{"id":60389,"date":"2026-06-21T05:20:59","date_gmt":"2026-06-21T05:20:59","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/21\/nagatitan-chaiyaphumensis-dinosaurus-terbesar-asia-tenggara-ditemukan-di-tailan\/"},"modified":"2026-06-21T05:20:59","modified_gmt":"2026-06-21T05:20:59","slug":"nagatitan-chaiyaphumensis-dinosaurus-terbesar-asia-tenggara-ditemukan-di-tailan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/21\/nagatitan-chaiyaphumensis-dinosaurus-terbesar-asia-tenggara-ditemukan-di-tailan\/","title":{"rendered":"Nagatitan chaiyaphumensis Dinosaurus Terbesar Asia Tenggara Ditemukan di Tailan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/21\/1782018151_419c4e3d71135fd431bc.jpg\" alt=\"Nagatitan chaiyaphumensis: Dinosaurus Terbesar Asia Tenggara Ditemukan di Tailan\"\/><figcaption>Ilustrasi artistik dinosaurus Nagatitan chaiyaphumensis(Dok Patchanop Boonsai)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DUNIA<b> <\/b>paleontologi internasional dikejutkan dengan pengumuman penemuan spesies <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/dinosaurus\" title=\"Dinosaurus\">dinosaurus<\/a> baru yang memegang rekor sebagai hewan darat terbesar yang pernah mendiami kawasan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/asia-tenggara\" title=\"Asia Tenggara\">Asia Tenggara<\/a>. Spesies raksasa ini diberi nama <em><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nagatitan-chaiyaphumensis\" title=\"Nagatitan chaiyaphumensis\">Nagatitan chaiyaphumensis<\/a><\/em>.<\/p>\n<p>Dinosaurus ini termasuk dalam kelompok sauropoda, yakni kelompok herbivora berleher panjang yang dikenal karena ukurannya yang masif. Berdasarkan analisis <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/fosil\" title=\"Fosil\">fosil<\/a> yang ditemukan di Provinsi Chaiyaphum, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tailan\" title=\"tailan\">Tailan<\/a>\u00a0timur laut, para peneliti memperkirakan ukuran hewan purba ini setara dengan sembilan gajah Asia dewasa.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<div style=\"background-color: #f9f9f9; border-left: 5px solid #2c3e50; padding: 15px; margin: 20px 0;\"><strong>Profil Nagatitan chaiyaphumensis:<\/strong><\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin-top: 10px;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #eeeeee;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Karakteristik<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Detail Estimasi<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Berat Tubuh<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Sekitar 27 Ton<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Panjang Tubuh<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Sekitar 27 Meter<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Estimasi Usia<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">100 &#8211; 120 Juta Tahun Lalu (Masa Kapur)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Lokasi Penemuan<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Provinsi Chaiyaphum, Tailan<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Publikasi Ilmiah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Jurnal Scientific Reports<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<\/div>\n<h3>Makna di Balik Nama Sang Raksasa<\/h3>\n<p>Nama <em>Nagatitan<\/em> diambil dari perpaduan dua budaya. Kata &#8220;Naga&#8221; merujuk pada makhluk mitologi ular yang dihormati di Asia Tenggara, sementara &#8220;Titan&#8221; berasal dari dewa-dewa raksasa dalam mitologi Yunani. Adapun nama spesies &#8220;chaiyaphumensis&#8221; merupakan bentuk penghormatan bagi wilayah tempat fosil tersebut pertama kali ditemukan sekitar satu dekade lalu.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/898082\/jianchangmaensis-dinosaurus-mirip-burung-ditemukan-di-tiongkok\" title=\"Jianchangmaensis: Dinosaurus Mirip Burung Ditemukan di Tiongkok\" target=\"_blank\">Jianchangmaensis: Dinosaurus Mirip Burung Ditemukan di Tiongkok<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Penelitian ini dipimpin oleh tim gabungan dari Inggris dan Tailan. Thitiwoot Sethapanichsakul, peneliti utama dari University College London (UCL), mengungkapkan bahwa penemuan ini sangat krusial untuk memetakan sejarah evolusi dinosaurus di kawasan ini. Menurutnya, <em>Nagatitan<\/em> hidup sekitar 40 juta tahun lebih awal daripada <em>Tyrannosaurus rex<\/em> (T-Rex).<\/p>\n<h3>Saksi Terakhir Sebelum Perubahan Ekosistem<\/h3>\n<p>Menariknya, fosil <em>Nagatitan<\/em> ditemukan pada lapisan batuan termuda yang masih menyimpan sisa-sisa dinosaurus di Tailan. Sethapanichsakul menjelaskan bahwa setelah periode hidup <em>Nagatitan<\/em>, wilayah tersebut kemungkinan besar berubah menjadi laut dangkal, sehingga tidak lagi mendukung kehidupan dinosaurus darat besar.<\/p>\n<p>&#8220;Nagatitan mungkin menjadi salah satu sauropoda besar terakhir yang pernah hidup di Asia Tenggara sebelum perubahan lingkungan yang drastis,&#8221; ujar Sethapanichsakul.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/896876\/fosil-dinosaurus-langka-mirip-burung-unta-ditemukan-di-pulau-kanada\" title=\"Fosil Dinosaurus Langka Mirip Burung Unta Ditemukan di Pulau Kanada\" target=\"_blank\">Fosil Dinosaurus Langka Mirip Burung Unta Ditemukan di Pulau Kanada<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Teka-teki Adaptasi Iklim Purba<\/h3>\n<p>Selain ukurannya yang fantastis, penemuan ini memberikan wawasan baru mengenai iklim purba. Profesor Paul Upchurch dari UCL menyoroti bagaimana hewan sebesar <em>Nagatitan<\/em> mampu bertahan hidup di masa ketika suhu global dan kadar karbon dioksida di atmosfer sangat tinggi.<\/p>\n<p>Secara biologis, tubuh yang sangat besar cenderung menyimpan panas lebih lama, yang seharusnya menjadi tantangan di lingkungan yang panas. Namun, keberadaan <em>Nagatitan<\/em> membuktikan bahwa kelompok sauropoda mampu beradaptasi dan mendominasi ekosistem meskipun Bumi tengah mengalami pemanasan global pada masa itu.<\/p>\n<p>Dengan penemuan ini, Tailan\u00a0kini telah mengidentifikasi 14 spesies dinosaurus secara resmi. Hal ini memperkuat posisi Tailan\u00a0sebagai salah satu pusat penelitian paleontologi paling potensial di Asia, bersaing dengan negara-negara kaya fosil lainnya di benua tersebut. (bbc\/Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/902641\/nagatitan-chaiyaphumensis-dinosaurus-terbesar-asia-tenggara-ditemukan-di-tailan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi artistik dinosaurus Nagatitan chaiyaphumensis(Dok Patchanop Boonsai) DUNIA paleontologi internasional dikejutkan dengan pengumuman penemuan spesies dinosaurus baru yang memegang rekor sebagai hewan darat terbesar yang pernah mendiami kawasan Asia Tenggara. Spesies raksasa ini diberi nama Nagatitan chaiyaphumensis. Dinosaurus ini termasuk dalam kelompok sauropoda, yakni kelompok herbivora berleher panjang yang dikenal karena ukurannya yang masif. Berdasarkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":60390,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-60389","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60389","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60389"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60389\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60390"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60389"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60389"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60389"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}