{"id":60401,"date":"2026-06-21T05:53:06","date_gmt":"2026-06-21T05:53:06","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/21\/mengapa-kunang-kunang-menghilang-ini-penjelasan-ilmiahnya-dan-ancaman-kepunahan\/"},"modified":"2026-06-21T05:53:06","modified_gmt":"2026-06-21T05:53:06","slug":"mengapa-kunang-kunang-menghilang-ini-penjelasan-ilmiahnya-dan-ancaman-kepunahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/21\/mengapa-kunang-kunang-menghilang-ini-penjelasan-ilmiahnya-dan-ancaman-kepunahan\/","title":{"rendered":"Mengapa Kunang-Kunang Menghilang Ini Penjelasan Ilmiahnya dan Ancaman Kepunahan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/21\/1782020555_14777de7b4926530c0ea.jpg\" alt=\"Mengapa Kunang-Kunang Menghilang? Ini Penjelasan Ilmiahnya dan Ancaman Kepunahan\"\/><figcaption>Foto dengan teknik long exposure memperlihatkan kawanan kunang-kunang di Jalur Longgang, Keelung, pada 7 Mei 2024. Musim kunang-kunang di Taiwan biasanya dimulai pada akhir April dan berlangsung hingga awal Mei.(AFP\/I-Hwa CHENG)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KELUHAN warganet mengenai sulitnya menemukan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kunang-kunang\" title=\"Kunang-kunang\">kunang-kunang<\/a> di alam terbuka belakangan ini bukan sekadar nostalgia masa kecil. Fenomena menghilangnya <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/serangga\" title=\"serangga\">serangga<\/a> bercahaya ini ternyata memiliki dasar ilmiah yang kuat dan menjadi alarm serius bagi kesehatan ekosistem kita.<\/p>\n<p>Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, dosen sekaligus peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, menegaskan bahwa kunang-kunang adalah <strong><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bioindikator\" title=\"bioindikator\">bioindikator<\/a><\/strong>. Artinya, keberadaan atau ketidakhadiran serangga ini mencerminkan kualitas <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/lingkungan\" title=\"lingkungan\">lingkungan<\/a> di suatu wilayah.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,&#8221; ujar Prof. Upik. Ia menambahkan bahwa penurunan ini telah menjadi fenomena global yang mengkhawatirkan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/weekend\/585188\/ilmuwan-ajukan-cara-radikal-selamatkan-serangga-dari-perubahan-iklim\" title=\"Ilmuwan Ajukan Cara Radikal Selamatkan Serangga dari Perubahan Iklim\" target=\"_blank\">Ilmuwan Ajukan Cara Radikal Selamatkan Serangga dari Perubahan Iklim<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Ancaman Kepunahan Global dan Lokal<\/h3>\n<p>Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) memperkuat kekhawatiran tersebut. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, beberapa spesies yang mendiami kawasan mangrove kini berada dalam kategori rentan.<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0; border: 1px solid #ddd;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Kategori Data<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Keterangan Ilmiah<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Status Global (IUCN)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">11\u201320% spesies yang dievaluasi berada dalam kondisi terancam.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Kondisi di Indonesia<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Penurunan drastis populasi, terutama di wilayah perkotaan.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Spesies Rentan<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Spesies khas mangrove di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Faktor Utama<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Kerusakan habitat, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/polusi-cahaya\" title=\"Polusi Cahaya\">polusi cahaya<\/a>, dan penggunaan insektisida.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Penyebab Utama Hilangnya Cahaya Malam<\/h3>\n<p>Menurut Prof. Upik, ada beberapa faktor krusial yang menyebabkan kunang-kunang &#8220;pamit&#8221; dari lingkungan kita:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Alih Fungsi Lahan:<\/strong> Perubahan rawa dan persawahan menjadi pemukiman menghilangkan tempat hidup larva yang butuh tanah lembap.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Polusi Cahaya:<\/strong> Lampu LED yang terlalu terang mengganggu komunikasi antarkunang-kunang. Jantan menjadi sulit mendeteksi sinyal cahaya betina, sehingga proses reproduksi gagal.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Penggunaan Kimia:<\/strong> Insektisida kimia dan semenisasi saluran irigasi merusak siklus hidup mereka.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Perubahan Iklim:<\/strong> Kekeringan ekstrem membuat habitat yang seharusnya lembap menjadi kering dan tidak layak huni.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p><strong>Di Mana Kunang-kunang Masih Bisa Ditemukan?<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nMeski langka, mereka masih bertahan di habitat yang terjaga, seperti kawasan mangrove, tepi sungai alami, persawahan tradisional, perkebunan organik, dan lantai hutan tropis yang lembap.<\/p>\n<h3>Langkah Nyata Menyelamatkan Kunang-kunang<\/h3>\n<p>Prof. Upik memperingatkan jika tren kerusakan ini berlanjut, generasi mendatang mungkin hanya bisa melihat kunang-kunang melalui buku atau tayangan digital. Namun, masyarakat masih bisa berkontribusi melalui langkah sederhana:<\/p>\n<ol>&#13;<\/p>\n<li>Menghindari penutupan seluruh halaman rumah dengan semen agar tanah tetap lembap.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang di malam hari.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Beralih ke pupuk organik dan mengurangi penggunaan pestisida kimia.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Menjaga kebersihan saluran air dan sungai dari pencemaran.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ol>\n<p>&#8220;Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,&#8221; pungkasnya. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/902648\/mengapa-kunang-kunang-menghilang-ini-penjelasan-ilmiahnya-dan-ancaman-kepunahan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Foto dengan teknik long exposure memperlihatkan kawanan kunang-kunang di Jalur Longgang, Keelung, pada 7 Mei 2024. Musim kunang-kunang di Taiwan biasanya dimulai pada akhir April dan berlangsung hingga awal Mei.(AFP\/I-Hwa CHENG) KELUHAN warganet mengenai sulitnya menemukan kunang-kunang di alam terbuka belakangan ini bukan sekadar nostalgia masa kecil. Fenomena menghilangnya serangga bercahaya ini ternyata memiliki dasar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":60402,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-60401","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60401","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60401"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60401\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60402"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60401"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60401"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60401"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}