{"id":51543,"date":"2026-06-03T02:45:37","date_gmt":"2026-06-03T02:45:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/03\/bahaya-sharenting-riset-kaspersky-ungkap-kesenjangan-keamanan-digital-orangtua\/"},"modified":"2026-06-03T02:45:37","modified_gmt":"2026-06-03T02:45:37","slug":"bahaya-sharenting-riset-kaspersky-ungkap-kesenjangan-keamanan-digital-orangtua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/03\/bahaya-sharenting-riset-kaspersky-ungkap-kesenjangan-keamanan-digital-orangtua\/","title":{"rendered":"Bahaya Sharenting Riset Kaspersky Ungkap Kesenjangan Keamanan Digital Orangtua"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/03\/1780453947_5bb819dff01147e200c6.jpg\" alt=\"Bahaya Sharenting: Riset Kaspersky Ungkap Kesenjangan Keamanan Digital Orangtua\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>FENOMENA\u00a0<em><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sharenting\" title=\"sharenting\">sharenting<\/a>,\u00a0<\/em>kebiasaan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/orangtua\" title=\"orangtua\">orangtua<\/a> membagikan foto, video, dan detail kehidupan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anak\" title=\"anak\">anak<\/a> di <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/media-sosial\" title=\"media sosial\">media sosial<\/a>, kini menjadi sorotan serius. Penelitian terbaru bertajuk <em>\u201cSmall Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children\u2019s Data\u201d<\/em> mengungkapkan adanya tren mengkhawatirkan: semakin sering orangtua mengunggah konten anak, semakin rendah motivasi mereka untuk menerapkan langkah <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/keamanan-digital\" title=\"keamanan digital\">keamanan digital<\/a>.<\/p>\n<p>Studi gabungan yang dilakukan oleh <strong><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kaspersky\" title=\"kaspersky\">Kaspersky<\/a><\/strong> dan <strong>Singapore Institute of Technology (SIT)<\/strong> ini menyoroti perilaku orangtua di wilayah Asia Pasifik (APAC) dan Mesir. Hasilnya menunjukkan adanya &#8220;kesenjangan perilaku&#8221; yang nyata, saat paparan data anak yang besar tidak dibarengi dengan perlindungan privasi yang memadai.<\/p>\n<h3>Kenyamanan Mengalahkan Keamanan<\/h3>\n<p>Associate Professor Jiow Hee Jhee dari SIT menjelaskan bahwa pola konsisten ditemukan dalam penelitian ini. Seiring meningkatnya frekuensi berbagi informasi, niat untuk mengadopsi langkah perlindungan justru menurun. Hal ini diperparah oleh persepsi bahwa pengaturan privasi adalah proses yang merepotkan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/876504\/pp-tunas-lindungi-anak-di-ruang-digital-psikolog-gebrakan-selamatkan-generasi\" title=\"PP Tunas Lindungi Anak di Ruang Digital, Psikolog: Gebrakan Selamatkan Generasi\" target=\"_blank\">PP Tunas Lindungi Anak di Ruang Digital, Psikolog: Gebrakan Selamatkan Generasi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Trishia Octaviano, Manajer Senior Pendidikan Keamanan Siber Kaspersky APAC, menyebutkan bahwa secara naluriah manusia memprioritaskan kenyamanan dan imbalan langsung.<\/p>\n<p>&#8220;Di dunia digital, ini berarti kita enggan mengubah pengaturan aplikasi karena dianggap membutuhkan usaha ekstra,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Berikut adalah data statistik mengenai persepsi orang tua terhadap langkah keamanan digital berdasarkan riset tersebut:<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/875605\/anak-di-bawah-16-tahun-dilarang-punya-akun-medsos-pribadi-bisa-berkolaborasi-dengan-orangtua\" title=\"Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Akun Medsos Pribadi, Bisa Berkolaborasi dengan Orangtua\" target=\"_blank\">Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Akun Medsos Pribadi, Bisa Berkolaborasi dengan Orangtua<\/a><\/strong><\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; border: 1px solid #ddd; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Langkah Keamanan<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">Setuju Melindungi Privasi<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">Menganggap Terlalu Repot\/Lama<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Membatasi visibilitas hanya untuk keluarga\/teman<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">87%<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">49%<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Menghapus izin berbagi (sharing permissions)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">80%<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">40%<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Mematikan metadata dan penandaan geografis (geotagging)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">83%<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">36%<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Percaya Diri Namun Tetap Rentan<\/h3>\n<p>Menariknya, mayoritas orangtua (lebih dari 80%) merasa percaya diri dengan kemampuan mereka mengelola informasi agar tidak tersebar luas. Namun, di sisi lain, 72% responden tetap merasa rentan terhadap peretasan meskipun sudah menyesuaikan pengaturan privasi. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan risiko, namun belum diikuti dengan tindakan preventif yang konsisten.<\/p>\n<div style=\"background-color: #f9f9f9; padding: 20px; border-left: 5px solid #007bff; margin: 20px 0;\"><strong>Checklist Keamanan Digital untuk Keluarga:<\/strong><\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Hapus akun lama yang sudah tidak digunakan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Atur akun media sosial menjadi privat.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Tinjau pengaturan privasi secara berkala karena kebijakan platform sering berubah.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Hapus metadata dari file foto dan hindari mengungkap lokasi sensitif seperti sekolah anak.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Gunakan aplikasi kontrol orang tua seperti Kaspersky Safe Kids untuk memantau aktivitas online anak.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<\/div>\n<h3>Tentang Riset<\/h3>\n<p>Survei ini melibatkan 152 responden orangtua dengan anak usia 0-12 tahun dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, hingga Mesir. Data dikumpulkan selama periode Oktober 2025 hingga Februari 2026 melalui kuesioner daring dan lokakarya tatap muka.<\/p>\n<p>Kesimpulannya, pola pikir orangtua terhadap <em>sharenting<\/em> sangat menentukan keamanan masa depan digital anak. Edukasi yang menekankan bahwa praktik keamanan itu mudah dan sederhana menjadi kunci untuk menutup celah risiko di era digital ini. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/896394\/bahaya-sharenting-riset-kaspersky-ungkap-kesenjangan-keamanan-digital-orangtua\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) FENOMENA\u00a0sharenting,\u00a0kebiasaan orangtua membagikan foto, video, dan detail kehidupan anak di media sosial, kini menjadi sorotan serius. Penelitian terbaru bertajuk \u201cSmall Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children\u2019s Data\u201d mengungkapkan adanya tren mengkhawatirkan: semakin sering orangtua mengunggah konten anak, semakin rendah motivasi mereka untuk menerapkan langkah keamanan digital. Studi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":51544,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-51543","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51543"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51543\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51544"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}