{"id":57751,"date":"2026-06-15T16:35:41","date_gmt":"2026-06-15T16:35:41","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/15\/tips-aman-lari-maraton-dokter-rsui-imbau-jelaskan-pentingnya-memantau-heart-rate\/"},"modified":"2026-06-15T16:35:41","modified_gmt":"2026-06-15T16:35:41","slug":"tips-aman-lari-maraton-dokter-rsui-imbau-jelaskan-pentingnya-memantau-heart-rate","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/15\/tips-aman-lari-maraton-dokter-rsui-imbau-jelaskan-pentingnya-memantau-heart-rate\/","title":{"rendered":"Tips Aman Lari Maraton Dokter RSUI Imbau Jelaskan Pentingnya Memantau Heart Rate"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/15\/1781530890_aed6683475ea0b99aa99.jpg\" alt=\"Tips Aman Lari Maraton: Dokter RSUI Imbau Jelaskan Pentingnya Memantau Heart Rate\"\/><figcaption>Ilustrasi, memantau heart rate saat olahraga lari.(Dok. Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>OLAHRAGA\u00a0lari <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/maraton\" title=\"Maraton\">maraton<\/a> kian digemari masyarakat, namun risiko kesehatan di balik aktivitas fisik intens ini tidak boleh diabaikan. Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati,\u00a0 mengingatkan para pelari untuk selalu memantau <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/detak-jantung\" title=\"detak jantung\">detak jantung<\/a> (<em><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/heart-rate\" title=\"Heart Rate\">heart rate<\/a><\/em>) guna menghindari risiko fatal.<\/p>\n<p>Dalam wawancara di Depok, Jawa Barat, Senin (15\/6), dr. Anindia menekankan bahwa kondisi tubuh harus berada dalam keadaan prima sebelum memulai perlombaan. Memastikan detak jantung dalam kondisi normal sebelum <em>start<\/em> adalah langkah awal yang krusial.<\/p>\n<h2>Pentingnya Memantau <i>Heart Rate<\/i> Saat Berlari<\/h2>\n<p>Selama perlombaan berlangsung, peningkatan denyut jantung adalah hal yang wajar. Namun, pelari harus waspada jika angka tersebut meningkat terlalu tinggi atau di luar batas kemampuan tubuh.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/olahraga\/813506\/lari-kategori-5k-dan-10k-jadi-favorit-warga-jakarta\" target=\"_blank\" title=\"Lari Kategori 5K dan 10K Jadi Favorit Warga Jakarta\">Lari Kategori 5K dan 10K Jadi Favorit Warga Jakarta<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cLebih baik kita hentikan dulu larinya, dengan berjalan menurunkan detak jantung kemudian dilanjutkan dengan berlari,\u201d ujar dr. Anindia.<\/p>\n<p>Ia juga menegaskan beberapa tanda bahaya yang mengharuskan pelari segera berhenti total, di antaranya:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Sesak napas yang tidak biasa.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Nyeri dada.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Kram otot yang hebat.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h2>Persiapan 12-16 Minggu dan Kontrol Komorbid<\/h2>\n<p>Persiapan maraton tidak bisa dilakukan secara instan. Menurut dr. Anindia, latihan fisik yang ideal sebaiknya dimulai 12 hingga 16 minggu sebelum hari pelaksanaan, disesuaikan dengan jarak tempuh dan tingkat kebugaran masing-masing individu.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/900792\/kiat-memilih-sepatu-maraton-jangan-pakai-sepatu-baru\" target=\"_blank\" title=\"Kiat Memilih Sepatu Maraton: Jangan Pakai Sepatu Baru!\">Kiat Memilih Sepatu Maraton: Jangan Pakai Sepatu Baru!<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Selain fisik, pemahaman terhadap kondisi kesehatan internal juga sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung.<\/p>\n<p>Penderita penyakit kronis harus memastikan kondisi mereka terkontrol dengan baik. dr. Anindia menjelaskan bahwa beberapa jenis obat-obatan untuk diabetes atau hipertensi dapat memengaruhi kerja gula darah dan detak jantung saat melakukan aktivitas berat seperti maraton. Penyesuaian dosis mungkin diperlukan di bawah pengawasan dokter.<\/p>\n<h2>Hidrasi dan Pemulihan<\/h2>\n<p>Aspek lain yang tidak kalah penting adalah menjaga hidrasi tubuh. Pelari disarankan untuk mengonsumsi cairan secara teratur, setidaknya setiap menempuh jarak 2,5 kilometer, tanpa menunggu rasa haus muncul.<\/p>\n<p>Setelah mencapai garis finis, dr. Anindia mengingatkan pelari untuk tidak langsung beristirahat total, melainkan melakukan peregangan otot (<em>stretching<\/em>) yang cukup untuk mencegah terjadinya kram otot pasca-lomba. (Ant\/H-3)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/900795\/tips-aman-lari-maraton-dokter-rsui-imbau-jelaskan-pentingnya-memantau-heart-rate\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi, memantau heart rate saat olahraga lari.(Dok. Magnific) OLAHRAGA\u00a0lari maraton kian digemari masyarakat, namun risiko kesehatan di balik aktivitas fisik intens ini tidak boleh diabaikan. Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati,\u00a0 mengingatkan para pelari untuk selalu memantau detak jantung (heart rate) guna menghindari risiko fatal. Dalam wawancara di Depok, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":57752,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-57751","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57751","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57751"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57751\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57752"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57751"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57751"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57751"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}