{"id":47743,"date":"2026-05-26T05:38:54","date_gmt":"2026-05-26T05:38:54","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/26\/cegah-pubertas-dini-pakar-ingatkan-risiko-bpa-dari-wadah-plastik-sejak-rencana-kehamilan\/"},"modified":"2026-05-26T05:38:54","modified_gmt":"2026-05-26T05:38:54","slug":"cegah-pubertas-dini-pakar-ingatkan-risiko-bpa-dari-wadah-plastik-sejak-rencana-kehamilan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/05\/26\/cegah-pubertas-dini-pakar-ingatkan-risiko-bpa-dari-wadah-plastik-sejak-rencana-kehamilan\/","title":{"rendered":"Cegah Pubertas Dini, Pakar Ingatkan Risiko BPA dari Wadah Plastik sejak Rencana Kehamilan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/26\/1779773479_fc33457ffec37a16df86.jpg\" alt=\"Cegah Pubertas Dini, Pakar Ingatkan Risiko BPA dari Wadah Plastik sejak Rencana Kehamilan\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>PENCEGAHAN pubertas dini perlu dimulai sejak rencana kehamilan, termasuk dengan mengurangi paparan Bisphenol A atau <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bpa\" title=\"BPA\">BPA<\/a> dari galon dan kemasan plastik makanan-minuman yang digunakan ulang.\u00a0<\/p>\n<p>Dalam Podcast Raditya Dika\u00a0bertajuk <em>Akibat Puber Terlalu Cepat<\/em>, pakar obstetri dan ginekologi Prof Budi Wiweko, menekankan bahwa kehamilan harus dipersiapkan.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cPerencanaan kehamilan itu harus direncanakan. Gak zamannya lagi hamil itu kebetulan, harus direncanakan,\u201d katanya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/814075\/usia-galon-tidak-berpengaruh-pada-terjadinya-migrasi-bpa\" title=\"Usia Galon tidak Berpengaruh Pada Terjadinya Migrasi BPA\" target=\"_blank\">Usia Galon tidak Berpengaruh Pada Terjadinya Migrasi BPA<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ahli yang juga disapa Prof. Iko, menjelaskan bahwa paparan zat pengganggu hormon perlu dihindari sebelum dan selama kehamilan, terutama pada fase awal. Ia menyebut BPA atau Bisphenol A sebagai bagian dari zat yang harus diperhatikan.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cKetika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>BPA dari galon tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan konsumsi anak, tetapi juga kesiapan keluarga sejak sebelum anak lahir. BPOM RI sendiri telah menetapkan batas migrasi maksimal 0,6 bagian per juta atau mg\/kg dalam kemasan pangan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/807011\/bahan-kimia-berisiko-pemicu-keguguran-berulang-pfas-pestisida-logam-berat-dan-bpa\" title=\"Bahan Kimia Berisiko Pemicu Keguguran Berulang: PFAS, Pestisida, Logam Berat, dan BPA\" target=\"_blank\">Bahan Kimia Berisiko Pemicu Keguguran Berulang: PFAS, Pestisida, Logam Berat, dan BPA<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Prof. Iko kemudian menjelaskan program Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) bernama \u201cSelamatkan Perempuan Indonesia\u201d. Menurut dia, kesehatan perempuan harus dibangun dari hulu sampai hilir.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSelamatkan Perempuan Indonesia mulai dari hulu sampai ke hilir, mulai dari perencanaan kehamilan,\u201d ucapnya.\u00a0<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa persiapan tidak cukup dimulai saat bayi lahir. \u201cSeribu hari pertama kehidupan saya kurang setuju, harusnya mulai seratus hari sebelum hamil itu sudah disiapkan, termasuk BPA, termasuk <em>endocrine disrupting chemical<\/em> (zat kimia pengganggu hormon) lainnya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Risiko paparan itu juga dikaitkan dengan kesehatan reproduksi anak di kemudian hari. Prof. Iko mengatakan ibu hamil yang terpapar zat pengganggu hormon pada tiga bulan pertama dapat membawa risiko bagi anak yang dikandungnya. Ia menyebut gangguan seperti kista endometriosis, kista coklat, PCOS, hingga kanker sebagai contoh masalah yang perlu diwaspadai.<\/p>\n<p>Dari sisi psikologi, Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai pencegahan pubertas dini juga berhubungan dengan kesiapan menjadi orang tua.<\/p>\n<p>\u201cPubertas dini ini kan sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas aja, justru dari sebelum-sebelumnya kan, ketika mereka mau jadi orangtua,\u201d ujarnya.\u00a0<\/p>\n<p>Ratih mengatakan orang tua perlu memahami kebutuhan dasar anak, bukan hanya sekolah. Ia menekankan pentingnya jam tidur, jam makan, dan apa yang dikonsumsi, termasuk menghindari zat seperti BPA.<\/p>\n<p>Karena itu, pencegahan pubertas dini perlu ditempatkan sebagai upaya keluarga yang berkelanjutan. Sejak rencana kehamilan, masa hamil, hingga pola asuh, orangtua dapat memperhatikan sumber paparan dari kemasan makanan-minuman, termasuk galon. Pilihan kemasan bebas BPA menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan hormon dan reproduksi anak. (Put)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/893919\/cegah-pubertas-dini-pakar-ingatkan-risiko-bpa-dari-wadah-plastik-sejak-rencana-kehamilan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Magnific) PENCEGAHAN pubertas dini perlu dimulai sejak rencana kehamilan, termasuk dengan mengurangi paparan Bisphenol A atau BPA dari galon dan kemasan plastik makanan-minuman yang digunakan ulang.\u00a0 Dalam Podcast Raditya Dika\u00a0bertajuk Akibat Puber Terlalu Cepat, pakar obstetri dan ginekologi Prof Budi Wiweko, menekankan bahwa kehamilan harus dipersiapkan.\u00a0 \u201cPerencanaan kehamilan itu harus direncanakan. Gak zamannya lagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":47744,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-47743","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47743","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47743"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47743\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47744"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47743"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47743"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47743"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}