{"id":54001,"date":"2026-06-08T05:37:53","date_gmt":"2026-06-08T05:37:53","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/08\/rotasi-bumi-melambat-belum-pernah-terjadi-dalam-36-juta-tahun\/"},"modified":"2026-06-08T05:37:53","modified_gmt":"2026-06-08T05:37:53","slug":"rotasi-bumi-melambat-belum-pernah-terjadi-dalam-36-juta-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/08\/rotasi-bumi-melambat-belum-pernah-terjadi-dalam-36-juta-tahun\/","title":{"rendered":"Rotasi Bumi Melambat, Belum Pernah Terjadi dalam 3,6 Juta Tahun"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/08\/1780896931_554dcd57b1fb763e64e5.jpg\" alt=\"Rotasi Bumi Melambat, Belum Pernah Terjadi dalam 3,6 Juta Tahun\"\/><figcaption>Ilustrasi.(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>SEBUAH penelitian terbaru mengungkap bahwa <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/perubahan-iklim\" title=\"Perubahan Iklim\">perubahan iklim<\/a> yang dipicu aktivitas manusia kini memengaruhi kecepatan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/rotasi-bumi\" title=\"rotasi bumi\">rotasi Bumi<\/a> dan membuat panjang hari bertambah secara perlahan.<\/p>\n<p>Meski perubahannya hanya terjadi dalam hitungan sepersekian milidetik, para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi dalam setidaknya 3,6 juta tahun terakhir.<\/p>\n<p>Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari University of Vienna dan ETH Zurich menunjukkan bahwa pencairan lapisan es di kutub serta gletser akibat pemanasan global telah mengubah distribusi massa Bumi. Air yang sebelumnya tersimpan dalam bentuk es di wilayah kutub mengalir ke lautan dan menyebar ke berbagai wilayah, terutama mendekati khatulistiwa.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/897840\/perubahan-iklim-picu-ular-masuk-pemukiman-pakar-ipb-university-ingatkan-mitigasi\" title=\"Perubahan Iklim Picu Ular Masuk Pemukiman, Pakar IPB University Ingatkan Mitigasi\" target=\"_blank\">Perubahan Iklim Picu Ular Masuk Pemukiman, Pakar IPB University Ingatkan Mitigasi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Perubahan distribusi massa tersebut menyebabkan rotasi Bumi melambat. Para peneliti mengibaratkannya seperti seorang atlet seluncur indah yang merentangkan kedua lengannya saat berputar. Ketika massa tubuh menyebar lebih jauh dari pusat putaran, kecepatan rotasi akan berkurang.<\/p>\n<p>*Panjang Hari Bertambah*<\/p>\n<p>Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan merasakan perubahan ini secara langsung. Namun secara ilmiah, panjang satu hari di Bumi kini bertambah sekitar 1,33 milidetik setiap abad akibat perubahan iklim.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/897838\/amoeba-air-bisa-jadi-kuda-troya-bakteri-mematikan\" title=\"Amoeba Air Bisa Jadi 'Kuda Troya' Bakteri Mematikan\" target=\"_blank\">Amoeba Air Bisa Jadi &#8216;Kuda Troya&#8217; Bakteri Mematikan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Angka tersebut mungkin terdengar sangat kecil, tetapi para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan sekecil itu membutuhkan perpindahan massa dalam jumlah yang luar biasa besar.<\/p>\n<p>Salah satu penulis penelitian, Prof. Benedikt Soja dari ETH Zurich, menjelaskan bahwa perubahan panjang hari tersebut setara dengan perpindahan sekitar 1.000 gigaton massa dari wilayah kutub ke lautan.<\/p>\n<p>\u201cPerubahan panjang hari seperti ini membutuhkan redistribusi massa yang luar biasa besar, sekitar 1.000 gigaton yang berpindah dari kutub ke lautan. Untuk membayangkannya, bayangkan sebuah kubus es padat setinggi 10 kilometer berdiri di atas Kota New York. Tingginya bahkan melampaui Gunung Everest,\u201d ujar Soja dikutip dari <em>BBC Science Focus.<\/em><\/p>\n<p>Penulis utama penelitian, Dr. Mostafa Kiani Shahvandi dari University of Vienna, menambahkan bahwa energi yang terlibat dalam perubahan rotasi tersebut sangat besar.<\/p>\n<p>\u201cPerubahan energi rotasi Bumi setara dengan gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,0,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Namun, ia menegaskan bahwa perbandingan tersebut bukan menggambarkan tingkat kerusakan, melainkan besarnya energi yang bekerja dalam sistem Bumi.<\/p>\n<h3>Rekor dalam 3,6 Juta Tahun<\/h3>\n<p>Untuk mengetahui apakah fenomena serupa pernah terjadi sebelumnya, para peneliti menelusuri catatan geologi hingga 3,6 juta tahun ke masa lalu. Mereka menggunakan fosil organisme laut bersel tunggal yang hidup di dasar laut, dikenal sebagai bentik foraminifera. Kandungan kimia dalam cangkang organisme tersebut menyimpan informasi mengenai perubahan permukaan laut pada masa lampau.<\/p>\n<p>Dari data tersebut, para ilmuwan dapat memperkirakan perubahan rotasi Bumi yang terjadi selama jutaan tahun. Mereka juga memanfaatkan algoritma machine learning yang dirancang khusus untuk mengatasi ketidakpastian data geologi purba.<\/p>\n<p>Hasil analisis menunjukkan bahwa laju perlambatan rotasi yang terjadi saat ini merupakan yang paling menonjol dalam keseluruhan catatan yang berhasil ditelusuri. Memang ada satu periode sekitar dua juta tahun lalu ketika laju perubahan panjang hari hampir mendekati kondisi saat ini. Namun, peristiwa tersebut terjadi akibat kombinasi faktor alam yang sangat langka, termasuk lonjakan alami karbon dioksida dan mencairnya lapisan es dalam skala besar.<\/p>\n<p>Menurut para peneliti, peristiwa serupa tidak pernah terulang secara alami sejak saat itu. Kini, aktivitas manusia justru menghasilkan dampak yang sebanding hanya dalam kurun waktu sedikit lebih dari satu abad.<\/p>\n<h3>Melampaui Pengaruh Bulan<\/h3>\n<p>Selama ini, perubahan rotasi Bumi banyak dipengaruhi oleh tarikan gravitasi Bulan. Selain itu, proses yang terjadi di dalam inti Bumi dan perubahan atmosfer juga turut berperan.<\/p>\n<p>Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim kini telah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi panjang hari. Bahkan, apabila emisi gas rumah kaca terus meningkat dan penggunaan bahan bakar fosil tidak berkurang, pengaruh perubahan iklim diperkirakan akan melampaui dampak gravitasi Bulan pada akhir abad ini.<\/p>\n<p>Meski konsekuensinya tidak akan mengubah kehidupan manusia secara drastis dalam waktu dekat, perubahan tersebut tetap penting bagi berbagai teknologi modern yang mengandalkan ketepatan waktu sangat tinggi.<\/p>\n<p>\u201cWalaupun satu milidetik tampak sangat kecil, efek ini sangat penting bagi sistem penentuan waktu yang sangat presisi, seperti navigasi GPS di Bumi maupun navigasi wahana antariksa di seluruh Tata Surya,\u201d kata Soja. (H-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/898093\/rotasi-bumi-melambat-belum-pernah-terjadi-dalam-36-juta-tahun\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(Magnific) SEBUAH penelitian terbaru mengungkap bahwa perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia kini memengaruhi kecepatan rotasi Bumi dan membuat panjang hari bertambah secara perlahan. Meski perubahannya hanya terjadi dalam hitungan sepersekian milidetik, para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi dalam setidaknya 3,6 juta tahun terakhir. Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":54002,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-54001","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54001","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54001"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54001\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54001"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54001"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54001"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}