{"id":51052,"date":"2026-06-02T05:21:24","date_gmt":"2026-06-02T05:21:24","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/02\/sering-dipakai-spons-cuci-piring-ternyata-jadi-sumber-polusi-mikroplastik-di-rumah\/"},"modified":"2026-06-02T05:21:24","modified_gmt":"2026-06-02T05:21:24","slug":"sering-dipakai-spons-cuci-piring-ternyata-jadi-sumber-polusi-mikroplastik-di-rumah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/02\/sering-dipakai-spons-cuci-piring-ternyata-jadi-sumber-polusi-mikroplastik-di-rumah\/","title":{"rendered":"Sering Dipakai, Spons Cuci Piring Ternyata Jadi Sumber Polusi Mikroplastik di Rumah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/06\/02\/1780363169_00a2cb1f9891501f0c66.jpg\" alt=\"Sering Dipakai, Spons Cuci Piring Ternyata Jadi Sumber Polusi Mikroplastik di Rumah\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>SPONS dapur merupakan salah satu kebutuhan pokok di hampir setiap rumah tangga. Namun, alat pembersih ini ternyata menjadi sumber polusi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mikroplastik\" title=\"mikroplastik\">mikroplastik<\/a> yang selama ini kerap diabaikan. Sebuah studi terbaru yang dipimpin para peneliti di Universitas Bonn, Jerman, menguji seberapa banyak partikel plastik kecil yang terlepas dari spons selama mencuci piring sehari-hari dan dampaknya terhadap lingkungan.<\/p>\n<p>Hasil penelitian menunjukkan spons dapur memang melepaskan mikroplastik dalam jumlah yang terukur seiring berjalannya waktu akibat terkikis saat digunakan. Meski demikian, para peneliti menemukan beban lingkungan terbesar dari aktivitas mencuci piring secara manual bukanlah partikel plastik tersebut, melainkan konsumsi penggunaan air.<\/p>\n<p>Untuk mengumpulkan data yang akurat, tim peneliti menggabungkan pengujian laboratorium dengan metode citizen science (sains warga). Sejumlah rumah tangga di Jerman dan Amerika Utara secara sukarela menggunakan salah satu dari tiga jenis spons untuk rutinitas mencuci piring mereka sambil mendokumentasikan penggunaannya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/megapolitan\/893944\/dlh-dki-imbau-gunakan-besek-bambu-untuk-wadah-daging-kurban-saat-iduladha\" title=\"DLH DKI Imbau Gunakan Besek Bambu untuk Wadah Daging Kurban saat Iduladha\" target=\"_blank\">DLH DKI Imbau Gunakan Besek Bambu untuk Wadah Daging Kurban saat Iduladha<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Para peneliti menimbang setiap spons sebelum dan sesudah digunakan untuk menentukan seberapa banyak material yang hilang. Mereka juga melakukan eksperimen laboratorium terkontrol menggunakan sistem pengujian otomatis yang disebut &#8220;SpongeBot&#8221; untuk meniru tekanan mekanis yang dialami spons saat mencuci piring.<\/p>\n<p>Studi tersebut menemukan setiap spons yang diuji kehilangan material selama penggunaan. Tergantung pada jenis sponsnya, emisi tahunan berkisar antara 0,68 gram hingga 4,21 gram mikroplastik per orang. Spons dengan kandungan plastik yang lebih rendah melepaskan partikel jauh lebih sedikit daripada spons dengan kandungan plastik tinggi.<\/p>\n<p>Meskipun jumlah mikroplastik yang dilepaskan oleh satu spons terlihat kecil, angkanya menjadi sangat besar ketika diakumulasikan dalam skala nasional. Para peneliti memperkirakan jika satu jenis spons tertentu digunakan di setiap rumah tangga di Jerman, emisi tahunannya bisa mencapai 355 ton mikroplastik. Walaupun instalasi pengolahan air limbah mampu menangkap sebagian besar partikel ini, beberapa ton mikroplastik diperkirakan tetap lolos dan mencemari sungai, danau, lautan, serta tanah setiap tahunnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/890795\/kolaborasi-tp-pkk-dan-posyandu-jateng-dorong-ekonomi-sirkular-masyarakat\" title=\"Kolaborasi TP PKK dan Posyandu Jateng Dorong Ekonomi Sirkular Masyarakat\" target=\"_blank\">Kolaborasi TP PKK dan Posyandu Jateng Dorong Ekonomi Sirkular Masyarakat<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kendati demikian, emisi mikroplastik bukan pendorong utama kerusakan ekosistem dalam studi ini. Penilaian daur hidup menunjukkan bahwa sekitar 85% hingga 97% dari total dampak lingkungan dari mencuci piring secara manual justru berasal dari konsumsi air. Jika dibandingkan dengan penggunaan air, emisi mikroplastik memberikan kontribusi yang jauh lebih kecil terhadap keseluruhan kerusakan ekosistem.<\/p>\n<p>Melalui temuan ini, para peneliti membagikan beberapa langkah praktis bagi konsumen untuk mengurangi jejak lingkungan saat mencuci piring, di antaranya:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Menggunakan lebih sedikit air saat mencuci piring karena langkah ini memberikan manfaat lingkungan terbesar.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Memilih spons dengan kandungan plastik yang lebih rendah untuk mengurangi pelepasan mikroplastik.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Menggunakan spons dalam jangka waktu yang lebih lama karena memperpanjang masa pakai spons dapat menurunkan konsumsi sumber daya secara keseluruhan.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Studi ini mengingatkan kesuksesan menjaga lingkungan di rumah tangga tidak hanya diukur dari jenis spons yang dipilih, tetapi juga dari seberapa bijak kita mengalirkan air di wastafel dapur. (Science Daily\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/895927\/sering-dipakai-spons-cuci-piring-ternyata-jadi-sumber-polusi-mikroplastik-di-rumah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) SPONS dapur merupakan salah satu kebutuhan pokok di hampir setiap rumah tangga. Namun, alat pembersih ini ternyata menjadi sumber polusi mikroplastik yang selama ini kerap diabaikan. Sebuah studi terbaru yang dipimpin para peneliti di Universitas Bonn, Jerman, menguji seberapa banyak partikel plastik kecil yang terlepas dari spons selama mencuci piring sehari-hari dan dampaknya terhadap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":51053,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-51052","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51052","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51052"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51052\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51053"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51052"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51052"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51052"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}