{"id":48868,"date":"2026-05-28T10:23:45","date_gmt":"2026-05-28T10:23:45","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/28\/agroforestri-pangan-tingkatkan-ekonomi-masyarakat\/"},"modified":"2026-05-28T10:23:45","modified_gmt":"2026-05-28T10:23:45","slug":"agroforestri-pangan-tingkatkan-ekonomi-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/28\/agroforestri-pangan-tingkatkan-ekonomi-masyarakat\/","title":{"rendered":"Agroforestri Pangan Tingkatkan Ekonomi Masyarakat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/28\/1779963549_476bab4fb0c584bdda66.jpg\" alt=\"Agroforestri Pangan Tingkatkan Ekonomi Masyarakat\"\/><figcaption>Pemerintah mendorong pengembangan agroforestri pangan\u00a0untuk mengoptimalkan kawasan hutan produktif.(Dok. Manu)<\/figcaption><\/figure>\n<p>PEMERINTAH melalui Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta, Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan, mendorong pengembangan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/agroforestri-pangan\" title=\"agroforestri pangan\">agroforestri pangan<\/a> di kawasan Perhutanan Sosial Jawa Timur. Program ini diarahkan untuk mengoptimalkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kawasan-hutan-produktif\" title=\"kawasan hutan produktif\">kawasan hutan produktif<\/a> sekaligus memperkuat <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ketahanan-pangan\" title=\"Ketahanan Pangan\">ketahanan pangan<\/a> dan ekonomi masyarakat sekitar hutan.<\/p>\n<p>Pengembangan agroforestri pangan tersebut ditandai melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta dan PT <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mekar-asta-nusantara\" title=\"Mekar Asta Nusantara\">Mekar Asta Nusantara<\/a> (MANU). Kerja sama ini mencakup pengembangan kawasan hutan serta peningkatan kapasitas Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) di wilayah Jawa Timur.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/893690\/tni-polri-dan-petani-di-sukawening-garut-berburu-tikus-demi-cegah-gagal-panen\" title=\"TNI-Polri dan Petani di Sukawening Garut Berburu Tikus demi Cegah Gagal Panen\" target=\"_blank\">TNI-Polri dan Petani di Sukawening Garut Berburu Tikus demi Cegah Gagal Panen<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kepala Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta, Wahyudi Ardhyanto, mengatakan pengelolaan Perhutanan Sosial perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga dan mengembalikan fungsi hutan. Menurutnya, pendekatan agroforestri menjadi langkah penting agar kawasan hutan tetap produktif tanpa mengabaikan aspek kelestarian.<\/p>\n<p>\u201cMelalui kerja sama ini, kami berharap pengelolaan Perhutanan Sosial tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga tetap menjaga dan mengembalikan fungsi hutan. Pendekatan agroforestri melalui kombinasi tanaman kayu-kayuan dan tanaman semusim seperti jagung menjadi langkah penting agar kawasan hutan tetap produktif sekaligus lestari,\u201d ujar Wahyudi, belum lama ini.<\/p>\n<p>Program ini juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Melalui pendekatan agroforestri, kawasan hutan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas pangan, seperti jagung, dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/891299\/perjuangan-bulog-menjaga-pangan-di-kepulauan-ntt\" title=\"Perjuangan Bulog Menjaga Pangan di Kepulauan NTT\" target=\"_blank\">Perjuangan Bulog Menjaga Pangan di Kepulauan NTT<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Dalam pelaksanaannya, MANU akan berperan mendukung pengembangan agroforestri pangan melalui pendampingan, penguatan kapasitas kelompok, serta pengembangan komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu Kelompok Perhutanan Sosial meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas manfaat ekonomi dari kawasan hutan.<\/p>\n<p>Direktur Utama PT Mekar Asta Nusantara, Evi Febriana Suhardi, menyampaikan bahwa keberlangsungan pangan Indonesia membutuhkan sinergi dari berbagai pihak agar dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cKeberlangsungan pangan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang bagaimana kita membangun ekosistem yang mampu tumbuh bersama masyarakat dalam jangka panjang. Saat ini kami juga tengah mengembangkan lahan agroforestri sebagai bentuk pemanfaatan kawasan hutan melalui penanaman tanaman semusim seperti jagung yang tetap memperhatikan aspek keberlanjutan dan produktivitas,\u201d ujar Evi.<\/p>\n<p>Evi berharap pengembangan agroforestri pangan ini dapat menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari penguatan kapasitas hingga terciptanya nilai ekonomi yang terus berkembang.<\/p>\n<p>Ke depan, pengembangan agroforestri berbasis jagung dan komoditas pangan lainnya akan difokuskan di Jember serta berpotensi diperluas ke kawasan lain. Program ini diharapkan menjadi langkah nyata pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui optimalisasi kawasan hutan produktif dan pemberdayaan masyarakat Perhutanan Sosial. (Z-100<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/894725\/agroforestri-pangan-tingkatkan-ekonomi-masyarakat\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah mendorong pengembangan agroforestri pangan\u00a0untuk mengoptimalkan kawasan hutan produktif.(Dok. Manu) PEMERINTAH melalui Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta, Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan, mendorong pengembangan agroforestri pangan di kawasan Perhutanan Sosial Jawa Timur. Program ini diarahkan untuk mengoptimalkan kawasan hutan produktif sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Pengembangan agroforestri pangan tersebut ditandai melalui [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48869,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-48868","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48868","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48868"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48868\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48869"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48868"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48868"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48868"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}