{"id":48246,"date":"2026-05-27T05:28:22","date_gmt":"2026-05-27T05:28:22","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/27\/menjaga-ruang-aman-bagi-mereka-yang-menyelamatkan-nyawa\/"},"modified":"2026-05-27T05:28:22","modified_gmt":"2026-05-27T05:28:22","slug":"menjaga-ruang-aman-bagi-mereka-yang-menyelamatkan-nyawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/27\/menjaga-ruang-aman-bagi-mereka-yang-menyelamatkan-nyawa\/","title":{"rendered":"Menjaga Ruang Aman Bagi Mereka yang Menyelamatkan Nyawa"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/27\/1779858934_da74bc9b90da3243cb4b.jpg\" alt=\"Menjaga Ruang Aman Bagi Mereka yang Menyelamatkan Nyawa\u00a0\"\/><figcaption>Ns. Stepanus Maman Hermawan Dosen Program Studi Pendidikan Profesi Ners UKRIDA \u2013 Instructor Network, American Heart Association (AHA) South Asia and China Region(Dok.Pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>SUARA sirene ambulans yang melintas di jalan raya sering kali hanya terdengar sesaat, lalu tenggelam dalam hiruk pikuk aktivitas kota. Namun, di balik suara itu ada perjuangan yang tidak sederhana: seorang pasien yang sedang berpacu dengan waktu, keluarga yang dipenuhi kecemasan, serta tim <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tenaga-kesehatan\" title=\"Tenaga Kesehatan\">tenaga kesehatan<\/a> darurat yang bekerja cepat di tengah tekanan tinggi. Di balik pintu Instalasi Gawat Darurat (IGD), setiap detik dapat menentukan keselamatan seseorang.<\/p>\n<p>Tenaga kesehatan di <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/layanan-emergensi\" title=\"Layanan Emergensi\">layanan emergensi<\/a> merupakan garda terdepan dalam menyelamatkan nyawa. Mereka menangani berbagai kondisi kritis, mulai dari serangan jantung, stroke, kecelakaan, hingga berbagai keadaan yang mengancam jiwa lainnya. Dalam hitungan menit, bahkan detik, mereka dituntut mengambil keputusan penting yang dapat menentukan hidup dan mati seseorang. Namun di balik tanggung jawab besar tersebut, terdapat kenyataan yang sering luput dari perhatian: mereka tidak selalu bekerja dalam kondisi yang aman.<\/p>\n<p>Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa tenaga kesehatan termasuk kelompok pekerja yang memiliki risiko tinggi mengalami kekerasan di tempat kerja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), International Labour Organization (ILO), dan International Council of Nurses (ICN) melaporkan bahwa sekitar 8 &#8211; 38% tenaga kesehatan pernah mengalami kekerasan fisik selama kariernya, sementara kekerasan verbal terjadi dengan angka yang jauh lebih tinggi. Yang lebih mengkhawatirkan, banyak kasus diperkirakan tidak dilaporkan sehingga kondisi sebenarnya dapat lebih besar dari data yang tercatat.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/887395\/idai-tekankan-pentingnya-komunikasi-empati-nakes-untuk-genjot-cakupan-imunisasi\" target=\"_blank\" title=\"IDAI Tekankan Pentingnya Komunikasi Empati Nakes untuk Genjot Cakupan Imunisasi\">IDAI Tekankan Pentingnya Komunikasi Empati Nakes untuk Genjot Cakupan Imunisasi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Fenomena tersebut juga masih ditemukan di Indonesia. Berbagai laporan menunjukkan bahwa tenaga kesehatan masih menghadapi ancaman verbal maupun kekerasan fisik saat menjalankan tugas. Padahal, tenaga kesehatan memiliki hak untuk memperoleh perlindungan hukum dan rasa aman selama memberikan pelayanan. Situasi ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap mereka masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian lebih serius.<\/p>\n<p>Selain ancaman kekerasan, tenaga kesehatan di unit gawat darurat menghadapi beban kerja yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres dan burnout pada tenaga kesehatan meningkat, terutama setelah pandemi covid-19. Beban kerja yang berat, sistem kerja bergilir, tekanan psikologis yang berkepanjangan, serta tuntutan pelayanan yang tinggi dapat memengaruhi kondisi fisik maupun emosional tenaga kesehatan. Mereka yang bekerja di layanan emergensi bahkan termasuk kelompok dengan risiko burnout yang lebih tinggi dibandingkan banyak bidang pelayanan lainnya.<\/p>\n<p>Tekanan tersebut semakin berat dengan meningkatnya kepadatan pelayanan di IGD. Tingginya kebutuhan pelayanan akut, keterbatasan kapasitas rumah sakit, dan meningkatnya jumlah kunjungan dapat memperpanjang waktu tunggu serta meningkatkan tekanan kerja tenaga kesehatan. Di Indonesia, kondisi tersebut dapat menjadi lebih kompleks ketika peningkatan kebutuhan pelayanan belum sepenuhnya diimbangi oleh optimalisasi sistem rujukan, kapasitas tempat tidur, maupun manajemen alur pasien yang efektif.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/jabar\/berita\/884911\/dinas-kesehatan-garut-gelar-imunisasi-vaksin-campak-untuk-1328-tenaga-kesehatan\" target=\"_blank\" title=\"Dinas Kesehatan Garut Gelar Imunisasi Vaksin Campak untuk 1.328 Tenaga Kesehatan\">Dinas Kesehatan Garut Gelar Imunisasi Vaksin Campak untuk 1.328 Tenaga Kesehatan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Risiko yang dihadapi tenaga kesehatan darurat juga tidak terbatas pada lingkungan rumah sakit. Petugas layanan emergensi di lapangan menghadapi berbagai ancaman keselamatan, seperti cedera saat memindahkan pasien, paparan bahaya biologis, kecelakaan kendaraan ambulans, hingga kekerasan saat menjalankan tugas. Lingkungan kerja yang dinamis dan tidak dapat diprediksi menjadikan keselamatan tenaga kesehatan sebagai isu yang memerlukan perhatian serius.<\/p>\n<p>Jika dilihat secara menyeluruh, berbagai tantangan tersebut bukan sekadar persoalan individu, tetapi juga persoalan sistem. Beban kerja yang tinggi, kelelahan, tekanan psikologis, kekerasan di tempat kerja, serta lingkungan kerja yang kurang aman dapat memengaruhi kesejahteraan tenaga kesehatan sekaligus berdampak pada kualitas pelayanan yang diterima pasien.<\/p>\n<p>Hal ini sejalan dengan tema Emergency Medicine Day 2026, yaitu \u201cSafe Space for Emergency Medicine Teams.\u201d Ruang aman bagi tenaga kesehatan darurat tidak hanya berarti perlindungan dari ancaman fisik, tetapi juga mencakup lingkungan kerja yang suportif, budaya organisasi yang sehat, sistem kerja yang adil, serta dukungan kesehatan mental yang memadai. Mereka membutuhkan tempat kerja yang memungkinkan untuk bekerja dengan aman, dihargai, didukung, dan tidak menghadapi tekanan secara sendirian.<\/p>\n<p>Mewujudkan ruang aman bagi tenaga kesehatan memerlukan upaya bersama. Pemerintah memiliki peran penting dalam memperkuat kebijakan dan perlindungan terhadap tenaga kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan perlu membangun budaya keselamatan yang kuat, menerapkan sistem pelaporan insiden yang efektif, serta menyediakan dukungan psikososial yang berkelanjutan. Masyarakat pun memiliki peran yang tidak kalah penting melalui peningkatan literasi kesehatan, empati, dan penghargaan terhadap profesi kesehatan.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, keselamatan tenaga kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keselamatan pasien. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan prinsip \u201c<em>Safe health workers, safe patients<\/em>\u201d, yang menunjukkan bahwa tenaga kesehatan yang bekerja dalam lingkungan yang aman dan suportif akan mampu memberikan pelayanan yang lebih optimal dan berkualitas.<\/p>\n<p>Dalam momentum Emergency Medicine Day 2026, perhatian tidak cukup hanya diberikan pada apresiasi terhadap dedikasi tenaga kesehatan darurat, tetapi juga pada upaya memastikan bahwa mereka bekerja dalam lingkungan yang aman, manusiawi, dan bermartabat. Sebab mereka yang setiap hari berjuang menyelamatkan nyawa, juga berhak merasa aman. (H-4)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/894277\/menjaga-ruang-aman-bagi-mereka-yang-menyelamatkan-nyawa\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ns. Stepanus Maman Hermawan Dosen Program Studi Pendidikan Profesi Ners UKRIDA \u2013 Instructor Network, American Heart Association (AHA) South Asia and China Region(Dok.Pribadi) SUARA sirene ambulans yang melintas di jalan raya sering kali hanya terdengar sesaat, lalu tenggelam dalam hiruk pikuk aktivitas kota. Namun, di balik suara itu ada perjuangan yang tidak sederhana: seorang pasien [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":48247,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-48246","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48246","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48246"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48246\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48247"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48246"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48246"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48246"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}