{"id":58008,"date":"2026-06-16T04:48:55","date_gmt":"2026-06-16T04:48:55","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/16\/rekayasa-genetika-sukses-ubah-selada-merah-jadi-superfood-kaya-antioksidan\/"},"modified":"2026-06-16T04:48:55","modified_gmt":"2026-06-16T04:48:55","slug":"rekayasa-genetika-sukses-ubah-selada-merah-jadi-superfood-kaya-antioksidan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/16\/rekayasa-genetika-sukses-ubah-selada-merah-jadi-superfood-kaya-antioksidan\/","title":{"rendered":"Rekayasa Genetika Sukses Ubah Selada Merah Jadi Superfood Kaya Antioksidan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/16\/1781566900_98942dfcc219b737434a.jpg\" alt=\"Rekayasa Genetika Sukses Ubah Selada Merah Jadi 'Superfood' Kaya Antioksidan\"\/><figcaption>Selada hasil rekayasa genom (kanan) di mana gen-gen yang terlibat dalam biosintesis flavonoid pada varietas selada daun merah asli (kiri) dimodifikasi, menghasilkan daun hijau dan komposisi flavonoid yang berubah.(Universitas Tsukuba)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Para peneliti berhasil memanfaatkan teknologi penyuntingan genom (genome editing) untuk menghentikan produksi pigmen merah pada selada. Alih-alih merusak tanaman, rekayasa ini justru memicu penumpukan berbagai senyawa tanaman lain yang bermanfaat bagi kesehatan. Menariknya, selada tersebut tetap tumbuh secara normal. Penemuan ini membuka jalan baru dalam menciptakan tanaman pangan dengan profil nutrisi yang dapat disesuaikan.<\/p>\n<p>Warna merah pada selada daun merah berasal dari antosianin, sebuah kelompok pigmen polifenol yang populer karena sifat antioksidannya. Tanaman memproduksi antosianin melalui serangkaian reaksi berbasis enzim yang dimulai dari asam amino phenylalanine. Di tengah proses tersebut, jalur biokimia ini menghasilkan berbagai jenis flavonoid, kategori senyawa tanaman yang memiliki banyak fungsi, sebelum akhirnya sebagian diubah menjadi antosianin.<\/p>\n<h2>Mengalihkan Jalur Nutrisi Tanaman<\/h2>\n<p>Dalam studi terbaru ini, para peneliti menggunakan penyuntingan genom untuk mematikan gen yang bertanggung jawab memproduksi dihydroflavonol 4-reductase. Ini merupakan enzim yang terlibat dalam tahapan kritis tepat sebelum antosianin terbentuk pada <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/selada-merah\" title=\"Selada Merah\">selada merah<\/a>. Begitu gen ini dinonaktifkan, tanaman tersebut tidak lagi memproduksi pigmen merah khasnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/889647\/ilmuwan-temukan-alasan-ikan-herring-bisa-bertahan-di-laut-baltik\" target=\"_blank\" title=\"Ilmuwan Temukan Alasan Ikan Herring Bisa Bertahan di Laut Baltik\">Ilmuwan Temukan Alasan Ikan Herring Bisa Bertahan di Laut Baltik<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Analisis lebih lanjut terhadap selada tersebut menunjukkan perubahan penting lainnya. Kadar beberapa jenis flavonoid lainnya justru meningkat, termasuk quercetin. Temuan ini menunjukkan bahwa pemblokiran produksi antosianin berhasil mengalihkan aktivitas biokimia tanaman, sehingga memicu penumpukan senyawa-senyawa lain di dalam jalur biosintesis flavonoid.<\/p>\n<h2>Pertumbuhan Tetap Normal dan Potensi Masa Depan<\/h2>\n<p>Meskipun terjadi perubahan signifikan pada komposisi pigmen dan flavonoid, selada yang dimodifikasi ini tidak menunjukkan penurunan pertumbuhan yang berarti. Hasil ini mengindikasikan bahwa keseimbangan flavonoid dalam selada dapat diubah dengan mendorong akumulasi senyawa prekursor (pemicu) sebagai pengganti antosianin, sambil tetap mempertahankan pertumbuhan dan produktivitas normal tanaman.<\/p>\n<p>Walaupun peneliti belum membandingkan tanaman modifikasi ini secara langsung dengan varietas selada hijau konvensional, selada merah memang sudah dikenal memiliki tingkat produksi polifenol yang tinggi. Oleh karena itu, strategi ini menawarkan cara yang menjanjikan untuk mengembangkan varietas selada dengan komponen fungsional yang dapat disesuaikan kebutuhan.<\/p>\n<p>Para peneliti juga mencatat bahwa produksi flavonoid sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan, termasuk intensitas cahaya dan suhu. Karena pabrik tanaman (plant factory) memungkinkan petani mengendalikan faktor-faktor tersebut secara cermat, temuan ini dapat mendukung pengembangan varietas selada khusus yang dioptimalkan untuk sistem budidaya dalam ruangan (indoor). (Science Daily\/Z-2)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/900887\/rekayasa-genetika-sukses-ubah-selada-merah-jadi-superfood-kaya-antioksidan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selada hasil rekayasa genom (kanan) di mana gen-gen yang terlibat dalam biosintesis flavonoid pada varietas selada daun merah asli (kiri) dimodifikasi, menghasilkan daun hijau dan komposisi flavonoid yang berubah.(Universitas Tsukuba) Para peneliti berhasil memanfaatkan teknologi penyuntingan genom (genome editing) untuk menghentikan produksi pigmen merah pada selada. Alih-alih merusak tanaman, rekayasa ini justru memicu penumpukan berbagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":58009,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-58008","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58008","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58008"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58008\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58009"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58008"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58008"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58008"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}