{"id":60744,"date":"2026-06-21T22:21:52","date_gmt":"2026-06-21T22:21:52","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/21\/orang-dewasa-sumber-krisis-integritas\/"},"modified":"2026-06-21T22:21:52","modified_gmt":"2026-06-21T22:21:52","slug":"orang-dewasa-sumber-krisis-integritas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/21\/orang-dewasa-sumber-krisis-integritas\/","title":{"rendered":"Orang Dewasa, Sumber Krisis Integritas"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/22\/1782067585_d6c700e265db1d97d788.jpg\" alt=\"Orang Dewasa, Sumber Krisis Integritas\"\/><figcaption>(Dok. Pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>BELAKANGAN, kita menyaksikan remaja menghalalkan berbagai cara demi validasi\u2014mulai dari membuat konten yang merendahkan disabilitas, memalsukan penelitian akademik, hingga menganggap <em>nge<\/em>-vape sebagai penanda eksistensi. Kita, orang dewasa, cenderung menyalahkan dan menghujat mereka. Namun, sebelum telunjuk kita telanjur menuding, sudah saatnya menatap diri sendiri dan lingkungan sekitar yang setiap hari mengelilingi mereka.<\/p>\n<p>Saat ini, masyarakat mengedepankan validasi melalui media sosial. Jumlah <em>like<\/em>, pengikut, dan klik menjadi mata uang harga diri. Sherman dkk (2016) membuktikan bahwa <em>like<\/em> berfungsi sebagai dukungan sosial yang terukur sehingga perilaku seperti <em>nge<\/em>-vape yang mendapat banyak <em>like<\/em> cenderung dimaknai sebagai perilaku yang diterima dan didorong untuk dilanjutkan. Tidak hanya media sosial, kecerdasan buatan (AI) turut memperparah krisis. Jika dulu validasi hanya dari konten visual, kini AI memungkinkan siapa pun tampak produktif tanpa proses yang jujur. Kofinas dkk (2025) menemukan bahwa karya AI sulit dibedakan dari karya manusia, memicu penggunaan jalan pintas demi validasi. <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/integritas\" title=\"Integritas\">Integritas<\/a> pun menjadi korban.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Ketiga kasus di awal tulisan ini menunjukkan satu kesamaan: hasrat untuk diakui, meski dengan cara yang merendahkan diri sendiri maupun orang lain. Keinginan untuk dilihat memang manusiawi, tetapi menjadi masalah ketika ia dijadikan tujuan dan ditempuh dengan cara yang tidak mulia. Padahal, jika kita renungkan, obsesi terhadap pengakuan ini bukanlah ciptaan anak-anak, melainkan cerminan logika orang dewasa: logika bahwa nilai diri diukur dari capaian yang terlihat dan diakui publik. Logika inilah yang membuat orangtua rela memaksakan anak dan kepala sekolah menghalalkan jalan pintas.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/883756\/percepat-pengadaan-barang-dan-jasa-2026-kemenag-tekankan-integritas\" title=\"Percepat Pengadaan Barang dan Jasa 2026, Kemenag Tekankan Integritas\" target=\"_blank\">Percepat Pengadaan Barang dan Jasa 2026, Kemenag Tekankan Integritas<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>ORANG DEWASA YANG TIDAK SADAR MENJADI KORBAN<\/strong><\/p>\n<p>Untuk menjawab persoalan ini, kita harus berani mengalihkan fokus dari \u2018kesalahan anak\u2019 ke \u2018luka orang dewasa\u2019. Persoalan anak sering dilihat sebagai masalah mereka semata, padahal lingkungan tempat anak berada jarang mendapat perhatian. Orang dewasa sering kali tanpa disadari menganggap bahwa mereka sudah \u2018selesai\u2019 dan tidak perlu belajar lagi. Asumsi ini berbahaya. Tidak ada anak yang terlahir haus akan validasi. Obsesi terhadap pengakuan adalah hasil belajar. Anak menyerapnya dari struktur dan budaya yang diciptakan dan dihidupi orang dewasa di sekitarnya (Bandura, 1977).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/869365\/cara-setting-akun-whatsapp-anak-10-12-tahun-dengan-fitur-parental-control\" title=\"Cara Setting Akun WhatsApp Anak 10-12 Tahun dengan Fitur Parental Control\" target=\"_blank\">Cara Setting Akun WhatsApp Anak 10-12 Tahun dengan Fitur Parental Control<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Apa yang dirayakan dan dipamerkan orang dewasa sebagai tanda keberhasilan menjadi kurikulum tersembunyi yang mengajarkan anak apa yang \u2018pantas\u2019 dikejar dan bagaimana melakukannya.<\/p>\n<p>Kebutuhan validasi orang dewasa terlihat dari orangtua yang memamerkan rapor anak sebagai tanda keberhasilan mereka, atau kepala sekolah yang memburu label \u2018sekolah unggulan\u2019. Sebagian dari mereka menghalalkan kecurangan demi validasi. Namun, mencaci mereka sebagai \u2018serakah\u2019 adalah analisis dangkal. Hasrat validasi lahir dari struktur dan budaya yang menekan. Orangtua memaksa anak berprestasi karena tekanan lingkungan yang menganggap anak tidak pintar jika tidak berprestasi. Kepala sekolah mengejar label unggulan karena tuntutan struktural yang menekan.<\/p>\n<p>Inilah yang disebut Johan Galtung (1969) sebagai kekerasan struktural dan kultural. Orangtua dan kepala sekolah sebenarnya adalah korbannya. Situasi menjadi buruk ketika mereka tidak menyadari luka itu, lalu tanpa sadar mewariskannya kepada anak. Di ranah mana pun, pertanyaan mendasarnya sama: apa yang kita rayakan sebagai \u2018sukses\u2019?<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><strong>TRANSFORMASI ORANG DEWASA<\/strong><\/p>\n<p>Karena mereka tidak menyadari luka itu, korban justru tanpa sengaja melanggengkan siklus dengan berubah menjadi pelaku. Situasi ini harus dihentikan dan diubah. Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan ialah membangun kesadaran dan rasa tanggung jawab pada para orang dewasa sehingga tidak ada perasaan lepas tangan karena merasa telah menjadi korban.<\/p>\n<p>Kesadaran saja tidak cukup. Orang dewasa perlu memahami akar masalah, lalu bertindak. Dalam konsep pendidikan perdamaian kritis, kesadaran harus disertai dengan agensi, yakni kemampuan untuk bertindak guna mengubah keadaan (Bajaj, 2018).<\/p>\n<p>Tugas pertama orang dewasa bukan memperbaiki sikap dan perilaku anak atau siswa, melainkan menghentikan kebiasaan orang dewasa yang berpura-pura baik-baik saja. Tugas berikutnya, para orang dewasa yang memegang kuasa, seperti kepala sekolah dan kepala keluarga, harus ingat bahwa ada struktur di genggaman tangan mereka yang harus dimanfaatkan secara sengaja dengan merancang struktur dan budaya yang menumbuhkan integritas.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, di rumah, kisah \u2018sukses\u2019 apa yang akan diceritakan orangtua kepada anak? Apakah tentang anak tetangga yang berhasil mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi, atau juga tentang anak tetangga yang ikut menyelesaikan masalah di kampung? Di sekolah, kepala sekolah dapat menentukan apa yang akan dirayakan di sekolah. Siswa yang memenangi lomba saja, atau juga merayakan sumbangsih siswa ketika melakukan kegiatan-kegiatan yang terlihat sederhana tapi berkontribusi pada kebaikan bersama. Orang dewasa perlu menyusun lingkungan secara sadar agar integritas benar-benar dapat tumbuh dan berkembang.<\/p>\n<p>Wujud lain dari penataan ini ialah orang dewasa yang mengarahkan kehidupan di rumah, sekolah, dan masyarakat agar lebih berorientasi pada kontribusi terhadap persoalan nyata di sekitarnya. Ketika anak atau siswa secara sengaja diajak melihat keadaan di sekeliling dan berkontribusi dalam mencari solusi untuk memperbaikinya, keinginan untuk mendapat pengakuan perlahan berhenti menjadi tujuan dan berubah menjadi akibat sampingan dari kerja yang berintegritas.<\/p>\n<p>Praktik membangun integritas ini tidak bisa ditunda-tunda; momentum terbaik untuk memulainya ialah di tahun ajaran baru 2026\/2027 untuk mengingat kembali tujuan pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat (Dewantara, 1977).<\/p>\n<p>Maka, sekolah, keluarga, masyarakat, dan negara perlu bekerja sama untuk membenahi tanah tempat anak dan siswa tumbuh agar struktur dan budaya yang ada di dalamnya mampu memfasilitasi dan mendampingi mereka dalam menumbuhkan kepercayaan diri yang murni serta integritas.<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/jurnal-kopi\/902813\/orang-dewasa-sumber-krisis-integritas\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Dok. Pribadi) BELAKANGAN, kita menyaksikan remaja menghalalkan berbagai cara demi validasi\u2014mulai dari membuat konten yang merendahkan disabilitas, memalsukan penelitian akademik, hingga menganggap nge-vape sebagai penanda eksistensi. Kita, orang dewasa, cenderung menyalahkan dan menghujat mereka. Namun, sebelum telunjuk kita telanjur menuding, sudah saatnya menatap diri sendiri dan lingkungan sekitar yang setiap hari mengelilingi mereka. Saat ini, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":60745,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-60744","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60744","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60744"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60744\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60745"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60744"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60744"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60744"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}