{"id":50501,"date":"2026-06-01T04:34:35","date_gmt":"2026-06-01T04:34:35","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/01\/intermittent-fasting-mampu-ubah-kinerja-otak-dan-bakteri-usus-sekaligus\/"},"modified":"2026-06-01T04:34:35","modified_gmt":"2026-06-01T04:34:35","slug":"intermittent-fasting-mampu-ubah-kinerja-otak-dan-bakteri-usus-sekaligus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/06\/01\/intermittent-fasting-mampu-ubah-kinerja-otak-dan-bakteri-usus-sekaligus\/","title":{"rendered":"Intermittent Fasting Mampu Ubah Kinerja Otak dan Bakteri Usus sekaligus"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/31\/1780238111_363a995605c065adab91.jpg\" alt=\"Intermittent Fasting Mampu Ubah Kinerja Otak dan Bakteri Usus sekaligus\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>MENURUNKAN <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/berat-badan\" title=\"Berat Badan\">berat badan<\/a> ternyata bukan sekadar urusan menahan lapar, melainkan tentang mengatur ulang kerja usus dan otak secara bersamaan. Sebuah studi terhadap orang dewasa dengan obesitas menunjukkan bahwa metode diet pembatasan energi intermiten (intermittent energy restriction\/IER), yang mirip dengan puasa intermiten, berhasil menurunkan berat badan secara signifikan, memperbaiki metabolisme, dan mengubah komposisi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bakteri-usus\" title=\"bakteri usus\">bakteri usus<\/a>.<\/p>\n<p>Lebih dari satu miliar orang di dunia saat ini hidup dengan obesitas, kondisi yang memicu risiko penyakit kardiovaskular hingga kanker. Tantangan terbesar obesitas adalah tubuh tidak merespons pengurangan kalori secara linier karena sinyal dari usus, hormon, dan otak terus memengaruhi rasa lapar. Namun, riset menunjukkan diet IER mampu mengubah hubungan antara bakteri usus dan aktivitas otak yang mengatur perilaku makan.<\/p>\n<p>&#8220;Di sini kami menunjukkan bahwa diet IER mengubah poros otak-usus-<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mikrobioma\" title=\"mikrobioma\">mikrobioma<\/a> manusia. Perubahan yang diamati pada mikrobioma usus dan aktivitas di wilayah otak yang terkait dengan kecanduan selama dan setelah penurunan berat badan bersifat sangat dinamis dan saling terhubung dari waktu ke waktu,&#8221; ungkap Dr. Qiang Zeng, peneliti dari Institut Manajemen Kesehatan Hospital Umum PLA di Beijing.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/895560\/jumlah-kalori-di-label-makanan-ternyata-akibat-tipuan-studi-ungkap-peran-bakteri-usus\" title=\"Jumlah Kalori di Label Makanan Ternyata Akibat Tipuan? Studi Ungkap Peran Bakteri Usus\" target=\"_blank\">Jumlah Kalori di Label Makanan Ternyata Akibat Tipuan? Studi Ungkap Peran Bakteri Usus<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Eksperimen Puasa yang Teratur<\/h2>\n<p>Para peneliti menguji 25 orang dewasa dengan obesitas di Tiongkok yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) antara 28 hingga 45. Melalui analisis sampel feses, tes darah, dan pemindaian otak fMRI (functional magnetic resonance imaging), tim memantau perubahan tubuh peserta selama dua fase program:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Fase Puasa Terkontrol Ketat (32 hari): Peserta mengonsumsi makanan dari ahli gizi dengan kalori yang dipangkas bertahap hingga tersisa seperempat dari kebutuhan energi dasar.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Fase Puasa Terkontrol Rendah (30 hari): Peserta memilih makanan sendiri berdasarkan rekomendasi, dengan target 500 kalori per hari untuk wanita dan 600 kalori untuk pria.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Pada akhir program, berat badan peserta turun rata-rata 7,6 kilogram (sekitar 7,8% dari berat awal), diikuti dengan mengecilnya lingkar pinggang, penurunan tekanan darah, kadar glukosa, serta kolesterol.<\/p>\n<h2>Sinyal Dua Arah antara Usus dan Otak<\/h2>\n<p>Pemindaian fMRI menunjukkan adanya penurunan aktivitas di area otak yang mengontrol nafsu makan dan kecanduan. Di saat yang sama, komposisi mikrobioma usus mereka berubah; bakteri baik seperti Faecalibacterium prausnitzii melonjak tajam, sementara bakteri Escherichia coli yang merugikan justru menurun.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/850020\/mabuk-tanpa-minum-alkohol-ilmuwan-ungkap-penyebab-sindrom-pabrik-bir-di-perut\" title=\"Mabuk Tanpa Minum Alkohol? Ilmuwan Ungkap Penyebab Sindrom 'Pabrik Bir' di Perut\" target=\"_blank\">Mabuk Tanpa Minum Alkohol? Ilmuwan Ungkap Penyebab Sindrom &#8216;Pabrik Bir&#8217; di Perut<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Mikrobioma usus diperkirakan berkomunikasi dengan otak dalam cara yang kompleks dan dua arah. Mikrobioma memproduksi neurotransmiter dan neurotoksin yang memasuki otak melalui saraf dan sirkulasi darah. Sebaliknya, otak mengontrol perilaku makan, sementara nutrisi dari diet kita mengubah komposisi mikrobioma usus,&#8221; jelas rekan penulis Dr. Xiaoning Wang.<\/p>\n<p>Hubungan erat ini dibuktikan lewat keterkaitan bakteri tertentu dengan area otak yang mengatur fungsi eksekutif dan tekad (willpower) selama diet.<\/p>\n<h2>Tantangan Riset Selanjutnya<\/h2>\n<p>Meskipun ulasan sistematis menunjukkan puasa intermiten secara nyata mengubah keragaman mikrobioma, hasil tiap individu bisa bervariasi tergantung jenis puasa dan biologi tubuhnya. Karena studi ini masih berskala kecil, mekanisme pastinya masih terus diteliti.<\/p>\n<p>&#8220;Pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah mekanisme tepat bagaimana mikrobioma usus dan otak berkomunikasi pada orang yang obesitas, termasuk selama penurunan berat badan. Mikrobioma usus dan wilayah otak spesifik mana yang krusial untuk keberhasilan penurunan berat badan dan mempertahankan berat badan sehat?&#8221; kata Dr. Liming Wang.<\/p>\n<p>Riset ini menegaskan bahwa diet bukan lagi sekadar memangkas kalori, melainkan menyelaraskan kembali komunikasi biologis antara sistem pencernaan dan otak kita. (Science Daily\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/895561\/intermittent-fasting-mampu-ubah-kinerja-otak-dan-bakteri-usus-sekaligus\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) MENURUNKAN berat badan ternyata bukan sekadar urusan menahan lapar, melainkan tentang mengatur ulang kerja usus dan otak secara bersamaan. Sebuah studi terhadap orang dewasa dengan obesitas menunjukkan bahwa metode diet pembatasan energi intermiten (intermittent energy restriction\/IER), yang mirip dengan puasa intermiten, berhasil menurunkan berat badan secara signifikan, memperbaiki metabolisme, dan mengubah komposisi bakteri usus. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":50502,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-50501","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50501","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50501"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50501\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50502"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50501"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50501"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50501"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}