{"id":59543,"date":"2026-06-19T07:00:57","date_gmt":"2026-06-19T07:00:57","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/19\/wamendikdasmen-fajar-buya-syafii-meneladankan-kritik-tanpa-permusuhan\/"},"modified":"2026-06-19T07:00:57","modified_gmt":"2026-06-19T07:00:57","slug":"wamendikdasmen-fajar-buya-syafii-meneladankan-kritik-tanpa-permusuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/19\/wamendikdasmen-fajar-buya-syafii-meneladankan-kritik-tanpa-permusuhan\/","title":{"rendered":"Wamendikdasmen Fajar Buya Syafii Meneladankan Kritik tanpa Permusuhan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/19\/1781852105_79f783936a7810261a6b.jpeg\" alt=\"Wamendikdasmen Fajar: Buya Syafii Meneladankan Kritik tanpa Permusuhan\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa salah satu warisan terpenting <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/buya-syafii-maarif\" title=\"Buya Syafii Maarif\">Buya Syafii Maarif<\/a> adalah keteladanan dalam menyampaikan kritik tanpa kehilangan rasa hormat, tanpa memutus komunikasi, dan tanpa menjadikan perbedaan sebagai permusuhan.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan Fajar dalam forum Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif dengan tema \u201cMenjaga Suluh Merawat Nurani Bangsa\u201d yang diselenggarakan Maarif Institute dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) di Jakarta, Jumat (19\/6).<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cBuya mengajarkan bahwa seseorang bisa tetap kritis tanpa memutus silaturahmi kebangsaan. Kritik harus menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan bersama, bukan memperuncing perpecahan dan melahirkan kebencian,\u201d ungkap Fajar, yang pernah menjabat Direktur Eksekutif Maarif Institute periode 2010\u20132016.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/897700\/pasca-waisak-wamendikdasmen-fajar-dorong-pendidikan-karakter-di-sekolah-maitreyawira\" title=\"Pasca Waisak, Wamendikdasmen Fajar Dorong Pendidikan Karakter di Sekolah Maitreyawira\" target=\"_blank\">Pasca Waisak, Wamendikdasmen Fajar Dorong Pendidikan Karakter di Sekolah Maitreyawira<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Fajar menilai, kekuatan Buya terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara idealisme, akal sehat, dan realitas politik. Buya tetap membuka ruang dialog dengan berbagai pihak, tetapi tidak pernah menukar prinsip-prinsip keadilan, kemanusiaan, dan kebangsaan yang diyakininya.<\/p>\n<p>Dalam paparannya, Fajar mengulas posisi Buya Syafii di antara para pembaru Islam Indonesia yang oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah disebut sebagai \u201cTiga Pendekar dari Chicago\u201d, yakni Nurcholish Madjid, Amien Rais, dan Ahmad Syafii Maarif. Menurutnya, ketiga tokoh tersebut menghadirkan dentuman pembaruan Islam yang kuat dalam kehidupan intelektual dan kebangsaan Indonesia, meskipun menempuh pendekatan perjuangan yang berbeda.<\/p>\n<p>Amien Rais memilih jalur politik praktis melalui pendirian Partai Amanat Nasional. Sementara Buya Syafii memilih pendekatan perjuangan yang berbeda. Ia tidak terjun langsung ke politik praktis, tetapi aktif memengaruhi arah kebangsaan melalui pemikiran, pendidikan, kaderisasi, advokasi publik, dan kritik yang berkeadaban.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/895973\/menyalakan-api-pemikiran-buya-syafii-maarif-melalui-seni-pertunjukan\" title=\"Menyalakan Api Pemikiran Buya Syafii Maarif melalui Seni Pertunjukan\" target=\"_blank\">Menyalakan Api Pemikiran Buya Syafii Maarif melalui Seni Pertunjukan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cBuya tidak anti terhadap kekuasaan, tetapi juga tidak pernah larut di dalam kekuasaan. Beliau mampu menjaga komunikasi dengan para pemimpin lintas sektor, namun tetap memiliki keberanian moral untuk menyampaikan kritik ketika melihat ada ketidakadilan,\u201d ungkap Fajar.<\/p>\n<p>Menurut Fajar, Buya tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga mendorong kader-kader muda yang memiliki kapasitas dan integritas untuk berdiaspora masuk ke ruang-ruang strategis, termasuk pemerintahan. Harapannya, nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kebangsaan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.<\/p>\n<p>Dalam konteks kebijakan saat ini, Fajar menyebut arah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian besar pada agenda pemerataan dan keberpihakan kepada kelompok rentan. Di Kemendikdasmen, semangat tersebut diterjemahkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu\u2019ti melalui penguatan pendidikan bermutu untuk semua, peningkatan kompetensi guru, serta pembangunan budaya belajar yang lebih mendalam dan berkeadilan.<\/p>\n<p>\u201cKarena itu, kami tidak berpikir setiap pergantian kepemimpinan harus selalu diikuti perubahan kurikulum. Yang lebih penting adalah memastikan kebijakan berjalan berkelanjutan, guru memiliki kompetensi yang baik, dan setiap anak Indonesia memperoleh pendidikan yang bermutu hingga ujung negeri,\u201d tegas Fajar.<\/p>\n<p>Menurutnya, salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui pengembangan Pembelajaran Mendalam sebagai bentuk pendidikan transformatif. Pendekatan ini mendorong peserta didik tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan mampu menghubungkan ilmu dengan realitas kehidupan.<\/p>\n<p>\u201cPembelajaran mendalam pada hakikatnya adalah pendidikan yang transformatif. Pendidikan yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi melahirkan kesadaran, karakter, dan tindakan yang membawa kemaslahatan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Fajar menegaskan, warisan terbesar Buya Syafii bukan hanya tulisan atau pidato, melainkan keteladanan dalam menjaga akal sehat, nurani, dan keberanian moral di tengah kehidupan publik.<\/p>\n<p>\u201cBangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang berani berpikir jernih, bersikap adil, serta tetap mampu membangun jembatan di tengah perbedaan. Itulah salah satu keteladanan terbesar yang saya dapatkan dari Buya yang harus kita rawat bersama dan kita teruskan di berbagai lini pengabdian,\u201d pungkasnya. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/902174\/wamendikdasmen-fajar-buya-syafii-meneladankan-kritik-tanpa-permusuhan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Istimewa) WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa salah satu warisan terpenting Buya Syafii Maarif adalah keteladanan dalam menyampaikan kritik tanpa kehilangan rasa hormat, tanpa memutus komunikasi, dan tanpa menjadikan perbedaan sebagai permusuhan. Hal itu disampaikan Fajar dalam forum Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif dengan tema \u201cMenjaga Suluh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":59544,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-59543","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59543"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59543\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59544"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}