{"id":52628,"date":"2026-06-05T04:04:01","date_gmt":"2026-06-05T04:04:01","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/05\/misteri-nwa-12774-meteorit-gurun-sahara-ungkap-bukti-dunia-kuno-yang-hilang\/"},"modified":"2026-06-05T04:04:01","modified_gmt":"2026-06-05T04:04:01","slug":"misteri-nwa-12774-meteorit-gurun-sahara-ungkap-bukti-dunia-kuno-yang-hilang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/05\/misteri-nwa-12774-meteorit-gurun-sahara-ungkap-bukti-dunia-kuno-yang-hilang\/","title":{"rendered":"Misteri NWA 12774 Meteorit Gurun Sahara Ungkap Bukti Dunia Kuno yang Hilang"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/05\/1780613580_d056b69bebb890329efe.jpg\" alt=\"Misteri NWA 12774: Meteorit Gurun Sahara Ungkap Bukti Dunia Kuno yang Hilang\"\/><figcaption>Sebagian dari meteorit yang ditemukan di Sahara yang dikenal sebagai NWA 12774 di bawah cahaya terpolarisasi silang.(CU Boulder\/John Kashuba)<\/figcaption><\/figure>\n<p>SEBUAH meteorit langka yang ditemukan di Gurun Sahara berhasil mengungkap tabir sejarah masa lalu tata surya kita. Batuan ruang angkasa ini menyimpan bukti definitif pertama tentang keberadaan sebuah dunia kuno seukuran Bulan yang telah lama hilang. Planet purba tersebut diperkirakan pernah eksis hanya beberapa juta tahun setelah tata surya terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu.<\/p>\n<p>Meteorit seberat sekitar 454 gram yang ditemukan pada 2019 ini diberi nama Northwest Africa (NWA) 12774. Para ilmuwan mengklasifikasikan batuan ini sebagai angrite, salah satu jenis meteorit vulkanik tertua dan paling langka di tata surya. Dari lebih dari 80.000 meteorit yang pernah ditemukan di Bumi, hanya 68 di antaranya yang tergolong sebagai angrite.<\/p>\n<p>Keunikan utama angrite terletak pada kandungan kimianya. Berbeda dari Bumi, Mars, atau planet berbatu lainnya, jenis meteorit ini mengandung sangat sedikit silika (bahan dasar pasir yang melimpah pada kerak planet). Akibatnya, para ilmuwan sempat berasumsi bahwa angrite berasal dari asteroid yang relatif kecil.<\/p>\n<p>Namun, asumsi tersebut terpatahkan setelah tim peneliti dari University of Colorado Boulder menganalisis <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nwa-12774\" title=\"NWA 12774\">NWA 12774<\/a>. Di dalam batu tersebut, mereka menemukan kristal mineral klinopiroksen yang sangat kaya akan aluminium. Komposisi ini merupakan tanda kuat bahwa batuan tersebut terbentuk di bawah tekanan yang sangat masif.<\/p>\n<p>Melalui rekonstruksi laboratorium, tim peneliti mendapati bahwa mineral tersebut membutuhkan tekanan setidaknya 17,5 kilobar untuk dapat terbentuk. Sebagai perbandingan, tingkat tekanan tersebut setara dengan lebih dari 17 kali lipat tekanan di dasar Palung Mariana, titik terdalam di samudra Bumi. Tekanan sebesar ini mustahil dihasilkan di dalam asteroid kecil.<\/p>\n<p>Selain itu, kristal di dalam meteorit ini masih mempertahankan pola kimia dan tepi yang tajam. Karakteristik ini menandakan bahwa mineral tersebut terbentuk di kedalaman yang relatif dangkal, bukan di bagian dalam inti planet yang sangat panas. Agar tekanan sebesar 17,5 kilobar bisa tercapai di kedalaman dangkal, maka objek induk tempat batu ini berasal haruslah berukuran sangat besar.<\/p>\n<p>Berdasarkan perhitungan tersebut, dunia yang hilang itu diperkirakan memiliki radius lebih dari 1.800 kilometer. Ukuran ini membuatnya sebanding dengan Bulan dan mendekati ukuran planet Mars.<\/p>\n<p>&#8220;Sangat luar biasa untuk membayangkan bahwa dulu pernah ada dunia sebesar ini,&#8221; kata Aaron Bell, ilmuwan kebumian di University of Colorado Boulder sekaligus penulis utama studi tersebut dalam sebuah pernyataan. &#8220;Kita hanya tahu dunia itu pernah ada karena beberapa fragmennya kebetulan mendarat di Bumi.&#8221;<\/p>\n<p>Mengenai akhir dari nasib protoplanet tersebut, para peneliti menduga objek raksasa ini hancur akibat tabrakan kosmik dahsyat yang sering terjadi di masa awal pembentukan tata surya. Fragmen hasil tabrakan tersebut kemungkinan besar tersebar dan ikut menjadi bahan baku pembentukan planet berbatu lainnya, termasuk Bumi.<\/p>\n<p>Penemuan ini sekaligus membuka pandangan baru mengenai keberagaman jalur evolusi planet. &#8220;Bahan-bahan yang membentuk objek induk angrite ini secara fundamental berbeda dari bahan penyusun Bumi dan Mars,&#8221; jelas Bell. &#8220;Hal ini menunjukkan adanya jalur evolusi yang jelas dan terpisah dalam pembentukan planet pada sejarah awal tata surya kita.&#8221; (Space\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/897227\/misteri-nwa-12774-meteorit-gurun-sahara-ungkap-bukti-dunia-kuno-yang-hilang\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagian dari meteorit yang ditemukan di Sahara yang dikenal sebagai NWA 12774 di bawah cahaya terpolarisasi silang.(CU Boulder\/John Kashuba) SEBUAH meteorit langka yang ditemukan di Gurun Sahara berhasil mengungkap tabir sejarah masa lalu tata surya kita. Batuan ruang angkasa ini menyimpan bukti definitif pertama tentang keberadaan sebuah dunia kuno seukuran Bulan yang telah lama hilang. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":52629,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-52628","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52628","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52628"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52628\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52629"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}