{"id":61368,"date":"2026-06-23T04:18:41","date_gmt":"2026-06-23T04:18:41","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/23\/bahaya-pola-asuh-otoriter-anak-jadi-lebih-suka-berbohong-dan-mencontek\/"},"modified":"2026-06-23T04:18:41","modified_gmt":"2026-06-23T04:18:41","slug":"bahaya-pola-asuh-otoriter-anak-jadi-lebih-suka-berbohong-dan-mencontek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/23\/bahaya-pola-asuh-otoriter-anak-jadi-lebih-suka-berbohong-dan-mencontek\/","title":{"rendered":"Bahaya Pola Asuh Otoriter, Anak Jadi Lebih Suka Berbohong dan Mencontek"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/23\/1782169993_0c2486a5736c694aab22.jpg\" alt=\"Bahaya Pola Asuh Otoriter, Anak Jadi Lebih Suka Berbohong dan Mencontek\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SETIAP orangtua tentu menginginkan anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang jujur, berintegritas, dan bertanggung jawab. Untuk mencapai hal tersebut, tidak sedikit orangtua yang menerapkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pola-asuh-otoriter\" title=\"Pola Asuh Otoriter\">pola asuh otoriter<\/a> dengan aturan yang sangat ketat dan hukuman yang keras. Namun, sebuah studi ilmiah terbaru justru mengungkap hasil yang berkebalikan, pola asuh yang terlalu mengekang dan keras membuat anak lebih rentan untuk berbohong dan mencontek.<\/p>\n<p>Penelitian ini dilakukan oleh tim psikolog yang berfokus pada bagaimana lingkungan keluarga memengaruhi perkembangan moral dan perilaku anak-anak. Para peneliti menemukan bahwa alih-alih membentuk kedisiplinan, aturan yang sangat ketat tanpa disertai ruang diskusi justru menciptakan tekanan mental yang besar pada anak.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang menuntut kepatuhan mutlak tanpa toleransi terhadap kesalahan, mereka akan mengembangkan mekanisme pertahanan diri. Cara paling instan yang mereka temukan untuk menghindari hukuman berat atau kemarahan orangtua adalah dengan memanipulasi kebenaran.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/895562\/anak-suka-berbohong-gejala-gangguan-jiwa-studi-16-tahun-ungkap-fakta-mengejutkan\" title=\"Anak Suka Berbohong Gejala Gangguan Jiwa? Studi 16 Tahun Ungkap Fakta Mengejutkan\" target=\"_blank\">Anak Suka Berbohong Gejala Gangguan Jiwa? Studi 16 Tahun Ungkap Fakta Mengejutkan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Profesor Victoria Talwar, seorang pakar perkembangan anak terkemuka yang terlibat dalam penelitian sejenis mengenai perilaku tidak jujur pada anak, memberikan pandangannya terkait fenomena ini. &#8220;Ketika orangtua menerapkan aturan yang sangat ketat dan hukuman yang keras, anak-anak tidak belajar bagaimana menjadi jujur. Sebaliknya, mereka belajar bagaimana menjadi pembohong yang lebih baik agar tidak tertangkap,&#8221; kata Dr. Talwar.<\/p>\n<p>Dalam eksperimen yang dilakukan, anak-anak dari latar belakang pola asuh otoriter menunjukkan kemampuan berbohong yang lebih canggih dan meyakinkan dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh demokratis atau penuh kasih sayang (authoritative). Tidak hanya dalam hal berkata-kata, kecenderungan untuk berbuat curang, seperti mencontek saat ujian atau melanggar aturan secara sembunyi-sembunyi, juga ditemukan lebih tinggi pada kelompok anak ini.<\/p>\n<p>Hal ini terjadi karena anak tidak menginternalisasi nilai kejujuran itu sendiri. Mereka hanya patuh karena takut akan konsekuensi negatif (hukuman), bukan karena memahami mengapa sebuah tindakan itu benar atau salah. Begitu pengawasan dari orangtua longgar, anak-anak ini cenderung melanggar aturan karena tidak memiliki kontrol moral internal yang kuat.<\/p>\n<p>Melalui temuan ini, para ahli menekankan pentingnya pergeseran gaya pengasuhan. Orang tua disarankan untuk membangun komunikasi dua arah yang terbuka. Dibandingkan memberikan hukuman yang intimidatif, menciptakan lingkungan yang aman di mana anak berani mengakui kesalahan tanpa rasa takut yang ekstrem terbukti jauh lebih efektif dalam membentuk karakter anak yang jujur dan berintegritas tinggi di masa depan. (EArth\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/903293\/bahaya-pola-asuh-otoriter-anak-jadi-lebih-suka-berbohong-dan-mencontek\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) SETIAP orangtua tentu menginginkan anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang jujur, berintegritas, dan bertanggung jawab. Untuk mencapai hal tersebut, tidak sedikit orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter dengan aturan yang sangat ketat dan hukuman yang keras. Namun, sebuah studi ilmiah terbaru justru mengungkap hasil yang berkebalikan, pola asuh yang terlalu mengekang dan keras membuat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61369,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-61368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61368"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61368\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}