{"id":54021,"date":"2026-06-08T06:31:35","date_gmt":"2026-06-08T06:31:35","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/08\/cadangan-devisa-anjlok-investasi-di-indonesia-dianggap-makin-berisiko\/"},"modified":"2026-06-08T06:31:35","modified_gmt":"2026-06-08T06:31:35","slug":"cadangan-devisa-anjlok-investasi-di-indonesia-dianggap-makin-berisiko","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/08\/cadangan-devisa-anjlok-investasi-di-indonesia-dianggap-makin-berisiko\/","title":{"rendered":"Cadangan Devisa Anjlok, Investasi di Indonesia Dianggap makin Berisiko"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/08\/1780900032_48649863204d295e99a6.jpg\" alt=\"Cadangan Devisa Anjlok, Investasi di Indonesia Dianggap makin Berisiko\"\/><figcaption>ilustrasi(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Penurunan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/cadangan-devisa\" title=\"cadangan devisa\">cadangan devisa<\/a> Indonesia sejak awal 2026 perlu diwaspadai. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, pasar tidak hanya memperhatikan besarnya cadangan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/devisa\" title=\"devisa\">devisa<\/a>, tetapi tren penurunannya yang terjadi di tengah pelemahan rupiah dan koreksi pasar keuangan domestik. Menurutnya, tren tersebut dapat meningkatkan persepsi risiko <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/investor\" title=\"investor\">investor<\/a> terhadap Indonesia apabila berlanjut tanpa diimbangi perbaikan fundamental ekonomi.<\/p>\n<p>&#8220;Tren ini perlu diwaspadai. Cadangan devisa dapat terlihat cukup besar di atas kertas, tetapi mulai mencemaskan jika terus terkuras untuk menahan kurs tanpa diikuti perbaikan ekspor dan fundamental lainnya&#8221; kata Syafruddin kepada Media Indonesia, Senin (8\/6).<\/p>\n<p>Syafruddin menjelaskan standar umum yang digunakan untuk mengukur kecukupan cadangan devisa adalah kemampuan membiayai impor selama minimal tiga bulan. Hingga saat ini, posisi cadangan devisa Indonesia masih tergolong aman karena setara dengan sekitar lima hingga enam bulan impor.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/789226\/cadangan-devisa-ri-naik-tipis-jadi-rp2477-triliun\" title=\"Cadangan Devisa RI Naik Tipis Jadi Rp2.477 Triliun\" target=\"_blank\">Cadangan Devisa RI Naik Tipis Jadi Rp2.477 Triliun<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menambahkan, ketahanan cadangan devisa juga sangat bergantung pada masuknya devisa hasil ekspor, repatriasi dana dari luar negeri, serta arus modal portofolio yang stabil.\u00a0<\/p>\n<p>&#8216;Karena itu, batas aman cadangan devisa tidak boleh dibaca secara mekanis hanya berdasarkan jumlah bulan impor,&#8221; ucapnya.\u00a0<\/p>\n<p>Menurut Syafruddin, kondisi ini akan menjadi lebih rawan apabila cadangan devisa turun mendekati level empat bulan impor, sementara rupiah terus melemah dan investor asing terus menarik dana dari pasar saham maupun obligasi domestik.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/898067\/cadangan-devisa-ri-anjlok-ke-rp2631-triliun-usai-bayar-utang-luar-negeri\" title=\"Cadangan Devisa RI Anjlok ke Rp2.631 Triliun usai Bayar Utang Luar Negeri\" target=\"_blank\">Cadangan Devisa RI Anjlok ke Rp2.631 Triliun usai Bayar Utang Luar Negeri<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Selama empat bulan berturut-turut cadangan devisa Indonesia menyusut. Berdasarkan data <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bank-indonesia\" title=\"Bank Indonesia\">Bank Indonesia<\/a>, posisi cadangan devisa turun dari US$154,6 miliar pada Januari 2026 menjadi US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026. Dengan asumsi kurs Rp18.158 per dolar AS, nilainya menyusut dari sekitar Rp2.806,23 triliun menjadi Rp2.631,09 triliun.<\/p>\n<p>Secara kumulatif, cadangan devisa berkurang sebesar US$9,7 miliar atau setara sekitar Rp176,13 triliun sepanjang Januari hingga Mei 2026.\u00a0<\/p>\n<p>Syafruddin menilai tren tersebut juga berpotensi memengaruhi kepercayaan investor asing. Menurutnya, investor global menilai ketahanan ekonomi Indonesia berdasarkan kombinasi sejumlah indikator, mulai dari nilai tukar rupiah, pergerakan pasar saham, tingkat imbal hasil, inflasi, cadangan devisa, hingga kredibilitas kebijakan pemerintah.<\/p>\n<p>Pelemahan rupiah ke kisaran Rp18.155 per dolar AS dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 37% menunjukkan investor mulai meningkatkan premi risiko terhadap aset Indonesia. Sementara itu, kenaikan BI Rate mencerminkan respons moneter yang tegas, sedangkan disiplin fiskal pemerintah turut memperkuat persepsi positif terhadap pengelolaan APBN.<\/p>\n<p>&#8220;Kondisi ini jelas memengaruhi kepercayaan investor asing,&#8221; tekannya.<\/p>\n<p>Meski demikian, investor masih membutuhkan bukti yang lebih konkret, antara lain berupa stabilisasi nilai tukar, arus modal masuk yang berkelanjutan, pembiayaan fiskal yang kredibel, kualitas belanja negara yang baik, serta prospek laba emiten yang tetap kuat.<\/p>\n<p>Menurutnya, jika rupiah terus melemah, investor asing akan menghadapi risiko kerugian kurs meskipun imbal hasil aset berdenominasi rupiah meningkat.<\/p>\n<p>&#8220;Jika rupiah terus melemah, investor asing menghadapi risiko kerugian kurs meskipun imbal hasil rupiah meningkat,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Selain itu, apabila IHSG terus mengalami penurunan, investor akan semakin berhati-hati dalam menilai prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja laba korporasi. Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu memperkuat komunikasi kebijakan, menjaga konsistensi langkah yang ditempuh, serta menunjukkan bahwa stabilitas makroekonomi tidak hanya tercermin dalam data statistik, tetapi juga terlihat dari respons dan kepercayaan pasar.<\/p>\n<p>Syafruddin juga menyoroti bahwa pelemahan rupiah dan penurunan IHSG terjadi ketika sejumlah indikator fundamental masih terlihat cukup kuat. Rupiah tercatat melemah dari sekitar Rp16.670 per dolar AS pada Desember 2025 menjadi Rp18.155 per dolar AS pada Juni 2026, sementara IHSG terkoreksi sekitar 37 persen dari posisi puncaknya.<\/p>\n<p>Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) hanya naik sekitar 1,74%, BI Rate telah meningkat menjadi 5,25% inflasi tetap rendah, dan cadangan devisa masih berada di kisaran US$146,2 miliar.<\/p>\n<p>Menurutnya, kombinasi tersebut menunjukkan tekanan pasar tidak hanya berasal dari penguatan dolar AS secara global, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor domestik seperti kebutuhan valuta asing, arus modal, dan ekspektasi investor terhadap prospek ekonomi nasional.<\/p>\n<p>&#8220;Ketahanan eksternal tidak cukup diukur dari besar cadangan devisa,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjadikan perkembangan ini sebagai sinyal dini bahwa pasar sedang menguji kredibilitas bauran kebijakan yang diterapkan. Jika rupiah terus melemah dan IHSG terus terkoreksi, tekanan tersebut dapat merembet ke kenaikan biaya impor, beban utang valas, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), hingga persepsi risiko Indonesia di mata investor global. (E-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/898105\/cadangan-devisa-anjlok-investasi-di-indonesia-dianggap-makin-berisiko\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi(Antara) Penurunan cadangan devisa Indonesia sejak awal 2026 perlu diwaspadai. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, pasar tidak hanya memperhatikan besarnya cadangan devisa, tetapi tren penurunannya yang terjadi di tengah pelemahan rupiah dan koreksi pasar keuangan domestik. Menurutnya, tren tersebut dapat meningkatkan persepsi risiko investor terhadap Indonesia apabila berlanjut tanpa diimbangi perbaikan fundamental ekonomi. &#8220;Tren [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":54022,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-54021","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54021","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54021"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54021\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54022"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54021"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54021"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54021"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}