{"id":56169,"date":"2026-06-12T07:48:44","date_gmt":"2026-06-12T07:48:44","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/12\/penyesuaian-harga-pertamax-konsekuensi-dinamika-pasar-energi-global\/"},"modified":"2026-06-12T07:48:44","modified_gmt":"2026-06-12T07:48:44","slug":"penyesuaian-harga-pertamax-konsekuensi-dinamika-pasar-energi-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/12\/penyesuaian-harga-pertamax-konsekuensi-dinamika-pasar-energi-global\/","title":{"rendered":"Penyesuaian Harga Pertamax Konsekuensi Dinamika Pasar Energi Global"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/12\/1781250374_d1882e4fefdbece6542c.jpg\" alt=\"Penyesuaian Harga Pertamax Konsekuensi Dinamika Pasar Energi Global\"\/><figcaption>Ilustrasi(MI\/AGUNG WIBOWO)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Polemik kenaikan harga BBM non-subsidi jenis <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pertamax\" title=\"pertamax\">Pertamax<\/a> memunculkan perdebatan tidak hanya dari sisi energi, tapi juga dampaknya terhadap perekonomian masyarakat.<\/p>\n<p>Penyesuaian harga Pertamax seharusnya dilihat secara proporsional karena tidak menyasar kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang menjadi penerima manfaat subsidi energi pemerintah.<\/p>\n<p>Menurut aktivis 98 dan pakar maritim Yulian Paonganan, kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter berbeda dengan kenaikan BBM subsidi yang berpotensi langsung menekan daya beli masyarakat kecil. Ia menegaskan Pertalite sebagai BBM yang banyak digunakan masyarakat berpenghasilan rendah tetap dipertahankan harganya oleh pemerintah.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/899575\/pertamax-naik-pengendara-rela-antre-isi-bbm-pertalite-subsidi\" title=\"Pertamax Naik, Pengendara Rela Antre Isi BBM Pertalite Subsidi\" target=\"_blank\">Pertamax Naik, Pengendara Rela Antre Isi BBM Pertalite Subsidi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cYang naik itu Pertamax, BBM non-subsidi. Yang dipakai rakyat kecil, Pertalite, tidak naik. Kalau mahasiswa demo karena Pertamax naik, lalu yang sedang dibela sebenarnya siapa?\u201d ujar Ongen, biasa Yulian Paonganan disapa, Jumat (12\/6\/2026).<\/p>\n<p>Dari perspektif ekonomi, Ongen menilai kebijakan pemerintah mempertahankan harga Pertalite, Biosolar, dan LPG subsidi 3 kilogram merupakan langkah untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga energi dunia.<\/p>\n<p>Dengan subsidi tetap diberikan pada komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat bawah, dampak langsung terhadap inflasi dan konsumsi rumah tangga dinilai dapat diminimalkan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/899182\/relawan-kenaikan-harga-pertamax-tidak-terelakkan\" title=\"Relawan: Kenaikan Harga Pertamax tidak Terelakkan\" target=\"_blank\">Relawan: Kenaikan Harga Pertamax tidak Terelakkan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menambahkan mekanisme harga Pertamax berbeda karena merupakan BBM non-subsidi yang mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah. Karena itu, penyesuaian harga dinilai sebagai konsekuensi dari dinamika pasar energi global.<\/p>\n<p>Ongen juga mengkritik rencana aksi mahasiswa yang memprotes kenaikan Pertamax. Menurutnya, gerakan mahasiswa semestinya lebih fokus pada isu-isu ekonomi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat luas, seperti pengangguran, akses pendidikan, kesejahteraan petani dan nelayan, serta perlindungan kelompok rentan.<\/p>\n<p>\u201cDulu kami mahasiswa turun ke jalan membela rakyat. Sekarang kok ada mahasiswa yang ingin demo membela BBM yang mayoritas digunakan kalangan mampu? Ini yang perlu dijelaskan kepada publik,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia menilai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan sekadar kenaikan harga BBM non-subsidi. Karena itu, energi gerakan mahasiswa seharusnya diarahkan pada persoalan yang berdampak ekonomi lebih luas terhadap masyarakat bawah.<\/p>\n<p>Pemerintah sendiri menegaskan kenaikan harga hanya berlaku untuk BBM non-subsidi, sementara komoditas energi yang menjadi kebutuhan utama masyarakat berpenghasilan rendah tetap dipertahankan. Kebijakan itu disebut sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi domestik sekaligus melindungi daya beli masyarakat.<\/p>\n<p>Bagi Ongen, mahasiswa sebagai kelompok intelektual berperan penting dalam mengawal kebijakan publik. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap gerakan harus memiliki orientasi jelas terhadap kepentingan mayoritas masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cKalau yang diperjuangkan rakyat kecil, tentu semuanya akan mendukung. Tapi kalau yang diperjuangkan adalah BBM non-subsidi yang pengguna utamanya kalangan menengah ke atas, publik berhak bertanya, mahasiswa sedang membela siapa?\u201d tegasnya. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/899800\/penyesuaian-harga-pertamax-konsekuensi-dinamika-pasar-energi-global\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(MI\/AGUNG WIBOWO) Polemik kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax memunculkan perdebatan tidak hanya dari sisi energi, tapi juga dampaknya terhadap perekonomian masyarakat. Penyesuaian harga Pertamax seharusnya dilihat secara proporsional karena tidak menyasar kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang menjadi penerima manfaat subsidi energi pemerintah. Menurut aktivis 98 dan pakar maritim Yulian Paonganan, kenaikan harga Pertamax menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":56170,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-56169","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56169","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56169"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56169\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56170"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56169"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56169"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56169"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}