{"id":48459,"date":"2026-05-27T15:44:25","date_gmt":"2026-05-27T15:44:25","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/27\/lupus-penyebab-gejala-dan-faktor-risiko-yang-perlu-diwaspadai\/"},"modified":"2026-05-27T15:44:25","modified_gmt":"2026-05-27T15:44:25","slug":"lupus-penyebab-gejala-dan-faktor-risiko-yang-perlu-diwaspadai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/27\/lupus-penyebab-gejala-dan-faktor-risiko-yang-perlu-diwaspadai\/","title":{"rendered":"Lupus Penyebab, Gejala, dan Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/27\/1779896356_a4d3f3d940de349b8e9f.jpg\" alt=\"Lupus: Penyebab, Gejala, dan Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/lupus\" title=\"Lupus\">LUPUS<\/a> merupakan salah satu penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh. Penyakit ini dikenal sebagai \u201cpenyakit seribu wajah\u201d karena gejalanya sangat beragam dan sering menyerupai penyakit lain, sehingga kerap sulit dikenali sejak awal.<\/p>\n<p>Dalam dunia medis, lupus dikenal dengan nama systemic lupus erythematosus\u00a0(SLE). Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari virus, bakteri, atau zat berbahaya lainnya justru menyerang sel dan jaringan sehat tubuh sendiri.<\/p>\n<p>Akibatnya, peradangan dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, mulai dari kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga otak. Tingkat keparahan lupus juga dapat berbeda pada setiap penderita, bahkan gejalanya bisa berubah dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/894156\/lupus-penyakit-autoimun-dengan-gejala-beragam-yang-sering-sulit-dideteksi\" title=\"Lupus, Penyakit Autoimun dengan Gejala Beragam yang Sering Sulit Dideteksi\" target=\"_blank\">Lupus, Penyakit Autoimun dengan Gejala Beragam yang Sering Sulit Dideteksi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Informasi mengenai lupus ini dilansir dari laman resmi Rumah Sakit Pondok Indah.<\/p>\n<h3><strong>Sistem Kekebalan Tubuh yang Keliru Menyerang Tubuh Sendiri<\/strong><\/h3>\n<p>Pada kondisi normal, sistem imun bekerja sebagai pelindung alami tubuh. Namun, pada penderita lupus, sistem pertahanan tubuh mengalami gangguan sehingga salah mengenali sel sehat sebagai ancaman.<\/p>\n<p>Reaksi tersebut memicu peradangan yang berlangsung terus-menerus dan dapat menyebabkan kerusakan organ bila tidak ditangani dengan baik. Karena gejalanya sangat beragam dan dapat menyerupai banyak penyakit lain, diagnosis lupus sering kali membutuhkan pemeriksaan menyeluruh oleh dokter.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/783063\/rambut-rontok-bisa-jadi-gejala-penyakit-lupus\" title=\"Rambut Rontok Bisa Jadi Gejala Penyakit Lupus\" target=\"_blank\">Rambut Rontok Bisa Jadi Gejala Penyakit Lupus<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Penanganan sejak dini menjadi langkah penting untuk membantu mengendalikan gejala sekaligus mencegah komplikasi yang lebih berat.<\/p>\n<p>Lupus memiliki beberapa jenis dengan karakteristik yang berbeda-beda.<\/p>\n<p>Jenis yang paling umum adalah systemic lupus erythematosus (SLE), yaitu lupus yang menyerang beberapa organ tubuh sekaligus. Selain itu, terdapat beberapa jenis lupus lainnya.<\/p>\n<h3><strong>1. Cutaneous Lupus Erythematosus<\/strong><\/h3>\n<p>Jenis lupus ini menyerang kulit dan sering disebut juga discoid lupus erythematosus. Gejalanya berupa ruam pada area tubuh yang sering terkena sinar matahari, seperti wajah, leher, telinga, lengan, dan kaki.<\/p>\n<p>Pada sebagian penderita, kondisi ini juga dapat menyebabkan kerontokan rambut hingga muncul area pitak.<\/p>\n<h3><strong>2. Drug-induced Lupus<\/strong><\/h3>\n<p>Drug-induced lupus merupakan lupus yang dipicu oleh penggunaan obat tertentu, seperti obat antikejang dan obat antiaritmia.<\/p>\n<p>Lupus jenis ini umumnya bersifat sementara dan gejalanya dapat membaik setelah penggunaan obat dihentikan.<\/p>\n<h3><strong>3. Neonatal Lupus<\/strong><\/h3>\n<p>Neonatal lupus adalah jenis lupus yang tergolong langka dan terjadi pada bayi sejak lahir.<\/p>\n<p>Meski tidak selalu diturunkan langsung dari orang tua penderita lupus, bayi yang memiliki orang tua dengan lupus diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.<\/p>\n<h3><strong><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/penyebab-lupus\" title=\"Penyebab Lupus\">Penyebab Lupus<\/a><\/strong><\/h3>\n<p>Hingga kini, penyebab pasti lupus belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli meyakini bahwa penyakit ini muncul akibat kombinasi faktor genetik, hormon, gaya hidup, serta lingkungan.<\/p>\n<p>Faktor genetik diduga memiliki peran penting karena beberapa penelitian menemukan adanya mutasi gen tertentu yang meningkatkan risiko lupus. Selain itu, hormon estrogen juga dipercaya dapat memengaruhi munculnya lupus. Faktor ini menjadi salah satu alasan mengapa lupus lebih sering dialami perempuan dibanding laki-laki.<\/p>\n<p>Gaya hidup dan riwayat kesehatan seseorang juga dapat memicu risiko penyakit ini. Kebiasaan merokok, stres berkepanjangan, serta riwayat penyakit autoimun lain diketahui dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami lupus.<\/p>\n<p>Tak hanya itu, faktor lingkungan seperti paparan polusi dan sinar matahari berlebih juga diyakini ikut berperan dalam memicu lupus.<\/p>\n<h3><strong>Faktor Pemicu Lupus<\/strong><\/h3>\n<p>Beberapa faktor yang dipercaya dapat memicu munculnya lupus atau memperparah kondisinya antara lain:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Paparan sinar matahari berlebih<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Infeksi<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Penggunaan obat tekanan darah tinggi<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Penggunaan antibiotik tertentu<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Penggunaan obat antikejang<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h3><strong>Siapa yang Lebih Berisiko?<\/strong><\/h3>\n<p>Adapun, beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami lupus meliputi:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Perempuan<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Usia 15\u201345 tahun<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Keturunan Afrika-Amerika, Hispanik, dan Asia<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Memiliki anggota keluarga penderita lupus<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h3><strong><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gejala-lupus\" title=\"gejala lupus\">Gejala Lupus<\/a><\/strong><\/h3>\n<p>Gejala lupus dapat muncul secara perlahan maupun mendadak. Tingkat keparahannya pun bisa berbeda pada setiap orang. Pada sebagian penderita, gejala muncul dalam periode tertentu atau kambuh-hilang, yang dikenal sebagai flare.<\/p>\n<p>Secara umum, gejala lupus yang paling sering dikeluhkan meliputi kelelahan, demam, nyeri dan kaku pada sendi, serta ruam merah berbentuk kupu-kupu di area pipi dan batang hidung atau dikenal sebagai butterfly rash.<\/p>\n<p>Penderita lupus juga dapat mengalami keluhan kulit yang memburuk setelah terkena sinar matahari, sesak napas, nyeri dada, mata kering, hingga sakit kepala dan gangguan konsentrasi. Selain itu, beberapa penderita mengalami fenomena Raynaud, yaitu kondisi ketika jari tangan atau kaki berubah pucat atau putih saat terkena suhu dingin atau stres.<\/p>\n<p>Keluhan lain yang juga dapat muncul meliputi sariawan, rambut rontok, pembengkakan kelenjar getah bening, pembengkakan tangan dan kaki, hingga kejang.<\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong>: <em>RS Pondok Indah.<\/em><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/894475\/lupus-penyebab-gejala-dan-faktor-risiko-yang-perlu-diwaspadai\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) LUPUS merupakan salah satu penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh. Penyakit ini dikenal sebagai \u201cpenyakit seribu wajah\u201d karena gejalanya sangat beragam dan sering menyerupai penyakit lain, sehingga kerap sulit dikenali sejak awal. Dalam dunia medis, lupus dikenal dengan nama systemic lupus erythematosus\u00a0(SLE). Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48460,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-48459","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48459","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48459"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48459\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48460"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48459"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48459"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48459"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}