{"id":58401,"date":"2026-06-16T22:20:24","date_gmt":"2026-06-16T22:20:24","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/16\/paranoia-piala-dunia\/"},"modified":"2026-06-16T22:20:24","modified_gmt":"2026-06-16T22:20:24","slug":"paranoia-piala-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/16\/paranoia-piala-dunia\/","title":{"rendered":"Paranoia Piala Dunia"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/17\/1781635339_90dfe99b83b6fa0b8b91.jpg\" alt=\"Paranoia Piala Dunia\"\/><figcaption>Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI\/Seno)<\/figcaption><\/figure>\n<p>PIALA Dunia biasanya datang seperti Lebaran. Ia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia peristiwa kemanusiaan. Orang-orang yang selama empat tahun menunggu akhirnya menemukan alasan untuk berkumpul. Di warung kopi, di ruang keluarga, di sudut kota, bahkan di negeri-negeri yang tak pernah sekali pun lolos ke putaran final. Sepak bola, pada saat-saat seperti itu, mengalahkan paspor, bahasa, dan warna kulit.<\/p>\n<p>Anak kecil di Jakarta bisa menangis karena Argentina kalah. Buruh di Meksiko bisa melonjak kegirangan ketika Jepang menang. Seorang nelayan di Senegal bisa merasa dekat dengan seorang mahasiswa di Jerman hanya karena keduanya mengagumi gol yang sama. Piala Dunia ialah hari raya bagi dunia yang sering kali terlalu sibuk bertengkar.<\/p>\n<p>Karena itu, setiap edisi Piala Dunia selalu membawa harapan. Harapan untuk melihat keajaiban yang baru lahir dan legenda yang menolak tua.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/piala-dunia-2026\/900508\/gol-bertemu-algoritma\" title=\"Gol Bertemu Algoritma\" target=\"_blank\">Gol Bertemu Algoritma<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Bulan ini, miliaran mata menunggu sihir kaki muda seperti Lamine Yamal. Menanti kelincahan Michael Olise. Menunggu apakah Kylian Mbappe benar-benar mencapai takdirnya sebagai raja baru sepak bola dunia. Menunggu Vinicius Junior membuktikan dirinya di panggung terbesar.<\/p>\n<p>Tentu saja, seperti juga anak-anak yang enggan melepas dongeng sebelum tidur, dunia masih ingin melihat sekali lagi dua nama yang telah menemani zaman: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.<\/p>\n<p>Namun, menjelang <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/piala-dunia-2026\" title=\"Piala dunia 2026\">Piala Dunia 2026<\/a>, ada sesuatu yang terasa ganjil. Pesta belum dimulai, tetapi ketakutan sudah lebih dulu datang.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/piala-dunia-2026\/899230\/jangan-bersedih-kawan\" title=\"Jangan Bersedih, Kawan\" target=\"_blank\">Jangan Bersedih, Kawan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Biasanya, tuan rumah membuka pintu selebar-lebarnya. Mereka menyambut tamu dengan senyum. Mereka membuat orang merasa diterima sebab menjadi tuan rumah bukan hanya soal menyediakan stadion. Menjadi tuan rumah berarti menyediakan hati. Di situlah keganjilan itu muncul.<\/p>\n<p>Salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, yakni Amerika Serikat, justru memberikan kesan sebaliknya. Alih-alih menghadirkan rasa aman, yang muncul ialah kecemasan. Alih-alih keramahtamahan, yang terasa ialah kecurigaan.<\/p>\n<p>Kita mendengar kisah delegasi Iran yang mengalami kesulitan visa sehingga memilih bermarkas di Meksiko. Kita mendengar pemain Irak yang harus menjalani interogasi panjang di perbatasan. Kita membaca cerita suporter yang gagal datang karena izin masuk dibatalkan. Bahkan ada wasit yang kehilangan kesempatan memimpin pertandingan karena tertahan oleh tembok administrasi yang tak kasatmata.<\/p>\n<p>Tembok itu tidak terbuat dari beton. Ia terbuat dari rasa takut. Rasa takut selalu punya kebiasaan yang sama: mempersempit ruang bagi orang lain.<\/p>\n<p>Paranoia ialah ironi terbesar dalam dunia modern. Semakin suatu bangsa merasa kuat, kadang justru semakin banyak hal yang ditakuti mereka. Semakin tinggi pagar dibangun, semakin dalam pula kecemasan bersembunyi di belakangnya. Padahal, sepak bola lahir dari naluri yang berlawanan. Sepak bola mengajarkan keterbukaan.<\/p>\n<p>Bola tidak pernah bertanya dari mana seseorang berasal sebelum ia menggelinding ke kakinya. Gol tidak pernah memeriksa kewarganegaraan sebelum ia disambut sorak-sorai. Stadion tidak dibangun untuk memisahkan manusia, tetapi untuk mempertemukan mereka. Karena itu, setiap Piala Dunia sesungguhnya ialah pelajaran sederhana tentang kemanusiaan.<\/p>\n<p>Di sana kita belajar bahwa orang yang berbeda bisa bersorak dalam ruang yang sama, bahwa persaingan tidak harus berubah menjadi permusuhan, bahwa identitas nasional bisa dirayakan tanpa harus membenci bangsa lain. Piala Dunia ialah festival perjumpaan dan perjumpaan selalu membutuhkan keberanian.<\/p>\n<p>Keberanian untuk membuka pintu. Keberanian untuk menerima orang asing. Keberanian untuk percaya bahwa tidak semua yang datang membawa ancaman. Mungkin itulah yang sedang diuji Piala Dunia 2026.<\/p>\n<p>Bukan hanya kesiapan stadion-stadion megah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Bukan pula kesiapan format baru dengan 48 peserta. Yang sedang diuji ialah sesuatu yang lebih mendasar, yakni apakah dunia masih percaya pada makna perjumpaan.<\/p>\n<p>Tanpa itu, sepak bola kehilangan rohnya. Pertandingan tetap berlangsung. Lagu kebangsaan tetap berkumandang. Kamera televisi tetap menyorot tribune yang penuh warna. Namun, ada sesuatu yang agak hilang.<\/p>\n<p>Hari raya tetap berlangsung, tetapi tamu-tamu datang dengan rasa waswas. Namun, hari raya yang dipenuhi rasa takut bukan lagi perayaan. Ia hanya keramaian yang seperti kehilangan kegembiraan. Ia hanya pesta yang seolah lupa mengapa pesta itu diselenggarakan.<\/p>\n<p>Bukankah sejak awal sepak bola mengajarkan satu hal yang sederhana? Bahwa dunia memang berbeda-beda, tetapi bola yang sama masih bisa kita kejar bersama. Walau ada cacat, tetap saya ucapkan selamat. Selamat menikmati panggung Piala Dunia.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/piala-dunia-2026\/901227\/paranoia-piala-dunia\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI\/Seno) PIALA Dunia biasanya datang seperti Lebaran. Ia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia peristiwa kemanusiaan. Orang-orang yang selama empat tahun menunggu akhirnya menemukan alasan untuk berkumpul. Di warung kopi, di ruang keluarga, di sudut kota, bahkan di negeri-negeri yang tak pernah sekali pun lolos ke putaran final. Sepak bola, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":58402,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-58401","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58401","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58401"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58401\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58402"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58401"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58401"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58401"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}