{"id":60847,"date":"2026-06-22T05:01:46","date_gmt":"2026-06-22T05:01:46","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/22\/mengapa-psikolog-anak-menyarankan-orangtua-untuk-berhenti-menggunakan-label-anak-kembar\/"},"modified":"2026-06-22T05:01:46","modified_gmt":"2026-06-22T05:01:46","slug":"mengapa-psikolog-anak-menyarankan-orangtua-untuk-berhenti-menggunakan-label-anak-kembar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/22\/mengapa-psikolog-anak-menyarankan-orangtua-untuk-berhenti-menggunakan-label-anak-kembar\/","title":{"rendered":"Mengapa Psikolog Anak Menyarankan Orangtua untuk Berhenti Menggunakan Label Anak Kembar"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/22\/1782080618_71f8549e66db72f5f244.jpg\" alt=\"Mengapa Psikolog Anak Menyarankan Orangtua untuk Berhenti Menggunakan Label \" anak=\"\" kembar=\"\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>BAGI orangtua yang membesarkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anak-kembar\" title=\"anak kembar\">anak kembar<\/a>, menggunakan kata &#8220;anak kembar&#8221; (the twins) sebagai panggilan sehari-hari mungkin terasa praktis dan efisien. Mulai dari memanggil mereka untuk makan malam hingga memperkenalkan mereka kepada orang baru, label ini sering kali melekat erat. Namun, para psikolog anak kini memperingatkan kebiasaan yang tampaknya tidak berbahaya ini dapat berdampak buruk pada perkembangan identitas dan kesehatan mental anak.<\/p>\n<p>Para ahli menyarankan orangtua untuk mulai memandang anak kembar mereka sebagai dua individu yang terpisah, bukan sebagai satu kesatuan paket. Mengurangi penggunaan label &#8220;anak kembar&#8221; dinilai sangat penting untuk membantu masing-masing anak membangun rasa diri atau individualitas yang sehat.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Dr. Joan A. Friedman, seorang psikolog anak yang juga seorang anak kembar sekaligus ibu dari anak kembar, menjelaskan dampak psikologis dari pelabelan ini dalam wawancara dengan Parents.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/902826\/belajar-dari-gen-alpha-ini-cara-orangtua-milenial-didik-anak-tanpa-kekerasan\" title=\"Belajar dari Gen Alpha, Ini Cara Orangtua Milenial Didik Anak Tanpa Kekerasan\" target=\"_blank\">Belajar dari Gen Alpha, Ini Cara Orangtua Milenial Didik Anak Tanpa Kekerasan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Ketika orangtua terus-menerus merujuk pada anak-anak mereka sebagai &#8216;anak kembar&#8217; daripada menggunakan nama mereka, hal itu memperkuat gagasan bahwa mereka adalah satu unit tunggal, bukan dua individu yang terpisah,&#8221; ujar Dr. Friedman. &#8220;Hal ini dapat mempersulit masing-masing anak untuk mengembangkan rasa diri yang unik dan dapat menyebabkan masalah psikologis di kemudian hari, seperti kecemasan, depresi, dan kesulitan membentuk hubungan di luar ikatan kembar mereka.&#8221;<\/p>\n<p>Ketika anak kembar selalu dikelompokkan bersama, mereka cenderung tumbuh dengan ekspektasi bahwa mereka harus selalu berbagi segalanya, mulai dari pakaian, minat, hingga teman. Akibatnya, mereka mungkin merasa kesulitan atau merasa bersalah ketika ingin mengeksplorasi minat atau bakat yang berbeda dari kembarannya. Hal ini dapat menghambat potensi unik yang dimiliki oleh masing-masing anak.<\/p>\n<p>Untuk menghindari dampak negatif tersebut, para psikolog memberikan beberapa panduan praktis bagi orangtua dalam menerapkan pola asuh yang mendukung individualitas:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Panggil dengan Nama Masing-Masing: Sebisa mungkin, hindari memanggil mereka dengan sebutan &#8220;anak kembar&#8221; atau &#8220;si kembar&#8221; di dalam rumah maupun di depan umum. Gunakan nama panggilan mereka untuk menegaskan identitas personal mereka.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Sediakan Waktu Satu lawan Satu: Jadwalkan waktu khusus bagi orang tua untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan salah satu anak secara bergantian. Langkah ini membantu membangun ikatan emosional yang kuat secara personal.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Dukung Minat yang Berbeda: Jika salah satu anak menyukai olahraga dan yang lainnya lebih tertarik pada seni musik, fasilitasi minat tersebut secara terpisah tanpa harus memaksa mereka melakukan aktivitas yang sama.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Dengan membuat perubahan kecil dalam cara berkomunikasi dan berinteraksi sehari-hari. Orangtua dapat membantu anak kembar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan memiliki identitas diri yang kuat di masa depan. (Parents\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/902841\/mengapa-psikolog-anak-menyarankan-orangtua-untuk-berhenti-menggunakan-label-anak-kembar\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) BAGI orangtua yang membesarkan anak kembar, menggunakan kata &#8220;anak kembar&#8221; (the twins) sebagai panggilan sehari-hari mungkin terasa praktis dan efisien. Mulai dari memanggil mereka untuk makan malam hingga memperkenalkan mereka kepada orang baru, label ini sering kali melekat erat. Namun, para psikolog anak kini memperingatkan kebiasaan yang tampaknya tidak berbahaya ini dapat berdampak buruk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":60848,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-60847","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60847","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60847"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60847\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60848"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60847"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60847"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60847"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}