{"id":54064,"date":"2026-06-08T08:26:27","date_gmt":"2026-06-08T08:26:27","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/08\/cadangan-devisa-indonesia-mei-turun-masihkah-aman\/"},"modified":"2026-06-08T08:26:27","modified_gmt":"2026-06-08T08:26:27","slug":"cadangan-devisa-indonesia-mei-turun-masihkah-aman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/08\/cadangan-devisa-indonesia-mei-turun-masihkah-aman\/","title":{"rendered":"Cadangan Devisa Indonesia Mei Turun, Masihkah Aman"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/08\/1780907011_35d79dbc47abea78b2cf.jpg\" alt=\"Cadangan Devisa Indonesia Mei Turun, Masihkah Aman?\"\/><figcaption>Ilustrasi.(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>KEPALA Ekonom Bank Permata, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/josua-pardede\" title=\"Josua Pardede\">Josua Pardede<\/a>, menilai penurunan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/cadangan-devisa-indonesia\" title=\"Cadangan Devisa Indonesia\">cadangan devisa Indonesia<\/a> sejak awal 2026 perlu mendapat perhatian serius. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut belum dapat diartikan sebagai sinyal melemahnya ketahanan eksternal nasional secara fundamental.<\/p>\n<p>Berdasarkan data terbaru <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bank-indonesia\" title=\"Bank Indonesia\">Bank Indonesia<\/a>, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar US$144,9 miliar atau setara dengan Rp2.631 triliun (asumsi kurs Rp18.158 per dolar AS). Angka ini mengalami penyusutan sebesar US$1,3 miliar dibandingkan posisi akhir April 2026 yang mencapai US$146,2 miliar.<\/p>\n<p>Menurut Josua, posisi cadangan devisa saat ini masih berada pada level yang relatif kuat. &#8220;Posisi US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026 masih mampu membiayai lebih dari lima bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional,&#8221; ujarnya kepada <em>Media Indonesia<\/em>, Senin (8\/6).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/898067\/cadangan-devisa-ri-anjlok-ke-rp2631-triliun-usai-bayar-utang-luar-negeri\" title=\"Cadangan Devisa RI Anjlok ke Rp2.631 Triliun usai Bayar Utang Luar Negeri\" target=\"_blank\">Cadangan Devisa RI Anjlok ke Rp2.631 Triliun usai Bayar Utang Luar Negeri<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Tiga Lapis Kewaspadaan<\/h2>\n<p>Josua menjelaskan bahwa penurunan cadangan devisa harus dicermati dari penyebab dan kecepatannya. Ia membagi tiga lapis kewaspadaan yang perlu diperhatikan oleh pasar dan otoritas moneter:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Lapis Pertama:<\/strong> Jika cadangan devisa turun di bawah lima bulan impor, ruang pertahanan nilai tukar rupiah mulai menyempit.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Lapis Kedua:<\/strong> Jika mendekati empat bulan impor disertai pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil SBN, tekanan eksternal membutuhkan respons kebijakan yang lebih kuat.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Lapis Ketiga:<\/strong> Jika mendekati tiga bulan impor, kondisi sudah memasuki zona bahaya karena menyentuh batas minimum internasional.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Saat ini, Indonesia berada di level setara 5,5 bulan impor, sehingga dinilai belum masuk zona berbahaya. Namun, Josua mengingatkan agar tren penurunan ini tidak berlangsung terlalu lama karena dapat memengaruhi persepsi risiko investor asing.<\/p>\n<p><strong>Analisis Risiko:<\/strong> Penurunan yang disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri terjadwal dianggap risiko terkendali. Sebaliknya, jika dipicu oleh <em>capital outflow<\/em> masif dan defisit transaksi berjalan yang melebar, bantalan eksternal dianggap mulai terkikis.<\/p>\n<h2>Menjaga Kepercayaan Investor<\/h2>\n<p>Lebih lanjut, Josua menekankan pentingnya efektivitas penggunaan cadangan devisa dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Investor tidak hanya melihat nominal, tetapi juga bagaimana Bank Indonesia (BI) meredam volatilitas tanpa harus menghabiskan cadangan secara kaku untuk mempertahankan level kurs tertentu.<\/p>\n<p>&#8220;Investor akan lebih tenang jika melihat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten. Pemerintah perlu menjaga disiplin APBN dan memperkuat pasokan devisa dari sektor ekspor,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, Josua menegaskan bahwa pesan utama dari data Mei 2026 adalah cadangan devisa Indonesia masih kuat, namun tren penurunannya merupakan peringatan dini bagi pengambil kebijakan untuk tetap waspada terhadap dinamika pasar global. (I-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/898123\/cadangan-devisa-indonesia-mei-turun-masihkah-aman\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(Magnific) KEPALA Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai penurunan cadangan devisa Indonesia sejak awal 2026 perlu mendapat perhatian serius. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut belum dapat diartikan sebagai sinyal melemahnya ketahanan eksternal nasional secara fundamental. Berdasarkan data terbaru Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar US$144,9 miliar atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":54065,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-54064","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54064","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54064"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54064\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54065"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}