{"id":61840,"date":"2026-06-24T01:19:49","date_gmt":"2026-06-24T01:19:49","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/waspada-nyeri-dada-pada-anak-bisa-jadi-gejala-gerd\/"},"modified":"2026-06-24T01:19:49","modified_gmt":"2026-06-24T01:19:49","slug":"waspada-nyeri-dada-pada-anak-bisa-jadi-gejala-gerd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/24\/waspada-nyeri-dada-pada-anak-bisa-jadi-gejala-gerd\/","title":{"rendered":"Waspada Nyeri Dada pada Anak, Bisa Jadi Gejala GERD"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/24\/1782261553_50f0ec1921a307fe6c03.jpg\" alt=\"Waspada Nyeri Dada pada Anak, Bisa Jadi Gejala GERD\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>IKATAN Dokter <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anak\" title=\"anak\">Anak<\/a> Indonesia (IDAI) mengingatkan para orangtua untuk lebih waspada terhadap keluhan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nyeri-dada\" title=\"Nyeri Dada\">nyeri dada<\/a> pada anak. Gejala tersebut bukan sekadar rasa tidak nyaman biasa, melainkan salah satu tanda tipikal anak mengalami <em>Gastroesophageal Reflux Disease<\/em> (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gerd\" title=\"GERD\">GERD<\/a>).<\/p>\n<p>Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, Dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp. G.H (K), menjelaskan bahwa pada anak yang usianya lebih besar, nyeri dada atau <em>chest pain<\/em> menjadi indikator utama penyakit ini.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Gejala <em>typical symptom<\/em>-nya <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gerd-pada-anak\" title=\"gerd pada anak\">GERD pada anak<\/a> itu adalah kalau ada nyeri dada,&#8221; ujar Sri dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Selasa (23\/6).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/897784\/anak-rewel-dan-sulit-makan-bisa-berkaitan-dengan-pencernaan-orangtua-perlu-kenali-tandanya\" title=\"Anak Rewel dan Sulit Makan Bisa Berkaitan dengan Pencernaan, Orangtua Perlu Kenali Tandanya\" target=\"_blank\">Anak Rewel dan Sulit Makan Bisa Berkaitan dengan Pencernaan, Orangtua Perlu Kenali Tandanya<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Karakteristik Nyeri Dada Akibat GERD<\/h3>\n<p>Menurut dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut, nyeri dada akibat GERD memiliki sifat yang khas. Rasa sakit biasanya dirasakan tepat di bawah tulang dada dan sering kali disertai sensasi seperti terbakar (<em>heartburn<\/em>) di area dekat ulu hati.<\/p>\n<p>Kondisi ini umumnya akan memburuk dalam dua situasi spesifik: setelah anak makan atau saat anak dalam posisi berbaring. Hal ini terjadi karena asam lambung naik kembali ke kerongkongan, memicu iritasi yang menimbulkan rasa nyeri.<\/p>\n<h3>Faktor Risiko dan Kebiasaan Buruk<\/h3>\n<p>Sri mengungkapkan bahwa pada kelompok anak-anak dan remaja, GERD sangat erat kaitannya dengan pola hidup dan kebiasaan makan yang kurang sehat. Mengonsumsi makanan berlebihan atau langsung tidur setelah makan menjadi pemicu utama.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/895181\/pentingnya-kesehatan-saluran-cerna-anak-untuk-tumbuh-kembang-optimal\" title=\"Pentingnya Kesehatan Saluran Cerna Anak untuk Tumbuh Kembang Optimal\" target=\"_blank\">Pentingnya Kesehatan Saluran Cerna Anak untuk Tumbuh Kembang Optimal<\/a><\/strong><\/p>\n<div style=\"background-color: #f9f9f9; padding: 20px; border-left: 5px solid #2c3e50; margin: 20px 0;\"><strong>Rekomendasi Ahli:<\/strong> Anak disarankan untuk berhenti makan setidaknya tiga jam sebelum waktu tidur. Hal ini bertujuan agar saluran <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pencernaan\" title=\"pencernaan\">pencernaan<\/a> memiliki waktu yang cukup untuk stabil dan bekerja lebih ringan saat tubuh beristirahat.<\/div>\n<p>Selain faktor kebiasaan, terdapat kelompok anak dengan kondisi medis tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan ini. Berikut adalah data populasi berisiko tinggi dan faktor pemicu GERD pada anak:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #2c3e50; color: white;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 12px; text-align: left;\">Kategori<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 12px; text-align: left;\">Detail Kondisi \/ Faktor<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\"><strong>Kebiasaan Makan<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Makan berlebihan, makan menjelang tidur, konsumsi soda, makanan pedas, dan makanan berlemak.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\"><strong>Gangguan Medis<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Gangguan neurologis, atresia esofagus, hernia diafragmatika, dan obesitas.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\"><strong>Penyakit Kronis<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Penyakit paru kronis, laringomalacia, dan trakeomalacia.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Langkah Penanganan dan Tata Laksana<\/h3>\n<p>Tenaga medis biasanya akan melakukan serangkaian tindakan untuk menangani GERD pada anak, dimulai dari anamnesis (wawancara medis), pemeriksaan fisik, hingga identifikasi tanda bahaya untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis penyakit lain.<\/p>\n<p>Langkah awal penanganan meliputi modifikasi gaya hidup, pengaturan diet, serta pemberian terapi obat penekan asam lambung. Namun, jika gejala tidak kunjung membaik, IDAI merekomendasikan agar anak segera dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan pencernaan.<\/p>\n<p>Pada tahap lanjut, dokter mungkin akan melakukan prosedur endoskopi dan <em>esofageal pH-monitoring<\/em>. Penanganan medis yang lebih intensif dapat mencakup pemberian medikamentosa, <em>transpyloric feeding<\/em>, hingga tindakan bedah jika diperlukan (<em>anti-reflux surgery<\/em>). (Ant\/Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/903725\/waspada-nyeri-dada-pada-anak-bisa-jadi-gejala-gerd\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan para orangtua untuk lebih waspada terhadap keluhan nyeri dada pada anak. Gejala tersebut bukan sekadar rasa tidak nyaman biasa, melainkan salah satu tanda tipikal anak mengalami Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, Dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp. G.H (K), menjelaskan bahwa pada anak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61841,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-61840","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61840","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61840"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61840\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61841"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61840"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61840"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61840"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}