{"id":51735,"date":"2026-06-03T09:43:06","date_gmt":"2026-06-03T09:43:06","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/03\/rupiah-mendekati-rp18-000-per-dolar-as-tekanan-global-dan-domestik-jadi-pemicu\/"},"modified":"2026-06-03T09:43:06","modified_gmt":"2026-06-03T09:43:06","slug":"rupiah-mendekati-rp18-000-per-dolar-as-tekanan-global-dan-domestik-jadi-pemicu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/03\/rupiah-mendekati-rp18-000-per-dolar-as-tekanan-global-dan-domestik-jadi-pemicu\/","title":{"rendered":"Rupiah Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Global dan Domestik Jadi Pemicu"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/03\/1780479455_04c5985fb430998c4bc5.jpg\" alt=\"Rupiah Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Global dan Domestik Jadi Pemicu\"\/><figcaption>Petugas mengangkut telur ayam ras yang disiapkan untuk pelaksanaan operasi Gerakan Pangan Murah di Lapangan Ahmad Kirang Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (25\/5\/2026). Pemerintah Provinsi Sulbar menggelar Gerakan Pangan Murah sebagai upaya menjaga stabilitas h(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>PELEMAHAN <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/nilai-tukar-rupiah\" title=\"Nilai Tukar Rupiah\">nilai tukar rupiah<\/a> dan koreksi tajam pasar saham menjadi perhatian utama pelaku pasar pada perdagangan Rabu (3\/6). Rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.966 per dolar AS dinilai mencerminkan kombinasi tekanan global dan domestik yang tengah membayangi perekonomian nasional.<\/p>\n<p>Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.925 per dolar AS, yang menjadi titik terlemah sepanjang sejarah terhadap mata uang Amerika Serikat tersebut.<\/p>\n<p>\u201cKarena itu, anggapan bahwa rupiah sedang menuju level Rp18.000 bukanlah sesuatu yang berlebihan,\u201d ujar Yusuf saat dihubungi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/896185\/pengusaha-sawit-tak-rasakan-windfall-ekspor-dari-pelemahan-rupiah\" title=\"Pengusaha Sawit tak Rasakan Windfall Ekspor dari Pelemahan Rupiah\" target=\"_blank\">Pengusaha Sawit tak Rasakan Windfall Ekspor dari Pelemahan Rupiah<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurutnya, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pelemahan-rupiah\" title=\"pelemahan rupiah\">pelemahan rupiah<\/a> tidak bisa hanya dijelaskan oleh faktor domestik. Penguatan dolar AS secara global masih berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah. Pada saat yang sama, muncul ekspektasi bahwa Federal Reserve berpotensi kembali memperketat kebijakan moneternya menjelang akhir tahun.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.<\/p>\n<p>Meski demikian, Yusuf menilai tidak seluruh pelemahan rupiah berasal dari faktor eksternal. Ia menyoroti sejumlah mata uang Asia seperti won Korea Selatan, yen Jepang, dan dolar Singapura yang justru masih mampu menguat tipis terhadap dolar AS pada periode yang sama.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/895058\/bi-sebut-tekanan-rupiah-masih-dipengaruhi-ketidakpastian-global\" title=\"BI Sebut Tekanan Rupiah masih Dipengaruhi Ketidakpastian Global\" target=\"_blank\">BI Sebut Tekanan Rupiah masih Dipengaruhi Ketidakpastian Global<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKondisi ini menunjukkan bahwa terdapat tekanan domestik yang ikut berperan. Dengan kata lain, pelemahan rupiah saat ini merupakan hasil dari kombinasi faktor global dan faktor dalam negeri,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Yusuf menjelaskan pemerintah dan Bank Indonesia sebenarnya telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Bank Indonesia, misalnya, telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Mei lalu. Selain itu, pemerintah mulai menerapkan ketentuan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sejak 1 Juni yang mewajibkan eksportir sektor sumber daya alam menempatkan seluruh devisa hasil ekspornya di dalam negeri.<\/p>\n<p>Menurut dia, kebijakan tersebut secara teori akan meningkatkan pasokan valuta asing di pasar domestik dan membantu menstabilkan nilai tukar. Namun dampaknya tidak dapat dirasakan secara instan karena memerlukan waktu hingga aliran devisa benar-benar masuk dan beredar dalam sistem keuangan nasional.<\/p>\n<p>Dalam jangka pendek, langkah yang paling realistis adalah menjaga stabilitas pasar melalui intervensi yang terukur di pasar valuta asing dan pasar obligasi menggunakan cadangan devisa.<\/p>\n<p>\u201cTujuannya bukan untuk mempertahankan angka kurs tertentu, melainkan meredam volatilitas yang berlebihan agar tidak memicu kepanikan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, pengalaman di berbagai negara menunjukkan penggunaan cadangan devisa secara besar-besaran hanya untuk mempertahankan level psikologis tertentu sering kali mahal dan tidak efektif apabila berhadapan dengan tekanan pasar yang kuat.<\/p>\n<p>Yusuf menilai persoalan rupiah pada dasarnya masih bersifat struktural. Selama Indonesia masih bergantung pada arus modal asing jangka pendek dan belum mampu memperkuat sumber devisa yang lebih stabil, gejolak global akan relatif mudah memengaruhi nilai tukar.<\/p>\n<p>Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, memperbaiki struktur ekspor, serta meningkatkan daya tarik investasi langsung berjangka panjang.<\/p>\n<p>Tekanan yang terjadi di pasar valuta asing turut tercermin pada pergerakan pasar saham. Pada akhir sesi pertama perdagangan Rabu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok 4,94% ke level 5.889, sekaligus menyentuh posisi terendah sejak Mei 2021.<\/p>\n<p>Menurut Yusuf, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang mendorong aksi jual di pasar saham. Ketika nilai tukar melemah, aset berbasis rupiah cenderung menjadi kurang menarik bagi sebagian investor asing, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot dominan dalam indeks.<\/p>\n<p>Namun demikian, ia menilai tekanan terhadap IHSG tidak sepenuhnya berasal dari faktor fundamental ekonomi. Sebagian tekanan juga dipicu oleh proses rebalancing indeks MSCI yang mulai berlaku sejak 1 Juni.<\/p>\n<p>\u201cKarena itu, penting untuk melihat koreksi tajam IHSG hari ini secara proporsional. Tekanan terhadap rupiah memang nyata dan memerlukan respons kebijakan yang serius. Namun penurunan pasar saham tidak sepenuhnya mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia,\u201d tutur Yusuf. (E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/896529\/rupiah-mendekati-rp18000-per-dolar-as-tekanan-global-dan-domestik-jadi-pemicu\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Petugas mengangkut telur ayam ras yang disiapkan untuk pelaksanaan operasi Gerakan Pangan Murah di Lapangan Ahmad Kirang Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (25\/5\/2026). Pemerintah Provinsi Sulbar menggelar Gerakan Pangan Murah sebagai upaya menjaga stabilitas h(Antara) PELEMAHAN nilai tukar rupiah dan koreksi tajam pasar saham menjadi perhatian utama pelaku pasar pada perdagangan Rabu (3\/6). Rupiah yang bergerak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":51736,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-51735","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51735","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51735"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51735\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51736"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51735"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51735"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51735"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}