{"id":57442,"date":"2026-06-15T03:35:45","date_gmt":"2026-06-15T03:35:45","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/15\/petaka-sampah-plastik-laut-pendapatan-nelayan-terkuras-nyawa-jadi-taruhan\/"},"modified":"2026-06-15T03:35:45","modified_gmt":"2026-06-15T03:35:45","slug":"petaka-sampah-plastik-laut-pendapatan-nelayan-terkuras-nyawa-jadi-taruhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/15\/petaka-sampah-plastik-laut-pendapatan-nelayan-terkuras-nyawa-jadi-taruhan\/","title":{"rendered":"Petaka Sampah Plastik Laut Pendapatan Nelayan Terkuras, Nyawa Jadi Taruhan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/15\/1781484043_edca35861fddb30463cf.jpg\" alt=\"Petaka Sampah Plastik Laut: Pendapatan Nelayan Terkuras, Nyawa Jadi Taruhan\"\/><figcaption>Ilustrasi(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>SELAMA ini, perkiraan kerugian akibat polusi plastik di laut bagi komunitas <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nelayan\" title=\"Nelayan\">nelayan<\/a> selalu dihitung dari kerusakan fisik: jaring yang robek, baling-baling kapal yang rusak, atau waktu yang terbuang untuk memilah sampah dari hasil tangkapan. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan adanya kerugian tersembunyi yang jauh lebih besar, yaitu hilangnya waktu produktif untuk melaut.<\/p>\n<p>Penelitian yang dipimpin ilmuwan kelautan Duc Nguyen dari Heriot-Watt University melakukan pendekatan langsung dengan mewawancarai hampir 200 nelayan pantai di tiga wilayah muara sungai di Vietnam. Hasilnya mengejutkan, akumulasi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sampah-plastik\" title=\"sampah plastik\">sampah plastik<\/a> di laut merugikan satu kapal hingga sekitar US$3.400 (sekitar Rp55 juta) per tahun.<\/p>\n<p>Bagi para nelayan kecil yang hidup dengan margin keuntungan tipis, angka tersebut sangat memukul perekonomian mereka. Kerugian ini menelan sekitar 12 persen dari pendapatan tahunan kapal, atau hampir seperempat (25%) dari total pendapatan bersih yang bisa dibawa pulang oleh pemilik kapal.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/597586\/prabowo-dinilai-punya-kepedulian-terhadap-pelestarian-lingkungan\" title=\"Prabowo Dinilai Punya Kepedulian Terhadap Pelestarian Lingkungan\" target=\"_blank\">Prabowo Dinilai Punya Kepedulian Terhadap Pelestarian Lingkungan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Beban kerugian ini pun tidak tersebar merata. Di wilayah utara (Sungai Merah), sampah plastik memotong sekitar 10 persen pendapatan kapal. Sementara di Delta Mekong yang terletak di selatan, kerugiannya melonjak hingga hampir 18%, hampir dua kali lipat. Wilayah Delta Mekong menjadi salah satu muara sungai paling tercemar plastik di dunia, dengan tingkat kebocoran sampah tiga kali lebih tinggi dibandingkan wilayah utara. Nelayan di selatan juga menghadapi kondisi yang lebih sulit dengan kapal tua, mesin kecil, dan hasil tangkapan yang lebih sedikit.<\/p>\n<p>&#8220;Saya harus menerimanya, apa lagi yang bisa saya lakukan?&#8221; ujar salah satu nelayan di wilayah tersebut, menggambarkan kepasrahan mereka.<\/p>\n<p>Mengapa biayanya bisa membengkak sedemikian rupa? Lebih dari separuh kerugian finansial ternyata disebabkan oleh kapal yang terpaksa berhenti beroperasi (idle). Jam-jam yang seharusnya digunakan untuk menangkap ikan habis hanya untuk membersihkan sampah plastik yang tersangkut di jaring. Jika dahulu nelayan hanya membutuhkan 6 hingga 7 kali tebar jaring untuk memenuhi kuota harian, kini mereka harus melakukannya hingga 20 sampai 25 kali.<\/p>\n<p>Selain kerugian ekonomi, sampah laut berupa tali dan jaring yang hanyut juga membawa risiko keselamatan jiwa. Baling-baling kapal yang terlilit sampah memaksa nelayan menyelam untuk memotongnya. Hampir setengah dari nelayan yang diwawancarai mengaku harus menghadapi masalah ini beberapa kali dalam setahun. Beberapa insiden menyebabkan cedera tangan, kehilangan anggota tubuh, bahkan dalam diskusi kelompok terungkap adanya kasus nelayan yang tewas akibat mesin kapal tiba-tiba menyala saat mereka berupaya membebaskan baling-baling.<\/p>\n<p>Sebagai solusi praktis, para nelayan mengusulkan program pembalian sampah. Sebagian besar dari mereka bersedia membawa kembali sampah plastik ke darat daripada membuangnya lagi ke laut, asalkan ada insentif harga pembelian yang kecil, sekitar 7 sen per pon (setara harga ikan rucah di pasar). Program terpusat yang menyasar titik-titik polusi terparah dinilai dapat menjadi langkah awal yang murah dan efektif untuk memutus rantai polusi ini. (EArth\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/900555\/petaka-sampah-plastik-laut-pendapatan-nelayan-terkuras-nyawa-jadi-taruhan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Antara) SELAMA ini, perkiraan kerugian akibat polusi plastik di laut bagi komunitas nelayan selalu dihitung dari kerusakan fisik: jaring yang robek, baling-baling kapal yang rusak, atau waktu yang terbuang untuk memilah sampah dari hasil tangkapan. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan adanya kerugian tersembunyi yang jauh lebih besar, yaitu hilangnya waktu produktif untuk melaut. Penelitian yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":57443,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-57442","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57442","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57442"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57442\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57443"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57442"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57442"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57442"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}