{"id":59424,"date":"2026-06-19T01:45:18","date_gmt":"2026-06-19T01:45:18","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/19\/ribuan-bayi-anjing-laut-di-pulau-terpencil-australia-tewas-akibat-flu-burung\/"},"modified":"2026-06-19T01:45:18","modified_gmt":"2026-06-19T01:45:18","slug":"ribuan-bayi-anjing-laut-di-pulau-terpencil-australia-tewas-akibat-flu-burung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/19\/ribuan-bayi-anjing-laut-di-pulau-terpencil-australia-tewas-akibat-flu-burung\/","title":{"rendered":"Ribuan Bayi Anjing Laut di Pulau Terpencil Australia Tewas Akibat Flu Burung"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/19\/1781832642_ff2bf70f69afbf49cfd4.jpg\" alt=\"Ribuan Bayi Anjing Laut di Pulau Terpencil Australia Tewas Akibat Flu Burung\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>WABAH <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/flu-burung\" title=\"Flu Burung\">flu burung<\/a> varian H5N1 dilaporkan telah membantai ribuan bayi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anjing-laut\" title=\"Anjing Laut\">anjing laut<\/a> gajah selatan di pulau terpencil milik Australia yang berada di dekat Antartika. Berdasarkan penelitian terbaru, virus mematikan ini menyapu bersih lebih dari 75% populasi anakan di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Peristiwa ini terjadi di Kepulauan Heard dan McDonald, yang terletak sekitar 4.000 kilometer di sebelah barat daya Australia. Wilayah ini merupakan rumah bagi lebih dari satu juta burung laut dan anjing laut yang berkembang biak.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Menggunakan data dari bulan Oktober tahun lalu hingga Januari tahun ini, para ilmuwan memperkirakan sekitar 13.000 bayi anjing laut dari total kelompok sebanyak 17.000 ekor di Pulau Heard telah mati akibat strain H5N1 sejak Agustus tahun lalu. Selain itu, angka kematian yang lebih tinggi dari perkiraan juga ditemukan pada populasi penguin.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/859780\/waspada-ini-4-penyakit-infeksi-paru-berat-di-awal-2026\" title=\"Waspada! Ini 4 Penyakit Infeksi Paru Berat di Awal 2026\" target=\"_blank\">Waspada! Ini 4 Penyakit Infeksi Paru Berat di Awal 2026<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Hingga saat ini, Australia merupakan satu-satunya benua yang belum mencatat kasus strain H5N1, yang telah menyebar di antara burung-burung di seluruh dunia dan mulai menginfeksi beberapa mamalia.<\/p>\n<p>Penelitian terbaru ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah BioRxiv dan belum ditinjau sejawat (peer-reviewed). Studi tersebut didasarkan pada survei menggunakan drone dan kunjungan langsung ke daratan pulau yang sulit dijangkau, di mana para ilmuwan mengumpulkan sampel dari sembilan spesies hewan.<\/p>\n<p>Dari jumlah tersebut, enam spesies dinyatakan positif mengidap strain H5N1, termasuk anjing laut gajah selatan, penguin raja, penguin gentoo, anjing laut bulu Antartika, dan petrel selam Georgia Selatan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/858586\/4-penyakit-infeksi-paru-berat-yang-masih-dipantau-dunia\" title=\"4 Penyakit Infeksi Paru Berat yang Masih Dipantau Dunia\" target=\"_blank\">4 Penyakit Infeksi Paru Berat yang Masih Dipantau Dunia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Secara rinci, laporan tersebut memperkirakan 13.359 bayi anjing laut dari populasi 17.364 ekor di Pulau Heard mati. Para peneliti menyebutkan angka kematian ini kemungkinan masih di bawah perkiraan asli, karena anakan anjing laut masih terus berjatuhan saat survei terakhir dilakukan. Bahkan di satu area, tingkat kematian bayi anjing laut mencapai 97 persen. Sementara itu, ratusan penguin raja dewasa juga ditemukan mati dalam jumlah di atas tingkat normal.<\/p>\n<p>&#8220;Pengamatan flu burung H5 di Pulau Heard dan Pulau McDonald ini merupakan deteksi pertama di wilayah eksternal Australia dan menunjukkan pergerakan virus yang terus berlanjut ke arah timur di sekitar sub-Antartika,&#8221; kata penulis utama studi yang juga seorang ahli biologi satwa liar, Dr. Julie McInnes.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Hasil kami menunjukkan pola yang mirip dengan pulau-pulau sub-Antartika lainnya, seperti Georgia Selatan, di mana anjing laut gajah menjadi yang paling parah terkena dampaknya.&#8221;<\/p>\n<p>Menteri Lingkungan Hidup Australia, Murray Watt, menyebut kematian massal anjing laut ini sebagai peringatan keras. Ia menegaskan bahwa Australia tidak boleh lengah dalam bersiap menghadapi kemungkinan masuknya strain virus ini ke daratan utama.<\/p>\n<p>&#8220;Kita harus realistis mengenai kemungkinan terjadinya intrusi di sini, dan membuat rencana yang sesuai,&#8221; ujar Murray Watt.<\/p>\n<p>Para ilmuwan meyakini bahwa flu burung kemungkinan besar masuk ke kepulauan tersebut pada Agustus tahun lalu, dibawa oleh burung-migran dari Kepulauan Crozet milik Prancis yang berjarak sekitar 1.800 kilometer. Program Antartika Australia kini menyatakan akan terus memantau tanda-tanda penyebaran flu burung di wilayah teritorinya. (BBC\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/902093\/ribuan-bayi-anjing-laut-di-pulau-terpencil-australia-tewas-akibat-flu-burung\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) WABAH flu burung varian H5N1 dilaporkan telah membantai ribuan bayi anjing laut gajah selatan di pulau terpencil milik Australia yang berada di dekat Antartika. Berdasarkan penelitian terbaru, virus mematikan ini menyapu bersih lebih dari 75% populasi anakan di wilayah tersebut. Peristiwa ini terjadi di Kepulauan Heard dan McDonald, yang terletak sekitar 4.000 kilometer di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":59425,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-59424","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59424","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59424"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59424\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59425"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}