{"id":49296,"date":"2026-05-29T06:57:47","date_gmt":"2026-05-29T06:57:47","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/29\/simpan-tulang-mammoth-selama-70-tahun-fosil-di-museum-ini-ternyata-milik-paus\/"},"modified":"2026-05-29T06:57:47","modified_gmt":"2026-05-29T06:57:47","slug":"simpan-tulang-mammoth-selama-70-tahun-fosil-di-museum-ini-ternyata-milik-paus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/29\/simpan-tulang-mammoth-selama-70-tahun-fosil-di-museum-ini-ternyata-milik-paus\/","title":{"rendered":"Simpan Tulang Mammoth Selama 70 Tahun, Fosil di Museum Ini ternyata Milik Paus"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/29\/1780037121_234e05d123540e06a991.jpeg\" alt=\"Simpan Tulang Mammoth Selama 70 Tahun, Fosil di Museum Ini ternyata Milik Paus\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Tech Explorist)<\/figcaption><\/figure>\n<p>SEPASANG fosil tulang punggung yang disimpan selama 70 tahun di Museum of the North Universitas Alaska milik <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mammoth\" title=\"mammoth\">mammoth<\/a> berbulu, ternyata merupakan fosil dari dua spesies paus kuno.\u00a0<\/p>\n<p>Hal ini bermula pada tahun 1950-an ketika seorang arkeolog bernama Otto Geist melakukan perjalanan di pedalaman Alaska. Di sebuah wilayah yang dulunya dikenal sebagai Beringia, tepatnya sekitar 10 mil di utara Fairbanks, Geist menemukan sepasang lempeng pertumbuhan tulang fosil berukuran raksasa.\u00a0<\/p>\n<p>Mengingat ukurannya yang masif dan lokasi penemuannya yang terkenal sering menghasilkan fosil dari masa Pleistosen Akhir seperti bison dan mammoth, Geist langsung menyimpulkan bahwa tulang punggung tersebut milik mammoth berbulu (<em>Mammuthus primigenius<\/em>).\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/853450\/fosil-yang-dikira-mammoth-ternyata-paus-terungkap-setelah-70-tahun\" title=\"Fosil yang Dikira Mammoth Ternyata Paus, Terungkap Setelah 70 Tahun\" target=\"_blank\">Fosil yang Dikira Mammoth Ternyata Paus, Terungkap Setelah 70 Tahun<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia kemudian membawa temuan tersebut ke Museum of the North di Universitas Alaska dan fosil itu pun tersimpan rapi di dalam arsip museum selama 70 tahun.<\/p>\n<h2>Usia Tulang Terlalu Muda untuk Mammoth<\/h2>\n<p>Kekeliruan ini mulai terkuak ketika pihak museum melakukan uji penanggalan radiokarbon pada fosil tersebut untuk menentukan usia pastinya. Hasil analisis menunjukkan tulang tersebut baru berusia 2.000-3.000 tahun, terlalu muda untuk mammoth yang sudah punah sekitar 10.000-13.000 tahun lalu.<\/p>\n<p>Curiga dengan garis waktu yang janggal, ahli biogeokimia Matthew Wooller dan timnya menguji kandungan isotop karbon dan nitrogen pada fosil. Hasilnya mengejutkan; tulang tersebut mengandung kadar nitrogen-15 dan karbon-13 yang sangat tinggi. Sinyal kimiawi ini merupakan ciri khas makhluk laut karena mereka mengonsumsi organisme laut.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/837889\/mammoth-di-meksiko-punya-gen-unik-ternyata-berbeda-dari-kerabatnya\" title=\"Mammoth di Meksiko Punya Gen Unik, Ternyata Berbeda dari Kerabatnya\" target=\"_blank\">Mammoth di Meksiko Punya Gen Unik, Ternyata Berbeda dari Kerabatnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Tim peneliti kemudian melakukan pengujian DNA mitokondria. Hasil tes secara mengejutkan menunjukkan bahwa fosil tersebut berasal dari dua spesies paus yang berbeda, yaitu paus minke (<em>Balaenoptera acutorostrata<\/em>) dan paus penunggang pasifik utara (<em>Eubalaena japonica<\/em>).<\/p>\n<h2>Bagaimana Paus Bisa Berada di Tengah Daratan?<\/h2>\n<p>Terungkapnya identitas asli paus yang selama ini &#8220;menyamar&#8221; sebagai mammoth langsung melahirkan teka-teki baru bagi para peneliti. Mereka mempertanyakan bagaimana bisa sisa-sisa dari dua ekor paus yang berusia lebih dari 1.000 tahun dapat ditemukan di pedalaman Alaska, yang jaraknya lebih dari 400 kilometer dari garis pantai terdekat.<\/p>\n<p>Beberapa teori pun bermunculan untuk menjawab misteri tersebut, seperti:<br \/>&#13;<br \/>\n1. Serbuan paus melalui sungai kuno.<br \/>&#13;<br \/>\n2. Diangkut oleh suku asli zaman dahulu untuk dijadikan perkakas.<br \/>&#13;<br \/>\n3. Murni kesalahan label atau koleksi yang tertukar.<\/p>\n<p>Dua spesimen paus kuno yang kini telah didokumentasikan dan diidentifikasi secara genetik di museum diyakini akan sangat berguna untuk mendukung studi tentang perilaku dan sejarah paus di masa depan. Penelitian ini telah resmi dipublikasikan dalam Journal of Quaternary Science. (Nadhira Izzati A\/E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/894999\/simpan-tulang-mammoth-selama-70-tahun-fosil-di-museum-ini-ternyata-milik-paus\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Tech Explorist) SEPASANG fosil tulang punggung yang disimpan selama 70 tahun di Museum of the North Universitas Alaska milik mammoth berbulu, ternyata merupakan fosil dari dua spesies paus kuno.\u00a0 Hal ini bermula pada tahun 1950-an ketika seorang arkeolog bernama Otto Geist melakukan perjalanan di pedalaman Alaska. Di sebuah wilayah yang dulunya dikenal sebagai Beringia, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":49297,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-49296","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49296","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=49296"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49296\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/49297"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=49296"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=49296"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=49296"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}