{"id":58455,"date":"2026-06-17T02:33:58","date_gmt":"2026-06-17T02:33:58","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/17\/gempa-palu-m67-perlihatkan-kompleksitas-sesar-aktif-di-palu-sigi\/"},"modified":"2026-06-17T02:33:58","modified_gmt":"2026-06-17T02:33:58","slug":"gempa-palu-m67-perlihatkan-kompleksitas-sesar-aktif-di-palu-sigi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/17\/gempa-palu-m67-perlihatkan-kompleksitas-sesar-aktif-di-palu-sigi\/","title":{"rendered":"Gempa Palu M6,7 Perlihatkan Kompleksitas Sesar Aktif di Palu-Sigi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/17\/1781663402_4fe268bfdf05da3c71ee.jpg\" alt=\"Gempa Palu M6,7 Perlihatkan Kompleksitas Sesar Aktif di Palu-Sigi\"\/><figcaption>Analisis gempa Palu oleh BMKG(Dok.BMKG)<\/figcaption><\/figure>\n<p>ANGGOTA Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia Daryono mengungkapkan sedikitnya enam fakta penting terkait <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gempa-bumi\" title=\"gempa bumi\">gempa bumi<\/a> berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang \u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/palu\" title=\"Palu\">Palu<\/a> dan Sigi di Sulawesi Tengah, Selasa (16\/6). \u00a0Menurutnya, karakter gempa dangkal, kompleksitas sistem sesar aktif, serta kondisi geologi setempat menjadi faktor utama yang menyebabkan guncangan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gempa-palu\" title=\"Gempa Palu\">gempa Palu<\/a> terasa kuat dan menimbulkan kerusakan.<\/p>\n<p>Daryono menjelaskan gempa Palu tersebut tergolong sebagai gempa kerak dangkal (<em>shallow crustal earthquake) <\/em>yang umumnya dipicu aktivitas sesar aktif. \u00a0Kedalaman hiposenter yang relatif dangkal menyebabkan energi gempa tidak banyak mengalami pelemahan sebelum mencapai permukaan, sehingga guncangan maksimum terkonsentrasi di wilayah sekitar episenter, termasuk Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Parigi Moutong.<\/p>\n<p>&#8220;Fenomena <em>near-field effect <\/em>sangat dominan karena amplitudo gelombang seismik tidak mengalami peredaman signifikan sebelum mencapai permukaan tanah,&#8221; ujarnya, Rabu (17\/6).\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/901232\/gempa-m-51-guncang-poso-sulawesi-tengah-susulan-gempa-m-67-palu\" title=\"Gempa M 5,1 Guncang Poso Sulawesi Tengah, Susulan Gempa M 6,7 Palu\" target=\"_blank\">Gempa M 5,1 Guncang Poso Sulawesi Tengah, Susulan Gempa M 6,7 Palu<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menambahkan kondisi tersebut diperkuat oleh keberadaan lapisan sedimen lunak yang mengisi cekungan atau basin di kawasan terdampak. \u00a0Perbedaan karakter antara batuan dasar dan lapisan sedimen memicu fenomena amplifikasi gelombang seismik yang membuat durasi serta intensitas guncangan menjadi lebih besar.<\/p>\n<p>Fakta kedua, menurut Daryono, ialah lokasi gempa yang berada di zona deformasi tektonik yang sangat kompleks. Episenter gempa berada dalam pengaruh sejumlah sesar aktif, antara lain Sesar Sausu, Sesar Palolo, Sesar Malei, Sesar Parigi, Sesar Tokararu, Segmen Sesar Saluki, dan Lorelindu Fracture Zone.<\/p>\n<p>Interaksi berbagai sesar tersebut mencerminkan kondisi tektonik yang dinamis, terutama akibat transfer tegangan dari sistem Sesar Palu-Koro ke arah timur melalui zona deformasi yang terfragmentasi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/901191\/gempa-m-67-sulawesi-tengah-bnpb-satu-warga-sigi-meninggal-dunia\" title=\"Gempa M 6,7 Sulawesi Tengah, BNPB: Satu Warga Sigi Meninggal Dunia\" target=\"_blank\">Gempa M 6,7 Sulawesi Tengah, BNPB: Satu Warga Sigi Meninggal Dunia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Distribusi energi seismik di kawasan ini tidak terakomodasi secara linear, melainkan terbagi ke dalam pola tegangan yang kompleks sehingga berpotensi memicu berbagai mekanisme sesar secara bersamaan,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Fakta ketiga, gempa memiliki mekanisme sesar turun (normal fault). Daryono menjelaskan wilayah Palolo dan Sausu berada dalam zona tarikan <em>(pull-apart basin)<\/em> yang terbentuk akibat dinamika Sesar Palu-Koro. Kondisi tersebut menyebabkan kerak bumi mengalami peregangan sehingga memunculkan sesar-sesar turun yang membentuk cekungan dan terisi sedimen.<\/p>\n<p>Menurutnya, zona deformasi transtensial tersebut membuat pelepasan tegangan tidak hanya didominasi pergeseran mendatar, tetapi juga pergerakan vertikal yang menghasilkan guncangan dangkal dan berpotensi teramplifikasi secara lokal.<\/p>\n<p>Fakta keempat, gempa ini terbukti bersifat destruktif. Berdasarkan data BNPB, kerusakan tercatat pada 67 unit rumah, terdiri atas 26 rumah rusak ringan, enam rusak sedang, dan 12 rusak berat.\u00a0<\/p>\n<p>Selain itu, enam fasilitas ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, serta ruas jalan penghubung Palu-Sigi-Poso juga mengalami kerusakan akibat gempa Palu. Kabupaten Sigi menjadi daerah yang mengalami dampak paling parah dengan total 47 rumah terdampak, terdiri atas 23 rusak ringan, enam rusak sedang, dan 12 rusak berat.<\/p>\n<p>Fakta kelima menunjukkan bahwa kawasan tersebut merupakan bagian dari sejarah panjang aktivitas kegempaan signifikan. Daryono mencatat gempa berkekuatan M4,5 pernah terjadi pada 1983, disusul gempa Palu-Poso M5,9 pada 1995 yang menyebabkan 26 orang luka-luka dan merusak 115 rumah di Kabupaten Parigi.<\/p>\n<p>Aktivitas seismik berlanjut dengan gempa M4,8 pada 2005 dan gempa Palu-Poso M6,6 pada 2017 yang mengakibatkan 25 orang luka-luka serta merusak 348 bangunan, termasuk 168 rumah dan sejumlah fasilitas ibadah.<\/p>\n<p>&#8220;Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa ancaman kegempaan di kawasan ini bersifat persisten dan memerlukan pemahaman yang komprehensif mengenai karakteristik tektoniknya,&#8221; ujar Daryono.<\/p>\n<p>Fakta keenam, lanjutnya, untuk mengantisipasi gempa Palu ialah pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap seluruh sistem sesar aktif di Sulawesi Tengah. Ia menekankan bahwa upaya mitigasi tidak boleh hanya berfokus pada sesar utama, tetapi juga pada percabangan-percabangan sesar aktif yang sering terabaikan namun tetap berpotensi memicu gempa merusak. &#8220;Mitigasi harus memperhatikan seluruh jaringan sesar aktif yang ada karena ancaman tidak hanya berasal dari sesar utama, tetapi juga dari sesar-sesar cabang yang dapat menghasilkan guncangan kuat,&#8221; tegasnya. (H-4)<br \/>&#13;<br \/>\n\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/901305\/gempa-palu-m67-perlihatkan-kompleksitas-sesar-aktif-di-palu-sigi\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisis gempa Palu oleh BMKG(Dok.BMKG) ANGGOTA Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia Daryono mengungkapkan sedikitnya enam fakta penting terkait gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang \u00a0Palu dan Sigi di Sulawesi Tengah, Selasa (16\/6). \u00a0Menurutnya, karakter gempa dangkal, kompleksitas sistem sesar aktif, serta kondisi geologi setempat menjadi faktor utama yang menyebabkan guncangan gempa Palu terasa kuat dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":58456,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-58455","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58455","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58455"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58455\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58456"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58455"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58455"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58455"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}