{"id":53185,"date":"2026-06-06T07:46:40","date_gmt":"2026-06-06T07:46:40","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/06\/cara-baru-ilmuwan-ukur-medan-magnet-eksoplanet-lewat-kecepatan-angin\/"},"modified":"2026-06-06T07:46:40","modified_gmt":"2026-06-06T07:46:40","slug":"cara-baru-ilmuwan-ukur-medan-magnet-eksoplanet-lewat-kecepatan-angin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/06\/cara-baru-ilmuwan-ukur-medan-magnet-eksoplanet-lewat-kecepatan-angin\/","title":{"rendered":"Cara Baru Ilmuwan Ukur Medan Magnet Eksoplanet Lewat Kecepatan Angin"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/06\/1780731883_000370bd3ea8e14b8345.jpeg\" alt=\"Cara Baru Ilmuwan Ukur Medan Magnet Eksoplanet Lewat Kecepatan Angin\"\/><figcaption>Dengan menganalisis angin di eksoplanet gas raksasa ultra-panas, para astronom berhasil memperkirakan kekuatan medan magnetnya dan menemukan bahwa medan magnet tersebut tidak sekuat yang selama ini diprediksi.(Dok. ESO)<\/figcaption><\/figure>\n<p>SEBUAH terobosan besar dalam dunia <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/astronomi\" title=\"Astronomi\">astronomi<\/a> berhasil mengungkap misteri lama mengenai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/medan-magnet-eksoplanet\" title=\"Medan Magnet Eksoplanet\">medan magnet eksoplanet<\/a>. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal <em><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nature-astronomy\" title=\"Nature Astronomy\">Nature Astronomy<\/a><\/em> menunjukkan bahwa kekuatan medan magnet pada planet gas raksasa di luar Tata Surya ternyata tidak sekuat yang diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n<p>Selama puluhan tahun, para astronom berupaya mendeteksi sinyal radio dari <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/eksoplanet-panas\" title=\"eksoplanet panas\">eksoplanet panas<\/a> dengan asumsi bahwa planet-planet tersebut memiliki medan magnet raksasa, bahkan hingga ratusan kali lipat kekuatan Jupiter. Namun, upaya tersebut terus menemui jalan buntu hingga munculnya metode pengukuran baru yang memanfaatkan pola angin atmosfer.<\/p>\n<h2>Rem Magnetik di Atmosfer Panas<\/h2>\n<p>Tim peneliti awalnya tidak berfokus pada medan magnet, melainkan mempelajari pergerakan angin di atmosfer tujuh planet gas ultra-panas. Menggunakan <em>Very Large Telescope<\/em> milik ESO di Cili dan <em>Gemini North Telescope<\/em> di Hawaii, ilmuwan mengamati bagaimana unsur besi menyerap cahaya bintang untuk menghitung kecepatan angin.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/896358\/ukur-angin-super-cepat-astronom-temukan-bukti-medan-magnet-eksoplanet-untuk-pertama-kalinya\" title=\"Ukur Angin Super Cepat, Astronom Temukan Bukti Medan Magnet Eksoplanet untuk Pertama Kalinya\" target=\"_blank\">Ukur Angin Super Cepat, Astronom Temukan Bukti Medan Magnet Eksoplanet untuk Pertama Kalinya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Hasilnya mengejutkan. Pada planet dengan suhu ekstrem mencapai 1.650 derajat Celsius, kecepatan angin justru melambat saat suhu meningkat. Fenomena yang bertolak belakang dengan teori energi termal ini membawa ilmuwan pada kesimpulan bahwa medan magnet berperan sebagai &#8220;rem&#8221; yang memperlambat aliran gas bermuatan di atmosfer.<\/p>\n<h3>Menjawab Teka-Teki Sinyal Radio<\/h3>\n<p>Melalui efek perlambatan angin tersebut, peneliti berhasil mengestimasi kekuatan medan magnet eksoplanet. Temuan menunjukkan bahwa kekuatannya ternyata setara dengan planet gas di Tata Surya kita, seperti Jupiter dan Saturnus, bukan jauh lebih kuat seperti yang diprediksi model-model lama.<\/p>\n<p>Kenyataan ini menjelaskan mengapa sinyal radio dari eksoplanet panas sangat sulit dideteksi dari Bumi. &#8220;Keheningan&#8221; radio yang selama ini membingungkan para ahli bukanlah tanda ketiadaan medan magnet, melainkan bukti bahwa kekuatannya memang tidak cukup besar untuk menghasilkan sinyal yang dapat ditangkap oleh instrumen saat ini.<\/p>\n<p>Penemuan ini memberikan perspektif baru bagi para astronom dalam memahami karakteristik planet di luar sistem tata surya kita, sekaligus memvalidasi bahwa kondisi fisik di alam semesta mungkin lebih serupa dengan lingkungan lokal kita daripada yang dibayangkan sebelumnya.<\/p>\n<p><strong>Data Temuan:<\/strong><\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Kecepatan angin eksoplanet: 4.500 hingga 15.500 mil per jam.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Suhu permukaan: Melampaui 3.000 derajat Fahrenheit (1.650 derajat Celsius).<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Lokasi observasi: ESO (Cili) dan Gemini North (Hawaii). (Z-10)<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/897674\/cara-baru-ilmuwan-ukur-medan-magnet-eksoplanet-lewat-kecepatan-angin\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dengan menganalisis angin di eksoplanet gas raksasa ultra-panas, para astronom berhasil memperkirakan kekuatan medan magnetnya dan menemukan bahwa medan magnet tersebut tidak sekuat yang selama ini diprediksi.(Dok. ESO) SEBUAH terobosan besar dalam dunia astronomi berhasil mengungkap misteri lama mengenai medan magnet eksoplanet. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy menunjukkan bahwa kekuatan medan magnet [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":53186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-53185","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53185","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53185"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53185\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53185"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53185"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}