{"id":61269,"date":"2026-06-22T23:54:54","date_gmt":"2026-06-22T23:54:54","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/22\/mengenal-perbedaan-gagal-ginjal-akut-dan-kronis-menurut-pakar-rsui\/"},"modified":"2026-06-22T23:54:54","modified_gmt":"2026-06-22T23:54:54","slug":"mengenal-perbedaan-gagal-ginjal-akut-dan-kronis-menurut-pakar-rsui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/22\/mengenal-perbedaan-gagal-ginjal-akut-dan-kronis-menurut-pakar-rsui\/","title":{"rendered":"Mengenal Perbedaan Gagal Ginjal Akut dan Kronis Menurut Pakar RSUI"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/23\/1782172335_7693df43b6dd45c32014.jpg\" alt=\"Mengenal Perbedaan Gagal Ginjal Akut dan Kronis Menurut Pakar RSUI\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PENYAKIT<b> <\/b><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gagal-ginjal\" title=\"gagal ginjal\">gagal ginjal<\/a> sering kali menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Namun, penting untuk dipahami bahwa kondisi ini memiliki klasifikasi dan penanganan yang berbeda tergantung pada penyebab serta durasi kerusakannya.<\/p>\n<p>Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, menjelaskan bahwa secara umum gagal ginjal terbagi menjadi dua kategori utama: akut dan kronis. Perbedaan mendasar keduanya terletak pada faktor pencetus dan potensi pemulihan fungsi organ tersebut.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h3><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gagal-ginjal-akut\" title=\"Gagal ginjal akut\">Gagal Ginjal Akut<\/a>: Dampak Dehidrasi dan Infeksi<\/h3>\n<p>Gagal ginjal akut merupakan kerusakan ginjal yang terjadi secara mendadak dalam hitungan hari. Menurut Anindia, kondisi ini biasanya dipicu oleh faktor eksternal yang mengganggu kinerja ginjal secara tiba-tiba, seperti infeksi berat atau dehidrasi (kekurangan cairan) yang ekstrem.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/718399\/waspada-ini-daftar-7-minuman-penyebab-utama-gagal-ginjal-yang-harus-dihindari\" title=\"Waspada! Ini Daftar 7 Minuman Penyebab Utama Gagal Ginjal yang Harus Dihindari\" target=\"_blank\">Waspada! Ini Daftar 7 Minuman Penyebab Utama Gagal Ginjal yang Harus Dihindari<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKalau kita atasi faktor penyebabnya, kita harapkan fungsi ginjal dapat kembali seperti semula,\u201d ujar Anindia dalam keterangannya di Jakarta, Senin (22\/6).<\/p>\n<p>Ia menambahkan, jika faktor pencetus seperti infeksi atau dehidrasi dapat ditangani dengan cepat dan tepat, pasien kemungkinan besar tidak perlu menjalani prosedur hemodialisis atau cuci darah secara berkelanjutan.<\/p>\n<h3><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gagal-ginjal-kronis\" title=\"Gagal ginjal kronis\">Gagal Ginjal Kronis<\/a>: Akibat Gaya Hidup dan Penyakit Penyerta<\/h3>\n<p>Berbeda dengan tipe akut, gagal ginjal kronis berkembang secara perlahan dalam jangka waktu panjang, bahkan bisa mencapai puluhan tahun. Kondisi ini sering kali berawal dari gaya hidup tidak sehat yang memicu penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan hipertensi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/617230\/keluarga-korban-ggapa-tidak-kendor-meski-diberi-santunan\" title=\"\u200b\u200b\u200b\u200b\u200b\u200b\u200bKeluarga Korban GGAPA tidak Kendor meski Diberi Santunan\" target=\"_blank\">\u200b\u200b\u200b\u200b\u200b\u200b\u200bKeluarga Korban GGAPA tidak Kendor meski Diberi Santunan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cHipertensi yang lama dan tidak terkontrol lama-lama mengganggu fungsi ginjal, menyebabkan komplikasi ke ginjal hingga akhirnya menyebabkan penyakit ginjal kronis,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Pada fase kronis, kerusakan ginjal biasanya sudah bersifat permanen atau parah karena berlangsung lebih dari tiga bulan. Dalam kondisi ini, pasien umumnya membutuhkan tindakan hemodialisis berkepanjangan untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah menurun drastis.<\/p>\n<h3>Perbandingan Gagal Ginjal Akut vs Kronis<\/h3>\n<p>Untuk memudahkan pemahaman mengenai perbedaan kedua kondisi ini, berikut adalah ringkasan berdasarkan penjelasan medis:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0; border: 1px solid #ddd;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Aspek Perbandingan<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Gagal Ginjal Akut<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Gagal Ginjal Kronis<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; font-weight: bold;\">Waktu Terjadinya<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Tiba-tiba (hitungan hari)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Lama (lebih dari 3 bulan)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; font-weight: bold;\">Penyebab Utama<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Dehidrasi berat, infeksi, faktor pencetus mendadak<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Hipertensi, diabetes melitus, gaya hidup tidak sehat<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; font-weight: bold;\">Sifat Kerusakan<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Berpotensi kembali normal (reversible)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Kerusakan parah dan menetap<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; font-weight: bold;\">Kebutuhan Cuci Darah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Sementara (tergantung penanganan penyebab)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Berkepanjangan\/Rutin<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, kunci utama dalam menghadapi risiko gagal ginjal adalah deteksi dini dan pengendalian penyakit penyerta. Bagi penderita hipertensi dan diabetes, kontrol rutin menjadi harga mati agar fungsi ginjal tidak terus tergerus hingga mencapai tahap kronis. (Ant\/Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/903305\/mengenal-perbedaan-gagal-ginjal-akut-dan-kronis-menurut-pakar-rsui\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) PENYAKIT gagal ginjal sering kali menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Namun, penting untuk dipahami bahwa kondisi ini memiliki klasifikasi dan penanganan yang berbeda tergantung pada penyebab serta durasi kerusakannya. Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, menjelaskan bahwa secara umum gagal ginjal terbagi menjadi dua kategori [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61270,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-61269","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61269"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61269\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}