{"id":61418,"date":"2026-06-23T06:15:50","date_gmt":"2026-06-23T06:15:50","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/23\/refleks-bayi-yang-muncul-kembali-bisa-jadi-tanda-awal-demensia-ini-penjelasannya\/"},"modified":"2026-06-23T06:15:50","modified_gmt":"2026-06-23T06:15:50","slug":"refleks-bayi-yang-muncul-kembali-bisa-jadi-tanda-awal-demensia-ini-penjelasannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/23\/refleks-bayi-yang-muncul-kembali-bisa-jadi-tanda-awal-demensia-ini-penjelasannya\/","title":{"rendered":"Refleks Bayi yang Muncul Kembali Bisa Jadi Tanda Awal Demensia, Ini Penjelasannya"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/23\/1782166203_60c20f55ddb8b8240c80.jpg\" alt=\"Refleks Bayi yang Muncul Kembali Bisa Jadi Tanda Awal Demensia, Ini Penjelasannya\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KETIKA seorang bayi lahir, mereka memiliki serangkaian respons fisik otomatis yang dikenal sebagai refleks primitif. Beberapa contohnya adalah refleks menggenggam erat jari yang menyentuh telapak tangan mereka, atau refleks menghisap ketika area sekitar mulut distimulasi. Seiring berkembangnya otak besar dan sistem saraf pada masa kanak-kanak, refleks-refleks otomatis ini perlahan-lahan menghilang karena mulai dikendalikan oleh kesadaran.<\/p>\n<p>Namun, sebuah studi ilmiah terbaru mengungkapkan temuan yang mengejutkan terkait penurunan fungsi kognitif pada <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/lansia\" title=\"Lansia\">lansia<\/a>. Refleks-refleks masa kecil yang telah lama hilang tersebut diketahui dapat muncul kembali, dan fenomena ini dinilai bisa menjadi indikator awal atau tanda peringatan sebelum gejala klinis <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/demensia\" title=\"Demensia\">demensia<\/a> atau Alzheimer benar-benar terlihat jelas.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Secara medis, kembalinya refleks primitif pada orang dewasa dikenal sebagai &#8220;tanda pelepasan frontal&#8221; (frontal release signs). Kondisi ini terjadi ketika bagian depan otak (lobus frontal), yang berfungsi mengontrol perilaku dan menekan respons otomatis, mulai mengalami kerusakan atau atrofi akibat penyakit degeneratif. Ketika wilayah otak ini melemah, kontrol terhadap refleks purba tersebut lepas, sehingga respons otomatis masa bayi kembali aktif.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/898095\/lansia-rutin-memasak-seminggu-sekali-punya-risiko-demensia-lebih-rendah\" title=\"Lansia Rutin Memasak Seminggu Sekali Punya Risiko Demensia Lebih Rendah\u00a0\" target=\"_blank\">Lansia Rutin Memasak Seminggu Sekali Punya Risiko Demensia Lebih Rendah\u00a0<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Dalam riset yang mengamati sejumlah pasien lansia, tim peneliti menemukan bahwa kemunculan kembali refleks seperti refleks menggenggam (grasp reflex) atau refleks memoncongkan bibir (snout reflex) memiliki korelasi kuat dengan tahap awal penurunan fungsi saraf. Sering kali, tanda-tanda fisik ini muncul jauh sebelum pasien menunjukkan gejala umum demensia, seperti gangguan memori yang parah atau disorientasi ruang.<\/p>\n<p>Para ilmuwan menekankan bahwa deteksi melalui pemeriksaan refleks fisik ini dapat menjadi alat skrining awal yang murah, cepat, dan non-invasif bagi para dokter. Dengan mengidentifikasi kembalinya refleks primitif selama pemeriksaan neurologis rutin, intervensi medis dan perencanaan perawatan bagi pasien demensia dapat dilakukan jauh lebih awal, bahkan sebelum kerusakan otak menyebar luas.<\/p>\n<p>Meskipun kemunculan refleks ini tidak serta-merta berarti seseorang pasti akan mengidap demensia, para peneliti mengingatkan bahwa tanda fisik ini tidak boleh diabaikan. Kombinasi antara pemeriksaan refleks primitif, tes kognitif, dan pemindaian otak tetap menjadi metode paling akurat untuk menegakkan diagnosis. Melalui studi ini, para ahli berharap masyarakat dan tenaga medis dapat lebih peka terhadap perubahan fisik sekecil apa pun pada lansia demi penanganan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kesehatan-otak\" title=\"Kesehatan Otak\">kesehatan otak<\/a> yang lebih baik. (Earth\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/903272\/refleks-bayi-yang-muncul-kembali-bisa-jadi-tanda-awal-demensia-ini-penjelasannya\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) KETIKA seorang bayi lahir, mereka memiliki serangkaian respons fisik otomatis yang dikenal sebagai refleks primitif. Beberapa contohnya adalah refleks menggenggam erat jari yang menyentuh telapak tangan mereka, atau refleks menghisap ketika area sekitar mulut distimulasi. Seiring berkembangnya otak besar dan sistem saraf pada masa kanak-kanak, refleks-refleks otomatis ini perlahan-lahan menghilang karena mulai dikendalikan oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61419,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-61418","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61418","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61418"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61418\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61419"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61418"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61418"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61418"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}