>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<p>Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal <em>Nature Communications<\/em>, para peneliti dari <strong>Baylor College of Medicine<\/strong> menemukan bahwa <strong><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tubulin\" title=\"Tubulin\">tubulin<\/a><\/strong>&#8211;protein yang dikenal sebagai pembentuk jalur kereta api\u00a0internal sel&#8211;memiliki kemampuan untuk mencegah pembentukan gumpalan protein berbahaya di dalam sel otak.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><br \/>\n&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<h2>Mekanisme Pencegahan Penggumpalan Protein<\/h2>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<p>Penyakit Alzheimer sangat erat kaitannya dengan penumpukan protein <em>tau<\/em>, sementara Parkinson berhubungan dengan <em>alpha-synuclein<\/em>. Pada kedua kondisi tersebut, protein-protein ini mengalami salah lipat (<em>misfold<\/em>) dan saling menempel, membentuk agregat beracun yang merusak neuron. Dampaknya adalah kehilangan ingatan, penurunan kognitif, hingga masalah pergerakan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/901425\/mengenal-protein-nox4-kunci-otot-kuat-dan-rahasia-awet-muda\" title=\"Mengenal Protein NOX4: Kunci Otot Kuat dan Rahasia Awet Muda\" target=\"_blank\">Mengenal Protein NOX4: Kunci Otot Kuat dan Rahasia Awet Muda<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<p>Selama bertahun-tahun, fokus <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/penelitian\" title=\"penelitian\">penelitian<\/a> medis adalah menghentikan atau membersihkan gumpalan tersebut. Namun, riset terbaru ini menyarankan pendekatan yang berbeda: mendorong protein untuk berperilaku normal alih-alih memblokirnya sepenuhnya.<\/p>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<p><strong>Wawasan Ahli:<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nRam Bishnoi, MD, MBA, profesor madya psikiatri dan ilmu saraf perilaku, menyatakan bahwa tubulin bertindak sebagai sakelar molekuler yang menentukan apakah protein otak akan menjadi racun atau tetap bermanfaat.<\/p>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<h2>Peran Vital Tubulin dalam Sel<\/h2>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<p>Tim peneliti menemukan bahwa tubulin berinteraksi dengan <em>tau<\/em> dan <em>alpha-synuclein<\/em> di dalam kompartemen seluler kecil yang disebut kondensat. Ketika kadar tubulin mencukupi, ia akan masuk ke dalam kondensat tersebut dan bersaing untuk mendapatkan tempat pengikatan, sehingga menjaga protein tetap dalam bentuk fungsional yang sehat.<\/p>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<p>Sebaliknya, ketika tubulin berkurang, struktur ini berubah dan memicu penggumpalan berbahaya. Dalam model sel, penurunan kadar tubulin terbukti menyebabkan peningkatan tajam penumpukan protein berbahaya dan hilangnya neuron secara nyata.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/898763\/pola-tidur-buruk-di-usia-paruh-baya-percepat-penuaan-otak\" title=\"Pola Tidur Buruk di Usia Paruh Baya Percepat Penuaan Otak\" target=\"_blank\">Pola Tidur Buruk di Usia Paruh Baya Percepat Penuaan Otak<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<h2>Strategi Mengarahkan, bukan Menghancurkan<\/h2>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<p>Temuan ini dapat mengubah cara pengobatan penyakit neurodegeneratif di masa depan. Alih-alih mencoba menghapus deposit protein berbahaya secara total&#8211;yang berisiko mengganggu fungsi normal otak&#8211;ilmuwan dapat mengarahkan protein tersebut agar tetap berperilaku baik.<\/p>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<p>&#8220;Pertanyaannya bukan lagi bagaimana kita melarutkan agregat tau, tetapi bagaimana kita menjaga kadar tubulin tetap cukup tinggi untuk memenangkan persaingan,&#8221; ujar Bishnoi. Strategi ini disebut sebagai pendekatan <em>redirect rather than demolish<\/em>\u00a0(mengarahkan daripada menghancurkan).<\/p>\n<p>&#13;<br \/>\n&#13;<\/p>\n<p>Meskipun memberikan harapan besar, para peneliti menekankan bahwa temuan ini masih berbasis eksperimen laboratorium dan model sel. Langkah selanjutnya adalah melakukan verifikasi pada model hewan dan studi manusia. Tantangan utamanya adalah mengembangkan obat yang menargetkan mikrotubulus secara aman, mengingat struktur ini sangat penting bagi seluruh sel di dalam tubuh. (Newsweek\/I-2)<\/p>\n<p>&#13;\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/903757\/protein-tubulin-berpotensi-hentikan-alzheimer-dan-parkinson\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#13; PARA\u00a0ilmuwan mengidentifikasi satu protein yang berpotensi menghentikan perubahan otak yang terkait dengan penyakit Alzheimer dan Parkinson. Penemuan ini menawarkan paradigma baru dalam upaya pengobatan penyakit neurodegeneratif yang selama ini sulit disembuhkan. &#13; &#13; Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications, para peneliti dari Baylor College of Medicine menemukan bahwa tubulin&#8211;protein yang dikenal sebagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61879,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-61878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61878"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61878\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61879"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}