{"id":48280,"date":"2026-05-27T06:59:26","date_gmt":"2026-05-27T06:59:26","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/27\/viral-pemalsuan-riset-ilmiah-di-luar-negeri-ini-tanggapan-mendiktisaintek\/"},"modified":"2026-05-27T06:59:26","modified_gmt":"2026-05-27T06:59:26","slug":"viral-pemalsuan-riset-ilmiah-di-luar-negeri-ini-tanggapan-mendiktisaintek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/27\/viral-pemalsuan-riset-ilmiah-di-luar-negeri-ini-tanggapan-mendiktisaintek\/","title":{"rendered":"Viral Pemalsuan Riset Ilmiah di Luar Negeri, Ini Tanggapan Mendiktisaintek"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/27\/1779864902_71a88b9124722322dc1a.jpg\" alt=\"Viral Pemalsuan Riset Ilmiah di Luar Negeri, Ini Tanggapan Mendiktisaintek\"\/><figcaption>Ilustrasi.(freepik)<\/figcaption><\/figure>\n<p>DI media sosial <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/viral\" title=\"Viral\">viral<\/a> soal skandal <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pemalsuan-riset\" title=\"Pemalsuan Riset\">pemalsuan riset<\/a> ilmiah dalam konferensi ilmiah internasional untuk para ahli pneumonia, ISPPD, yang berlangsung pada 17\u201321 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark.\u00a0Peneliti asal Indonesia yakni\u00a0Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti diduga\u00a0mempresentasikan hasil penelitian yang kemudian diduga tidak valid atau direkayasa. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mendiktisaintek\" title=\"mendiktisaintek\">Mendiktisaintek<\/a>) <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/brian-yuliarto\" title=\"Brian Yuliarto\">Brian Yuliarto<\/a>, mengatakan mendalami\u00a0dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini kami terus melakukan koordinasi dan pendalaman bersama pihak terkait untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya, termasuk status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia,\u201d ungkapnya kepada Media Indonesia, Rabu (27\/5).\u00a0<\/p>\n<p>Namun demikian, Brian mengatakan bahwa masyarakat juga harus mengedepankan prinsip kehati-hatian. Semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/892919\/mendiktisaintek-brian-yuliarto-dorong-riset-kampus-untuk-pembangunan-nasional\" title=\"Mendiktisaintek Brian Yuliarto Dorong Riset Kampus untuk Pembangunan Nasional\" target=\"_blank\">Mendiktisaintek Brian Yuliarto Dorong Riset Kampus untuk Pembangunan Nasional<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKami memahami bahwa kasus seperti ini dikhawatirkan dapat berdampak pada persepsi internasional terhadap integritas peneliti Indonesia. Karena itu, integritas akademik harus menjadi fondasi utama ekosistem pendidikan tinggi dan riset kita. Praktik fabrikasi data, falsifikasi, maupun penyalahgunaan afiliasi akademik tentu tidak dapat dibenarkan,\u201d tegas Brian.\u00a0<\/p>\n<p>Menurutnya Indonesia memiliki sangat banyak peneliti, dosen, mahasiswa, dan inovator yang bekerja secara profesional, menjunjung standar etik dan integritas yang baik, memiliki reputasi, serta terus menghasilkan riset yang diakui secara internasional. Karena itu, kasus yang melibatkan segelintir pihak tidak boleh menutupi capaian dan kerja keras komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan.<\/p>\n<p>\u201cBerdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas,\u201d tuturnya.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/876622\/mendiktisaintek-hasil-riset-harus-dipahami-dan-dimanfaatkan-masyarakat\" title=\"Mendiktisaintek: Hasil Riset Harus Dipahami dan Dimanfaatkan Masyarakat\" target=\"_blank\">Mendiktisaintek: Hasil Riset Harus Dipahami dan Dimanfaatkan Masyarakat<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Indonesia dikatakan memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun BRIN sesuai kewenangannya.<\/p>\n<p>Untuk penelitian yang dilakukan oleh dosen dan peneliti di Indonesia, prosesnya berada dalam koridor pemantauan berkala yang ditujukan untuk menjaga mutu hasil penelitian. Sejak tahap pengajuan proposal, penelitian melalui proses review bertingkat, mulai dari LPPM hingga tim reviewer Kemdiktisaintek. Pada tahap pelaksanaan, laporan kemajuan dan laporan akhir juga dievaluasi dan dimonitoring.<\/p>\n<p>Ia menegaskan bahwa kegiatan penelitian juga harus mematuhi ketentuan etika akademik yang berlaku. Komite etik bertugas memastikan penelitian dijalankan sesuai prinsip etika, termasuk kesesuaian metodologi, penggunaan data, perlindungan subjek penelitian, serta kepatuhan terhadap standar ilmiah. Untuk penelitian yang melibatkan subjek manusia dan hewan, peneliti juga terikat pada ketentuan ethical clearance yang berlaku secara nasional maupun global. Bahkan prosedur dan tata kelola pengujian harus terbuka dan dapat diakses oleh para pemangku kepentingan terkait.<\/p>\n<p>Sementara itu, pada tingkat publikasi internasional, ia mengatakan\u00a0penelitian dalam bentuk artikel ilmiah juga melalui proses editorial, peer review, serta mekanisme koreksi\u00a0apabila ditemukan pelanggaran. Dengan keseluruhan mekanisme tersebut, validitas data, mutu riset, dan integritas publikasi ilmiah diharapkan dapat tetap terjaga.<\/p>\n<p>\u201cNamun, apabila proses-proses tersebut dilewati atau tidak dijalankan dengan benar, tentu hal itu dapat berdampak pada mutu riset dan membuat data penelitian tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,\u201d pungkas Brian.\u00a0<\/p>\n<p>Dugaan kecurangan ini diungkap oleh peneliti Wa Ode Dwi Diningrat yang turut menghadiri konferensi ISPPD tersebut dan mengunggahnya lewat karosel di <em>Instagram.\u00a0<\/em><\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/894291\/viral-pemalsuan-riset-ilmiah-di-luar-negeri-ini-tanggapan-mendiktisaintek\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(freepik) DI media sosial viral soal skandal pemalsuan riset ilmiah dalam konferensi ilmiah internasional untuk para ahli pneumonia, ISPPD, yang berlangsung pada 17\u201321 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark.\u00a0Peneliti asal Indonesia yakni\u00a0Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti diduga\u00a0mempresentasikan hasil penelitian yang kemudian diduga tidak valid atau direkayasa. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48281,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-48280","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48280","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48280"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48280\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48281"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48280"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48280"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48280"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}